15. INT. DEPAN RUANG MANAJER STRATEGI – SIANG HARI
Aruna berdiri memeluk erat berkas yang ingin dia konsultasikan dengan Fathan. Sesekali Aruna mengatur napasnya untuk mengurangi kegugupan.
Aruna mengetuk pintu.
ARUNA
Permisi pak, boleh masuk?
FATHAN
Silakan masuk
15. INT. RUANG MANAJER STRATEGI – SIANG HARI
Aruna membuka pintu pelan dan masuk. Dilihatnya Fathan sedang melakukan panggilan.
Fathan melihat Aruna yang perlahan masuk, dengan gerakan mulutnya dan memperagakan bahwa dia masih dalam pannggilan telepon.
FATHAN
Duduk dulu, saya telepon sebentar lagi.
Aruna mengangguk dan menarik kursi di depan meja kerja Fathan sambil melihat-lihat ruangan Fathan.
Kegiatan Aruna yang memperhatikan ruangannya menarik perhatian Fathan saat sedang melanjutkan teleponnya. Dia tersenyum tipis melihat tingkah Aruna
FATHAN
Baik pak. Baik, saya usahakan dulu pak. Baik. Selamat siang pak.
Fathan menutup teleponnya dan memfokuskan pandangannya ke arah Aruna.
FATHAN
Jadi ada apa Aruna?
Aruna menyerahkan lembar pendaftarannya ke Fathan. Fathan menerima lembaran Formulir itu sambil membacanya sekilas.
ARUNA
Saya ingin menyerahkan formulir pendaftaran pak, sekalian ingin menanyakan terkait sistem pengerjaannya.
FATHAN
Ya, ada apa?
ARUNA
Kalau misalnya selama satu bulan itu, saya kerjakan premis, synopsis dan karakter tokoh untuk agenda kompetisi ini di luar kota boleh pak?
FATHAN
Boleh-boleh aja. Kamu bisa ngomong ke HRD, kamu juga buat kesepakatan dengan pembimbingmu dan jangan lupa kasihkan surat izin itu ke saya.
Aruna gembira saat mendengar perkataan dari Fathan, kemudian dia dia menjawab ucapan Fathan dengan penuh semangat.
ARUNA
Baik pak.
FATHAN
Ada lagi?
Aruna menggeleng dengan kuat saking senangnya.
FATHAN
Oh ya, jangan lupa kalau ada kendala segera hubungi saya.
ARUNA
Baik pak, saya akan segera menghubungi bapak jika ada kendala kecil atau pun besar. Terima kasih pak. Kalau begitu saya pamit dulu pak. Permisi pak.
FATHAN
Ya, sama-sama, silakan.
Aruna pergi keluar dari kantor. Fathan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Aruna tadi sambil mengulas senyuman.
Tidak lama setelah kepergian Aluna ponsel Fathan berbunyi. Fathan melihat, bahwa Ayahnyalah yang menelepon. Segera diangkatnya.
IRFAN (V.O.)
Assalamu’alaikum, Nak. Gimana kabarnya?
FATHAN (V.O.)
Waalaikumsalam, Bi. Kabar baik, Abi dan Umi gimana kabarnya? Oh ya tumbern juga ini Umi sepekan nggak ada telepon Fathan, biasa juga setiap hari.
IRFAN (V.O.)
Abi baik, ini dia permasalahan abi telepon kamu tanpa sepengetahuan umi. Sudah sepekan umi jatuh sakit, kemarin umi benar-benar harus dilarikan ke rumah sakit karena jatuh pingsan. Abi ini ke kafetaria, makanya bisa telepon kamu.
FATHAN (V.O.)
Kok Abi baru kasih kabar Fathan sih?
IRFAN (V.O.)
Karena Umi nggak mau kamu khawatir dan ganggu kerjaan kamu.
FATHAN (V.O.)
Sekarang Umi di rumah sakit mana? Sore ini Fathan pulang mau lihat umi.
IRFAN (V.O.)
Umi ada di rumah sakit di Yogya, nanti abi kirimkan ruang apa dan nomornya.
FATHAN (V.O.)
Ya bi, Fathan tunggu. Terima kasih bi, sudah kabari Fathan.
IRFAN (V.O.)
Ya, hati-hati juga ya.
FATHAN (V.O.)
Ya bi, assalamu’alaikum bi.
IRFAN (V.O.)
Waalaikumsalam.
Perasaan Fathan berkecamuk, dia ambil gelas minum yang ada di mejanya dan minum untuk sekadar menenangkan dirinya. Kemudian dia taruh kembali gelas itu pelan.
MATCH CUT TO :
17. INT. RUANG RAWAT INAP RUANG SEHATI NO 7 – SIANG HARI
Atiya menaruh gelas air minum yang tadi diambilkan suaminya. Dia masih setengah berbaring, menatap suaminya yang duduk dikursi samping tempat tidurnya dengan muka harap-harap cemas saat suaminya mengakhiri pembicaraan telepon dengan anaknya.
ATIYA
Gimana Bi, berhasil?
IRFAN
Ya dong Mi, Alhamdulillah. Sore ini kemungkinan dia akan ke Yogja.
ATIYA
Akhirnya, tapi masa harus nunggu Uminya sakit gini sih baru mau pulang aja.
IRFAN
Nggak papa Mi, yang penting masih ingat pulang aja.
ATIYA
Minta tolong sama dokter dan suster sudah beres, kan?
IRFAN
Beres Mi, tinggal eksekusi. Semoga masuk perangkap.
Atiya mengacungkan dua jempol tangan untuk suaminya dengan senyuman lebar.
ATIYA
Abi memang yang terbaik.
Dengan candaan Irfan menyentuh hidungnya, memperagakan seperti sosok yang bisa diandalkan.
IRFAN
Abii gituuu… haha
ATIYA
Huuuuuuu
IRFAN
Kok malah disorakin sih mi?
ATIYA
Nggak nyorakin bi, tapi bikin backsoundnya gitu.
IRFAN
Umi ah ada-ada aja. Ya sudah Umi istirahat aja dulu.
ATIYA
Ya, Bi.
Atiya pun kembali berbaring.