SENANDIKA

Tidak ada orang di dunia ini yang bisa mengerti dan memahamimu lebih daripada dirimu sendiri

Tidak akan ada orang di dunia ini yang bisa menghargai setiap kekuranganmu selain dirimu sendiri

Tidak ada orang lain di dunia ini yang bisa menjadi support system terbaik selain dirimu sendiri

Namaku Ratih, aku anak perempuan yang terlahir dari keluarga sederhana, tidak ada yang spesial. Di sini aku hanya ingin menceritakan sisi lain dari diriku, yang tidak orang lain ketahui. Jujur, ini bukan hal yang mudah untuk diceritakan, tapi ada seseorang yang selalu mendorongku untuk menjadi lebih berani, lebih kuat dan lebih menerima kekuranganku, hingga membuatku memberanikan diri untuk menceritakan semuanya. Setidaknya, ini tidak akan menjadi beban yang menumpuk.

Seseorang yang sudah aku anggap seperti kakak perempuan yang tidak pernah aku miliki sebelumnya, yang selalu mendengarkan keluhku dan dia juga menyimpan beberapa rahasia kecil yang aku tutupi dari dunia luar.

[FLASHBACK ON]

19 Mei 2021 – Whatsapp

From : Ratih

To : Anonim

Kak, permisi. Lagi sibuk nggak? Ratih lihat kemarin di snap kakak, kakak bisa ngebalikin semangat orang lain.

From : Anonim

To : Ratih

Masih bisa kok, tapi slowres ya. Kenapa Ra?

From : Ratih

To : Anonim

Ratih mau cerita, sesempat kakak aja baca dan balesnya kapan, yang penting dengan cerita ke kakak, aku udah lega.

From : Anonim

To : Ratih

Ya udah, sok cerita aja.

[FLASHBACK OFF]

Self Injury. Aku tidak tahu sejak kapan aku melakukan hal ini demi meluapkan rasa marah, sakit hati dan kesedihan dengan menyakiti diri sendiri. Ini bukan sesuatu yang bisa aku kendalikan dengan mudah. Ini salah, sangat salah, tapi aku akan merasa tenang setelahnya.

Awalnya aku tidak mau menceritakan perihal Self Injury ini pada orang lain, aku hanya terus menyembunyikannya untuk diriku sendiri karena aku takut hal tersebut membuatku dijauhi. Di mata keluarga, teman-teman dan lingkungan tempat tinggalku, aku tidak seperti orang yang sedang menyimpan banyak masalah. Itu yang mereka lihat di luar, tidak ada yang tahu bahwa di dalam diriku hampir kehabisan ruang bahwa aku memiliki kegilaan yang tidak pernah mereka sadari.

Sampai di titik aku tidak lagi mampu untuk menyimpan semua permasalahanku sendirian. Aku teringat pada seseorang yang beberapa waktu menjadi teman bercerita, seseorang yang aku panggil kakak.

Aku menangis di dalam kamar sambil mengetik pesan. Rasa sakit akibat ulahku sendiri di kepala, wajah dan tangan, tidak lagi aku pedulikan. Aku hanya ingin seseorang tahu, betapa hancurnya aku saat ini. Hidup seperti mati rasanya.

Dan, tidak beberapa lama sebuah kalimat balasan masuk, aku membacanya sambil bercucuran air mata. Di sela tangis aku tersenyum, aku hanya butuh seseorang yang bisa menenangkanku dengan beberapa kalimat baik.

"Ratih, aku mungkin tidak tahu bagaimana rasanya ada di posisimu saat ini, tapi aku juga tahu, kamu lebih kuat daripada yang terlihat. Kamu hanya butuh seseorang yang bisa mendengarkanmu, seseorang yang tidak menyalahkanmu atas kekurangan dan permasalahan yang ada pada dirimu. Aku juga tidak bisa mengatakan untuk tetap sabar karena kesabaran kita sebagai manusia ada batasannya. Percayalah, tidak ada permasalahan yang lebih besar daripada pemecahannya"

Malam itu aku meringkuk dan memeluk diri sendiri sambil terisak, hanyut dalam tangis. Aku terus menerus membaca ulang kalimat-kalimat penyemangat yang dikirim sebelumnya, menangkap layar dan menjadikannya walpaper di ponsel.

"Kamu itu cuma manusia biasa, mengeluh itu wajar, menangis pun wajar. Jadi, mengeluhlah sebanyak yang kamu bisa, menangislah sepuas yang kamu mau, tapi jangan sampai berlarut-larut, setelahnya tegakkan bahu dan katakan mantera bahwa kamu kuat, kamu pasti bisa, tulis semua mimpi-mimpimu di selembar kertas dan ucapkan kembali dengan penuh keyakinan, ini aku di masa depan, aku yang lebih baik daripada hari ini"

Kemudian sebuah panggilan masuk dengan nama kakak (anonim) tertera di sana, aku mengangkatnya dan kami berbicara banyak hal, dia menasihatiku, memberi saran untuk menangani self injury-ku. Dan, lagi-lagi aku menangis karena ternyata masih ada orang yang peduli padaku di luar sana, terima kasih.

3 disukai 596 dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction