Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Tusukan yang sudah entah berapa kali menerjang perutku. Darahku yang hangat sudah mengalir keluar entah berapa banyak. Oh Tuhan, apakah ini akan menjadi akhir hidupku? Tapi bagaimana mungkin? Masih banyak hal yang belum aku kerjakan. Aku juga belum bertobat dan berbalik padaMu. Sudah lama aku menjauh dariMu, apakah ini adalah hukuman untukku? Bolehkah aku minta untuk kali ini saja, berikan aku kesempatan?
Para pelaku ini tidak memberiku ampun. Oh, aku memang tidak minta ampun. Sampai akhir pun aku akan mempertahankan diriku, aku tidak salah. Mereka lah yang bersalah. Tapi pantaskah mereka berbuat demikian? Aku sudah terkapar, aku melihat mereka melarikan diri. Aku berusaha untuk bangkit, dengan tubuh berlumuran darah. Kepalaku sudah sangat sakit, aku ingin sekali tidur. Aku harus ditemukan dan ditolong oleh seseorang. Tapi siapa yang dapat menolongku dini hari begini. Orang stress mana yang masih belum tidur. Apa aku menyerah saja.
Aku sudah tidak sanggup, penglihatanku mulai menjadi gelap. Aku seolah diliputi ketenangan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Namun aku seperti masih sanggup untuk mengajak Tuhan berdiskusi. Tuhan, sejak dulu aku tidak pernah merasakan keadilan dalam hidup. Orangtuaku bercerai disaat aku masih sangat kecil. Aku tidak memiliki kasih sayang seorang ayah. Bahkan baru bisa dilihat oleh ayahku setelah aku berumur tujuh belas tahun. Aku tidak memiliki kasih sayang seorang ibu, tidak lama setelah bercerai dari ayah, dia menikah lagi dan memiliki keluarga baru. Aku harus berjuang dengan sangat keras untuk diterima. Aku bahkan tidak berani pergi sekolah karena seorang guru yang menakutkan. Karena kecelakaan kerja jariku bahkan tidak sempurna. Oh bahkan hari ini ada daging yang terlepas dari tanganku karena aku menangkis serangan para bandit gila itu. Aku tidak pernah punya tempat pulang selama aku hidup. Aku bahkan tidak pulang ke hadiratMu. Sekarang apa? Haruskah aku mengalami ketidakadilan ini berlanjut sampai akhir hidupku? Tuhan Kau Maha Adil, tapi apakah keadilan itu tidak pernah untukku?
Aku mendengar seseorang bergegas ke arahku. Orang itu berteriak, entah sepertinya memanggil namaku. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengangkatku ke atas sepeda motornya. Mungkin aku tidak jadi mati. Aku dengan nyawa yang sudah tinggal diujung, aku berusaha mendengar suara Tuhan yang tadi kuajak berdiskusi. Untuk pertama kalinya aku berusaha mendengarNya. Aku mengasihimu, pulanglah. Hanya itu yang aku bisa dengar. Kalau begitu berikan aku keadilan Tuhan. Yang mampu keluar dari mulutku dan mungkin mampu didengar samar oleh si penolong ini, Tuhan tolonglah aku.
Aku merasakan kedamaian yang tidak pernah kurasakan selama hidupku. Ada cahaya yang sangat terang melingkupiku, lalu aku menutup mata. Entah bagaimana, seketika seperti ada sesuatu merampasku lalu membuat aku mendarat entah dimana.
Para pelaku ini tidak memberiku ampun. Oh, aku memang tidak minta ampun. Sampai akhir pun aku akan mempertahankan diriku, aku tidak salah. Mereka lah yang bersalah. Tapi pantaskah mereka berbuat demikian? Aku sudah terkapar, aku melihat mereka melarikan diri. Aku berusaha untuk bangkit, dengan tubuh berlumuran darah. Kepalaku sudah sangat sakit, aku ingin sekali tidur. Aku harus ditemukan dan ditolong oleh seseorang. Tapi siapa yang dapat menolongku dini hari begini. Orang stress mana yang masih belum tidur. Apa aku menyerah saja.
Aku sudah tidak sanggup, penglihatanku mulai menjadi gelap. Aku seolah diliputi ketenangan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Namun aku seperti masih sanggup untuk mengajak Tuhan berdiskusi. Tuhan, sejak dulu aku tidak pernah merasakan keadilan dalam hidup. Orangtuaku bercerai disaat aku masih sangat kecil. Aku tidak memiliki kasih sayang seorang ayah. Bahkan baru bisa dilihat oleh ayahku setelah aku berumur tujuh belas tahun. Aku tidak memiliki kasih sayang seorang ibu, tidak lama setelah bercerai dari ayah, dia menikah lagi dan memiliki keluarga baru. Aku harus berjuang dengan sangat keras untuk diterima. Aku bahkan tidak berani pergi sekolah karena seorang guru yang menakutkan. Karena kecelakaan kerja jariku bahkan tidak sempurna. Oh bahkan hari ini ada daging yang terlepas dari tanganku karena aku menangkis serangan para bandit gila itu. Aku tidak pernah punya tempat pulang selama aku hidup. Aku bahkan tidak pulang ke hadiratMu. Sekarang apa? Haruskah aku mengalami ketidakadilan ini berlanjut sampai akhir hidupku? Tuhan Kau Maha Adil, tapi apakah keadilan itu tidak pernah untukku?
Aku mendengar seseorang bergegas ke arahku. Orang itu berteriak, entah sepertinya memanggil namaku. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mengangkatku ke atas sepeda motornya. Mungkin aku tidak jadi mati. Aku dengan nyawa yang sudah tinggal diujung, aku berusaha mendengar suara Tuhan yang tadi kuajak berdiskusi. Untuk pertama kalinya aku berusaha mendengarNya. Aku mengasihimu, pulanglah. Hanya itu yang aku bisa dengar. Kalau begitu berikan aku keadilan Tuhan. Yang mampu keluar dari mulutku dan mungkin mampu didengar samar oleh si penolong ini, Tuhan tolonglah aku.
Aku merasakan kedamaian yang tidak pernah kurasakan selama hidupku. Ada cahaya yang sangat terang melingkupiku, lalu aku menutup mata. Entah bagaimana, seketika seperti ada sesuatu merampasku lalu membuat aku mendarat entah dimana.
Tokoh Utama
Raka Hardianta
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
14
Tentang Penulis
Dandelion Archive
-
Bergabung sejak 2022-07-16
Telah diikuti oleh 28 pengguna
Sudah memublikasikan 4 karya
Menulis lebih dari 7,761 kata pada novel
Rekomendasi dari
Rekomendasi