Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
1
Luka Kinan
Misteri
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Namanya Kinarsih. Aku memanggilnya Kinan, bukannya Kinar, karena ia sendiri yang bilang kalau ia benci dipanggil begitu.

"Apa dengan merubah panggilan nama bisa membuatmu lupa dengan lukamu?" Aku pernah menanyakannya kepadanya pada suatu hari. Tapi ia menjawabnya dengan gelengan.

"Kalo begitu apa masih ada gunanya?"

"Entahlah," bantahnya seolah tak peduli, tapi setelahnya dia diam membisu, tak lagi menggubris kehadiranku.

Kenangan memang begitu, memberi rasa manis jika indah, tapi saat timbul luka semua rasa manis menjadi pahit.

Aku pikir apa yang dirasakan Kinan cuma soal kenangan luka, tak lebih dari itu.

Sampai suatu malam ia meneleponku. Tapi anehnya, ia bukan mau curhat, tapi hanya memberiku sebuah pertanyaan aneh.

“Kalau suatu hari aku lupa siapa kamu, kamu akan marah?”

Tentu saja aku menertawakan pertanyaannya yang tak biasa itu, karena menurutku itu aneh.

“Kenapa harus marah?”

“Karena mungkin aku memang harus melupakan semuanya.”

Lebih aneh lagi karena setelah itu telepon terputus. Ketika aku mencoba menghubunginya kembali, ponselnya tidak aktif.

Didera rasa penasaran, besok paginya aku mendatangi rumahnya. Ibunya yang membuka pintu bukannya Kinan seperti biasanya.

“Cari siapa?”

“Kinan, Bu.”

Perempuan tua itu memandangku beberapa detik, dengan pandangan aneh, seolah seperti sedang memikirkan sesuatu lalu menggeleng.

“Di sini tidak ada Kinan.”

Aku tersenyum, mengira ia sedang bercanda.

“Bu, saya temannya. Saya sering ke sini kok.”

Wajahnya justru semakin pucat.

“Jangan pernah panggil nama itu lagi,” katanya kemudian, masih dengan wajah yang sulit aku terjemahkan maksudnya.

Aku terdiam, aku merasa serba salah karena sekarang aku merasa ada sesuatu yang memang salah.

Di ruang tamu, mataku menangkap sebuah foto yang selama ini tidak pernah kulihat. Foto seorang gadis yang wajahnya persis seperti Kinan. Ia berdiri di antara kedua orang tuanya, mengenakan seragam sekolah. Aku menunjuk foto itu.

“Itu Kinan, kan?” Ibunya tidak menjawab, ia justru bergegas mengambil foto tersebut, membaliknya, lalu meletakkannya menghadap dinding.

“Namanya Kinar.”

Tiba-tiba aku merasakan tengkukku meremang.

“Kinan sendiri yang bilang kepada saya bahwa dia benci dipanggil Kinar.”

Ibunya menatapku lama, dengan pandangan yang membuatku gentar.

“Kamu bilang Kinan yang mengatakan itu?” Kali ia yang justru berbalik bertanya.

Aku mengangguk.

“Sejak kapan kamu mengenalnya?”

Aku menyebutkan tahun ketika pertama kali bertemu dengannya.

Perempuan itu tiba-tiba seperti panik, tubuhnya merosot dan tiba-tiba terduduk lemas, tangannya gemetar.

“Tidak mungkin.”

“Ada apa, Bu?”

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Kinar meninggal tiga tahun lalu.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu, mungkin karena otakku menolak menerimanya dengan sesuatu yang tiba-tiba tapi sulit aku terima dengan akal sehatku.

Mungkin juga karena selama ini aku terlalu percaya kepada seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar kukenal.

“Tidak mungkin,” kataku akhirnya.

Ibunya berdiri dan berjalan menuju sebuah lemari tua, dari dalamnya ia mengambil sebuah kotak kayu.

“Kalau begitu, kamu harus melihat ini.”

Kotak itu dibuka, di dalamnya ada beberapa benda, gelang, kartu pelajar, selembar kain putih, dan sebuah buku catatan kecil.

Aku mengambil buku itu, halaman pertamanya hanya berisi satu kalimat.

Aku tidak takut mati. Aku hanya takut setelah mati masih ada seseorang yang memanggilku Kinar.

Tanganku mendadak dingin, tapi aku memaksakan terus membalik halaman berikutnya. Tapi isinya semakin membuat dadaku sesak, karena di halaman terakhir, Kinar menulis namaku.

Memang bukan nama lengkap, tapi hanya nama panggilan yang selama ini dipakai Kinan kepadaku, dengan sebuah catatan lain di bawahnya;

Kalau suatu hari dia datang mencariku, jangan beri tahu dia bahwa aku sudah mati.

Aku menatap ibu Kinar dengan rasa tidak percaya.

“Siapa yang Kinar maksud dengan ‘dia’?”

Perempuan itu tidak menjawab, ia justru bertanya dengan suara sangat pelan,

“Selama mengenal Kinan, apakah dia pernah memperkenalkanmu kepada seseorang bernama Kinar?”

Aku mengerutkan kening.

“Kinar itu ya dirinya sendiri, Bu.”

Perempuan itu menggeleng.

“Bukan.”

Ia menunjuk foto yang tadi dibaliknya.

“Yang meninggal itu Kinar.”

Aku merasa seluruh ruangan mendadak kehilangan udara.

“Lalu Kinan siapa?”

Ibunya menatapku, dan di dalam hati saat aku menunggu jawabannya, aku berharap perempuan itu sedang berbohong.

“Kinan adalah nama yang dipakai putri saya setelah saudara kembarnya meninggal.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa, karena tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Ketika pertama kali aku bertemu Kinan, ia pernah mengatakan kepadaku bahwa ia tidak suka bercermin terlalu lama. Saat itu aku menganggapnya aneh, tapi sekarang aku baru mengerti.

Ternyata ia bukan takut melihat dirinya sendiri, tapi ia takut melihat seseorang yang wajahnya sama persis dengan orang yang sudah meninggal.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi