Aku mengintip laci mejaku yang penuh dengan stiker warna-warni, lacinya begitu penuh sampai tak jarang rasanya sulit untuk kututup—mungkin ada ratusan di sana. Bentuknya macam-macam—bintang berwarna-warni, apel merah dan hijau, wajah tersenyum dengan pipi merah muda.
Dulu, setiap pagi sebelum kelas dimulai, aku menyusunnya rapi di atas meja kecil di ruang guru. Anak-anak tahu, satu stiker berarti satu keberanian kecil: berani mengangkat tangan, berani mengikat tali sepatu sendiri, berani tidak menangis saat ibunya pulang setelah mengantar.
Aku tidak menyangka kini stiker-stiker itu hanya menumpuk, diam, tak pernah lagi berpindah tangan. Tak ada lagi senyum-senyum hangat yang menyambut untukku setelah stiker ini kuberikan untuk mereka.
Dokter menyampaikannya dengan suara datar, seperti sedang membacakan ramalan cuaca. Teman dan tetangga menjengukku dengan masker pada beberapa hari pertama, lalu setelahnya mereka tidak lagi datang.
“Sementara waktu,” kata dokter, tapi ia tidak menatapku ketika mengucapkan itu. Aku mengangguk, seperti murid yang patuh. Sejak hari itu, duniaku menyempit. Hanya seputar kamar, dapur dengan lebar tidak sampai dua meter, ruang TV, dan cucian yang menumpuk karena aku terlalu lelah untuk sekedar mencuci.
Aku duduk di kursi yang menghadap jendela luar. Kursi itu menghadap halaman kecil yang jarang kupedulikan sebelumnya. Rumput tumbuh tidak rata, tanahnya sering basah meski tidak hujan. Dari sana, aku bisa melihat pohon-pohon di kejauhan, berdiri seperti penjaga yang tidak pernah bergeser tempat.
Bahkan waktuku rasanya terhenti. Aku berhenti menghitung hari di kalender. Jam dinding terus berdetak tapi aku tak pernah tahu ke mana arahnya pergi.
Sampai musim itu datang.
Agustus. Hujan pertama turun, seperti ragu-ragu. Titik-titik air menempel di kaca jendela, memburamkan pandangan. Aku duduk lama seperti biasa, menunggu sesuatu yang bahkan tidak kutahu apa. Ketika hujan reda, aku masih di sini.
Saat itulah aku melihatnya.
Seekor kucing duduk di antara semak tanpa mempedulikan genangan di sekitarnya. Bulunya berwarna oren pucat, dengan mata sehijau batu giok. Dia tidak mengeong, juga tidak mendekat. Hanya menatap dari jarak yang cukup jelas untuk kami bisa saling menatap.
Aku menempelkan telapak tangan ke kaca. Kucing itu mengedip pelan, tapi tetap diam. Ada jarak setipis kaca di antara kami, tapi anehnya aku tidak merasa sendirian.
Hari berikutnya setelah turun hujan, aku menggeser kursiku untuk duduk di tempat yang sama. Dan kucing itu datang lagi. Duduk menunggu, lalu pergi ketika langit berwarna jingga.
Entah kenapa, aku membuka laci dan mengambil satu stiker berbentuk bintang. Kutarik sedikit lapisan belakangnya dan menempelkannya di sudut kaca jendela. Bintang kecil itu tampak mencolok di antara bayangan pohon dan sisa titik air hujan. Aku tersenyum kecil, seperti baru saja menyelesaikan kebiasaan lama.
Sejak hari itu, kami memiliki kebiasaan.
Setiap turun hujan aku akan menunggunya reda, setelah hujan reda, kucing itu kembali. Kadang duduk lama di sana, kadang hanya sebentar. Aku juga mulai banyak bercerita padanya. Soal arti warna stiker yang kutempel hari ini untuknya, tentang hujan yang turun hari ini, dan… tentang rasa sakit yang kutanggung.
Aku tidak tahu apakah dia mengerti atau tidak, tapi dia terlihat selalu setia mendengar setiap kalimatku. Tapi kehadirannya kini membuat hari-hari terasa punya bentuk. Cucian yang menumpuk juga mulai kukerjakan perlahan.
Stiker-stiker di kaca bertambah. Bintang kuning, merah dan hijau, apel merah, wajah tersenyum. Aku menempelkannya setiap kali kucing itu datang, sebagai penanda bahwa hari itu telah kulewati. Bahwa aku masih bisa menunggu sesuatu. Bahwa aku masih sanggup menunggu hari berikutnya.
Hujan berlangsung lama tahun ini. Terkadang hanya sebentar, berlangsung lama dengan badai kecil yang membuatku khawatir dia tidak datang kemari karenanya. Tapi pada akhirnya dia tetap datang.
Kadang aku membayangkan kucing itu punya rumah lain, dunia lain, yang tidak pernah bisa kucapai. Dunia tanpa kursi, tanpa jendela, tanpa diagnosis dokter. Dunia yang selalu bergerak.
Suatu sore, hujan turun lebih singkat dari biasanya. Ketika reda, aku membuka tirai dengan cepat, seperti takut terlambat. Kucing itu tidak ada. Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh. Hingga senja mulai turun.
Mungkin hari ini dia datang terlambat, pikirku.
Esoknya hujan kembali turun, lebih cepat dari biasanya. Aku tetap duduk menunggu di dekat jendela kamar menggenggam stiker bintang di tanganku. Tapi kucing itu tetap tak terlihat setelah reda. Hari berikutnya tetap sama. Dan hari setelahnya juga.
Laci stiker mulai Kututup kembali. Aku tidak mau bergantung pada harapan yang wujudnya sendiri pun aku tak tahu. Aku mulai menyadari sesuatu. Bahkan semua yang sudah menjadi kebiasaan pun belum tentu akan berlanjut selamanya.
Suatu sore, hujan tidak turun sama sekali. Langit hanya mendung, lalu perlahan cerah. Aku tetap duduk di depan jendela, meski tidak ada alasan lagi untuk menunggu. Dunia di luar tampak sama saja. Rumput hijau dan beberapa bagian kering, pohon berdiri, tidak ada yang berubah.
Aku mengangkat tumpukan stiker di laciku, mengambil yang paling bawah, yang paling terlupakan. Sebuah stiker bintang berwarna kuning yang warnanya hampir pudar. Aku menempelkannya pada jendela untuk terakhir kalinya.
Bukan sebagai tanda kedatangan. Melainkan sebagai penanda bahwa aku pernah menunggu, dan pernah ditemani. Dunia di balik jendela tetap berjalan. Dan aku, di dalam sini, belajar menerima bahwa persahabatan tidak selalu pergi dengan perpisahan—terkadang bersama hujan.
Kadang ia hanya tidak datang lagi.