MYDIARY

Baiklah..., hari ini aku akan menulis lembar kosong dalam buku diaryku. Semenjak kecil aku memang hobi menulis. Aku akan menuliskan apa-apa yang terjadi pada diriku. Biasanya, aku menulis ketika merasa jenuh, suntuk, dan bosan. Pun saat ini aku sedang merasakan hal itu.

Tetapi, sebelum menulis, aku akan membaca tiga lembar terakhir dari buku kecil yang sudah aku pegang.

Lembar ketiga dari terakhir itu pun aku baca ;

.

"Dear, Diary... hari ini, entah ke berapa kalinya aku mengalami peristiwa pahit. Mereka berbuat usil lagi sama aku. Mereka membawaku ke ruangan gudang, terus mengunci pintunya selama dua jam, saat guru mata pelajaran matematika berhalangan hadir. Aku terkunci sendirian di gudang, sedangkan mereka hanya tertawa. Menertawakanku pastinya. Teman sekelas semua diam. Tidak ada satupun yang menghentikan ulah mereka, apalagi membantuku. Ah, siapa pula juga yang sudi berteman denganku?"

.

Aku membalik lembar berikutnya.

.

"Dear, Diary ... kamu tahu ... sekalipun aku tidak pernah meremehkan atau merugikan orang lain, tapi hampir semua orang meremehkan dan merugikan aku. Apalagi mereka!

Mungkin jika kamu berbentuk manusia, kamu tentu tidak sama dengan mereka. Kamu pasti akan menjadi teman yang belum pernah aku temukan, yang tidak akan bosan mendengarkan semua keluh kesah aku.

Hari ini aku melihat Mamah dimarahin lagi sama bos-nya. Kalau saja ayah masih ada, tentu Mamah tidak harus bekerja keras untuk biaya pengobatanku. Aku kasihan sama Mamah. Aku sayang Mamah sampai kapanpun."

.

Aku membalik lagi lembar berikutnya, dan mulai membaca ;

.

"Dear, Diary... kemarin mereka kembali berbuat usil kepadaku. Kali ini mereka lebih serius, bahkan, sangat jahat. Saat ini aku masih berbaring di ranjang rumah sakit. Aku tidak tahu, kenapa setelah makan siang kemarin perutku rasanya sakit sekali. Kepalaku sangat pusing dan terasa sulit untuk bernapas. Aku tahu, mereka mencampuri makananku dengan sesuatu. Tapi aku tidak tahu kapan mereka melakukannya. Mereka tidak tahu kalau aku banyak alergi terhadap sesuatu. Mereka jahat. Sungguh, mereka sangat jahat."

.

Aku membalik lagi lembar berikutnya, lembar yang masih kosong. Sekarang aku akan mulai menulis ;

.

"Dear, Diary ... hmmm ... sepertinya ini adalah hari bersejarah dalam hidupku. Aku melihat mereka kembali datang menemuiku. Namun kali ini rasanya berbeda. Aku paham betul bagaimana sikap mereka saat hendak berbuat usil kepadaku. Kali ini tidak. Aku melihat tatapan mereka tidak sama seperti kemarin. Tatapan yang tidak diliputi niat buruk. Kini mereka sudah duduk dihadapanku.

Mereka mungkin akan memberikan hadiah yang mereka bawa.

Mungkin memanjatkan doa.

Atau mungkin juga akan menaburkan air dan bunga."

18 disukai 12 komentar 6.7K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
👍🥰
@januardbenedictus : Oh, ya ampuuuun 😰😰 . Terima kasih banyak, Om, sudah berkunjung 🙏🙏 Dan, selamat yaa, Om.. Anda luar biasa 👍👍
Relate banget sama ceritanya. 😥😥😥 sempet jadi korban bully waktu SMP. Traumanya membekas sampe skrg.
@enday412 : 😰😰
😢😢😢
@lirinkw : 😭😭😰
Ternyata endingnya begini 😭😭 korban bully 😭😭
@imelyo26 : Itulah, Mbak... Mungkin masih wajar karena masih usia remaja, tapi kalau sudah melebihi batas itu udah sangat berbahaya...
Bullying itu bikin berang. Makin nyebelin krn kadang cuma dianggap kenakalan biasa.
Dear diary, saya juga korban bully wkwkw.
Saran Flash Fiction