Hades

Angkasa yang mulai menghitam menyelimuti tapak kaki seorang pria muda, ketukan berirama cepat pertanda pria muda ini sedang terburu menuju ke sebuah dermaga di ujung gelap di tepi terang.

Keberanian sebagai seorang pria luruh pada mata-mata penatap tajam dari dalam kegelapan. Mata-mata merah kehidupan sekarat yang menemani sang pria muda menjadikan tiap langkah bagai nestapa, hingga di akhir telak membuatnya takluk pada sang bayang.

Tiba di sana, dengan sengalan nafas akibat rasa takut, dia terdiam dan menatap satu-satunya pria lain selain dia seorang. Pria tua berwajah pucat, berdiri di ujung sebuah perahu kecil dengan dayung di tangan.

"Hendak diantar Tuan?" Tawar sang pria tua.

"Tentu," balas tokoh kita, "berapa harga yang harus kubayar?"

"Kehidupanmu."

Harga terbayar perjanjian, pria muda menaiki perahu dan pria tua mulai mendayung mengantarkannya, menumbuhkan terkaan pada si penumpang bahwa dia terbebas dari hidup susah, menghantar mimpi utopia. Sementara pemandangan di bawah laut sana adalah teriak-teriak dari kehidupan sekarat, meronta berkat pengharapan mendapat pelayanan serupa pria muda itu, serentak membuat sadar pada satu hal.

Kematian adalah pengantar tidur terbaik.

9 disukai 3 komentar 1.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Yah gimana yah, susah aja jelasinnya bro
@ipusbell4 : kenapa?
Aku terbungkam bacanya
Saran Flash Fiction