THE ZOO

"Anak-anak, jangan sampai terpisah dari rombongan, ya! Kebun binatang sedang ramai sekarang."

Teriakan dari guru kelas 4 SD Tan kepada murid-muridnya yang tengah memandangi berbagai macam satwa di Helo Zoo itu membuat suasana kebun binatang tambah berisik. Mereka memang sedang melakukan kunjungan wisata untuk mempelajari tentang binatang, dan hal itu membuat mereka sangat antusias. Bahkan sejak seminggu sebelum hari ini.

"Norak banget, cuman liat hewan aja."

Kecuali dia. Anak nakal yang sama sekali tidak terlihat senang selama berada di kebun binatang.

"Iya, tempat ramai jadi tambah berisik gara-gara mereka." tambah salah seorang temannya.

"Brian, Yoni, kalian jangan gitu dong, ke teman-teman. Mereka kan memang belum pernah ke sini." tegur Guru Via.

"Ya, ya, kami minta maaf." ucap Brian, lalu pergi meninggalkan kawasan itu diikuti oleh Yoni.

"Eh, jangan jauh-jauh! Sebentar lagi kita akan pulang!" Guru Via memperingati.

Sambil berjalan melewati beberapa kandang hewan buas seperti singa dan harimau, Brian misuh-misuh.

"Begini doang kenapa banyak yang mengunjungi, sih." gumamnya.

"Tau, tuh." tambah Yoni sambil membuka kemasan keripik kentangnya, hendak memakannya bersama Brian.

"JANGAN!" Tiba-tiba saja seorang pengunjung pria berteriak kepada mereka. "Jangan makan makanan manusia di dalam kebun binatang ini."

Brian mengangkat alisnya. "Memangnya kenapa?"

"Itu sudah menjadi peraturan di sini dari dulu. Konon hal buruk akan terjadi jika kalian melanggarnya."

"Apaan, cuman mitos doang pada percaya," Brian mengunyah keripik kentang itu dengan santai. "Lihat? Gak ada yang terjadi, kan?"

"Hei, Nak—"

"Makanya, jangan terlalu percaya mitos," Yoni ikut melahap keripiknya. "Mau?" tawarnya, kemudian tertawa bersama Brian sambil berlalu.

***

Selama berada di dalam kebun binatang, Brian dan Yoni melanggar semua peraturan yang dipatuhi oleh banyak orang, membuat orang khawatir pada kedua anak itu.

Sampai mereka berada di depan sebuah tempat dengan kertas peringatan 'Dilarang Masuk' di pintu kayu yang tak pernah didekati oleh siapapun.

"Mau lihat?" tanya Yoni. Melihat anggukan Brian, ia menyeringai. "Ayo, aku juga penasaran."

Mereka berdua masuk ke dalam tempat aneh yang mirip dengan garasi mobil—tapi di situ ada kompor.

"Tempat aneh," komentar Brian sambil melempar sehelai baju yang ia pungut tadi. "Kita pergi saja."

Tapi pintu tempat mereka masuk tadi sudah terkunci secara misterius.

"Tidak bisa ditendang juga," Yoni berdecak. "Bagaimana ini?"

"Wah wah, lihat siapa yang datang?" Tahu-tahu di belakang mereka sudah ada seorang pria gendut dengan seringai mengerikannya. "Bukankah kalian anak nakal yang tidak percaya mitos itu?"

Brian dan Yoni mundur selangkah demi selangkah dengan wajah ketakutan.

"Anak nakal harus diberi hukuman, bukan begitu?"

***

"Dua puluh tujuh, dua puluh delapan.. hei, ada yang melihat Brian dan Yoni?" tanya Guru Via saat mereka hendak menuju bis.

Murid-murid kompak menggeleng. "Tidak."

"Teman-teman, lihat!" seru salah seorang anak. "Kurasa kita belum melihat dua simpanse itu sebelumnya, kan?"

Para pengunjung yang menyadarinya pun ikut mengerumuni tempat di mana dua simpanse tersebut berada.

"Ah, ya. Mereka berdua baru sampai barusan," beritahu seorang pria bertopi koboi. "Dua simpanse nakal yang bersahabat."

Tanpa mereka sadari, kedua simpanse itu tengah berkomat-kamit mengatakan sesuatu yang tak akan pernah disadari siapapun kecuali hewan-hewan di sana dan para pengurus kebun binatang.

"Tolong kami.."

6 disukai 3 komentar 1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
makanya jngan terlalu kepo, jadi hewan kan kamu😏😏
pai
@lirinkw : wkwk iya dong, umur berapapun harus bisa misuh-misuh dong :D btw makasii kak lirin udah baca <33
Tuh kan makanya jangan nakal, jadi gitu deh... Btw anak kelas 4 SD udah bisa misuh-misuh ya 😭😭
Saran Flash Fiction