Dre memulai harinya dengan kesibukan yang tertata. Bukannya ia membenci ketenangan tapi ia takut kehilangan segalanya. Jadi, sibuk adalah kunci. Dre tidak pernah keberatan kalau lembur. Suara mesin printer, kubikelnya yang sempit tapi nyaman, bahkan aroma kopi di udara. Semua itu menjadi tanda kalau hidup masih terus berjalan. Tapi hari ini ia harus pulang cepat karena puasa Ramadhan.
Dre menghela napas. Tepukan pelan di bahu membuatnya menoleh.
“Dre, nasi tempong, yuk”, ujar Ner dengan senyum di wajahnya.
Dre langsung mengiakan. Kesempatan ini datang tepat waktu. Setidaknya, ia bisa menghabiskan waktu di luar rumah.
“Dre, lo mau gue kenalin lagi nggak sama cowok?” tanya Ner, di sela mereka makan.
“Please, Ner. Yang kemarin aja zonk.”
“Kali ini nggak. Gue jamin. Dia penasaran sama lo. Well, gue ceritain sedikit tentang lo ke dia. Mau kan, Dre?”
Dre menatap mata bulat Ner. Bagi Dre, ia harus mampu berdiri sendiri dan stabil. Tapi ia belum siap kehilangan sahabat seperti Ner kalau ia menolaknya. Tak lama, Dre mengiakan. Wajah Ner berseri-seri mendengarnya.
Setelah nasi tempong yang membuatnya kekenyangan, Dre memutuskan pulang. Mobilnya sedang di bengkel jadi ia memesan ojek online. Mengucapkan selamat tinggal pada Ner, Dre segera naik ke motor.
Selama perjalanan, tidak ada percakapan yang terjalin. Ini menciptakan hening yang Dre benci. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Tentang dirinya yang selalu sibuk. Tentang orangtuanya yang entah di mana. Juga tentang hidup Ner yang indah.
Dre mengusap pipinya yang basah seiring perjalanan itu yang tiba di tujuan. “Ah, sejak kapan aku jadi mellow begini?” ujar Dre sambil memberikan uang pada driver itu.
Dre segera menghambur ke balkon. Sejauh mata memandang, hanya ada rumah penduduk dan gedung pencakar langit yang angkuh. Dre merasa asing tapi anehnya ia merasa damai. Wanita itu menyadari kalau ia terlalu sibuk dengan dunia luar. Ia lupa memberi ruang buat mendengarkan dirinya. Dre tahu ia sudah memberi terlalu banyak dan hadir buat orang lain. Tapi dirinya? Nggak pernah.
“Aku udah jahat sama diriku.”
Dre tahu kesibukan yang ia jalani itu hanya topeng yang menutupi apa yang ia hadapi sebenarnya. Dre takut kehilangan orang lain. Tapi hari ini ia memilih dirinya lagi. Dre mengambil ponselnya dan mengetik pesan di kolom chat.
Ner, sorry. Gue berubah pikiran. Gue lagi mau sendiri. Bilang ke cowok itu maybe next time.
Rasanya lega sekali. Dre pikir dia sudah memilih yang tepat. Dia tidak pusing saat Ner bertanya-tanya di seberang sana.
**