Menerka Rindu

Padi yang kulihat kini semakin merunduk karena dia semakin berisi. Seperti si Ratna yang rendah hati dengan segala yang dimiliknya. Ratna kini masih menempuh pendidikannya di negeri orang.

Dia terlalu keras kepala padahal aku selalu menasehatinya bahkan aku pernah bilang, "Rat, apa kau serius dengan keputusan yang kau ambil? Bukankah kehidupan di sana sangat berbeda jauh dengan kehidupan di negeri kita?"

Kemudian Ratna menatap ke arahku. "Ya, memang berbeda tapi aku percaya di sana aku bisa meraih mimpiku."

Aku terdiam sejenak.

"Lalu bagaimana dengan Uwak? Apa kau tega meninggalkannya sendiri di rumah panggung itu?"

"Tenanglah, mungkin beliau akan aku ajak untuk tinggal bersamaku di sana," jawabnya dengan bimbang.

"Apa kau yakin Uwak mau?"

"Aku harap beliau mau."

Percakapan itu rasanya seperti baru kemarin terceloteh dari lisanku. Namun, nyatanya itu sudah beberapa tahun lalu.

Sungguh tak terasa waktu begitu cepat tuk bergulir hingga aku sadar mungkinkah aku terlalu merindukannya?

10 disukai 4 komentar 7K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@alwindara : Terima kasih Kak :)
@damardanarto : Wah, terima kasih Kak
Singkat tapi syahdu.
Mampir ffku juga ka
Syahdunya terasa
Saran Flash Fiction