Buih Pikiran
12. Musim 1 Episode 9: Suasana Yang Ramai Dalam Jiwa Yang Sepi - Bagian 2

FADE IN:

INT. RUMAH SAKIT JIWA DAERAH JAKARTA BARAT - SIANG

Dilayar nampak teks: 4 hari kemudian.

Bu Angel sedang fokus membaca, ia membaca dengan serius, kemudian seorang suster mengetuk pintu.

BU ANGEL

Ya. Masuk saja Bu Susilo.

Bu Susilo (32 tahun), seorang suster yang agak gemuk masuk sambil membawa sebuah map tebal.

Sambil menyerahkan map itu di meja Bu Angel, Bu Susilo berkata,

BU SUSILO
Betul, bu. Dulu Bu Siti pernah jadi pasien Pak Yesaya namun terhenti karena waktu itu belum ada Askes atau BPJS karena biaya mahal.
BU ANGEL
Diagnosa?
BU SUSILO
Trauma pasca melahirkan. Bu Siti setiap melahirkan pasti terkena trauma paska melahirkan.
BU ANGEL
Begitu. Dan Bu Romlah sudah datang?
BU SUSILO
Sudah, bu. Ada di luar.
BU ANGEL
Persilakan masuk.
BU SUSILO

(sambil berlalu keluar)

Baik, bu.
JUMP TO:

Bu Angel sedang menanyai Romlah (49 tahun) Romlah sendiri berambut keriting, tubuh berisi dan kulitnya putih bersih

BU ANGEL
Maaf, bu. Sebelumnya apa hubungan ibu sama almarhumah bu Siti?
ROMLAH
Saya adiknya yang paling bungsu.
BU ANGEL
Kapan terakhir komunikasi?
ROMLAH
Kalau sama keluarga laki dia mungkin dia komunikasi, tapi sama keluarga kita jarang, bu.
BU ANGEL
Maaf, bu. Tapi kenapa jarang?
ROMLAH
Semenjak dia ngikut agama suaminya.
BU ANGEL
Baik. Saya mengerti. Ibu turut prihatin atas apa yang terjadi pada keluarga kakak ibu?
ROMLAH
Ya namanya juga manusia. Ya, harus peduli.
BU ANGEL
Tadi ibu menyatakan seolah hubungan keluarga besar Bu Romlah agak merenggang dengan Bu Siti. Tapi saya lihat di catatan dokter Yesaya ibu masih terus mendampingi Bu Siti selama konsultasi.
ROMLAH
Ya, namanya juga kakak saya, bu. Saya jelas khawatir sama Mpok Siti. Waktu Mpok Siti stress. Tapi cuma sebatas bantu aja.
BU ANGEL
Ibu bisa bantu sedikit cerita gimana pola asuh Bu Siti terutama setelah tidak terpantau dokter Yesaya?
ROMLAH
Dia itu gimana ya, bu. Pernah nih Mpok Siti, waktu itu pan saya datang terlambat, niatnya mau bantu-bantu mandiin gitu. Eh, si Lukman punggungnya udah biru terus nangis. Umurnya sekitar 4 taun waktu itu.
BU ANGEL
Biru-biru?
ROMLAH
Dipukul pake rotan sama Mpok Siti, gak tau penyebabnya apa.
BU ANGEL
Maaf, bu. Apa Pak Samsul tau?
ROMLAH
Dia boro-boro tau. Pan berangkat maghrib pulang maghrib lagi. Saya kan tahu karena waktu itu hampir tiap hari disana. Ya gak ada saksi karena waktu itu Intan sama Danu lagi sekolah. Saya mau ngomongin saya bukan laki-laki, bu. Saya takut waktu itu.
BU ANGEL
Lalu untuk konsumsi jajanan keseharian Lukman, Danu sama Intan bagaimana, Bu?
ROMLAH
Keluarganya Siti mula-mula dibantu sama orang tua, tapi setelah nyak babeh bangkrut mereka jadi ngenes, termasuk soal uang jajan. Pernah ya aye liat Bang Samsul cuma punya uang 500 perak. Itu pun hasil ngutang. Dia terkenal sama utangnya.

Romlah mengingat-ngingat sejenak, kemudian melanjutkan kata-katanya.

ROMLAH (CONT’D)
Waktu itu Danu, Intan sama Lukman pengen jajan, tapi cuma kebeli jajanan yang pedes banget. Terpaksa mereka jajan jajanan yang pedes banget.
BU ANGEL
Hampir tiap hari?
ROMLAH
Iya, bu. Hampir tiap hari. Gak tau juga kenapa cuma Lukman yang punya lambung akut.
BU ANGEL
Kita perlu syukuri itu, bu. Mungkin mendiang Danu sama Intan sistem pencernaanya kuat. Karena waktu itu mungkin usia mereka sudah agak besar.
ROMLAH
Iya, bu. Alhamdulillah. Tapi bu, Bang Samsul itu pernah saya liat cuma punya uang 2000 buat beli rokok, terus Danu Intan sama Lukman yang masih kecil banget ngerengek minta jajan. Padahal itu dua ribu dua ribunye minjem dari Somad, suami aye.

Romlah memperbaiki jilbabnya dan ia melanjutkan,

ROMLAH (CONT’D)
Eh dia gak jadi beli rokok, dia akhirnya beliin jajan buat anak-anaknye. Samsul emang gak tegaan orangnye. Dan yang dijajanin lagi-lagi makanan gak sehat. Sering ngutang dia sama tetangga, keluarga. Cuma demi jajan anak-anaknye. Sampe numpuk, sampe sering cekcok sama mpok Siti, Saya denger sendiri gegare sering disitu, bu.

Tiba-tiba Romlah bertanya,

ROMLAH (CONT’D)
Oh iya, bu. Kalau kejiwaan Lukman turun dari Mpok Siti. Kenapa Intan sama Danu gak kena juga?
BU ANGEL
Saya kira itu dimulai ketika orang tua Bu Romlah dan Bu Siti bangkrut. Tadi ibu bilang Samsul sering berhutang. Itu dimulai sejak Siti mengandung Lukman. Bukan begitu, bu?
ROMLAH
Wah ibu psikiater memang hebat. Bisa tahu. Jadi apa maksudnya?
BU ANGEL
Jadi mungkin Bu Siti mengalami trauma pasca melahirkan di tiga kali beliau melahirkan. Tapi stress nya waktu itu masih bisa ditutupi oleh ekonomi keluarga yang masih agak lumayan baik. Setelah melahirkan Lukman, baru.
ROMLAH
Oh gitu, bu. Iya, bu. Paham saya. Mungkin Mpok Siti masa bodoh sama stress nya waktu itu gegara masih dibantuin sebelum nyak babeh bangkrut, ye?
BU ANGEL

(tersenyum)

Ya. Seperti itu kira-kira.
ROMLAH
Saya juga agak kesel juga, bu.
BU ANGEL
Kesel kenapa, bu?
ROMLAH
Kok bisa-bisanya utangnya Mpok Siti sama keluarganya ikut naek bebarengan sama pas nyak babeh bangkrut. Padahal gaji Samsul termasuknya gede loh waktu itu, bu.
BU ANGEL
Ibu... Kita tidak bisa campuri urusan dapur rumah tangga orang sejauh itu. Mungkin ada sesuatu.
ROMLAH
Ya. Tapi kan saya penasaran, bu.

Romlah kemudian kembali berkata,

ROMLAH (CONT’D)
Jadi Intan sama Danu gak ikut stress karena...
BU ANGEL
Selama mengandung Bu Siti tidak merasa terlalu stress karena ekonomi masih lumayan baik, sehingga trauma pasca melahirkannya tidak begitu berefek pada psikis Bu Siti sehingga beliau masih bisa merawat Danu dan Intan dengan baik.

Bu Angel kemudian melihat data di laptopnya.

BU ANGEL (CONT’D)
Kalau diliat-liat Intan ternyata seumuran saya. Lebih tua 3 bulan malah kak Intan.
ROMLAH
Iya, bu. Seharusnya udah sukses dia sekarang. Sayang, mati bareng Danu.
BU ANGEL
Dan Lukman waktu sekolah katanya perundung ya, bu?
ROMLAH
Seabis kasus pembakaran yang ngelibatin si Slamet udah gak pernah ngebully lagi.
BU ANGEL
Oh, kasus yang waktu itu ya, bu? Iya, dulu Lukman cerita ke saya dia depresi karena merasa bersalah bikin temen yang dibullynya itu bakar rumah.
ROMLAH
Kok bisa Lukman pembully malah justru kena stress, bu?
BU ANGEL
Pola didikan psikis, bu. Berdasarkan cerita Bu Romlah, terlalu kerasnya didikan Bu Siti apalagi sampai ke kekerasan bisa berakibat pada pola pikir Lukman waktu itu. Dan pembakaran oleh Slamet jadi titik balik, tapi Lukman salah menangkapnya, ia menangkap itu menjadi stress.
ROMLAH
Duh. Saya gak paham. Bu Dokter yang pinter yang paham itu.
BU ANGEL
Dari data, Bu Siti jadi pasien Pak Yesaya dari tahun 1998 sampai tahun 2002.
ROMLAH
Lupa saya itu, bu. Tapi saya ingat Mpok Siti wajib minum obat pagi sama sore.
BU ANGEL
Lalu terhenti karena pengobatan psikologis tidak tercover BPJS dan Askes waktu itu, ya?
ROMLAH
Sepertinya begitu, bu.
BU ANGEL
Baik.
DISSOLVE TO:


INT. KORIDOR RUMAH SAKIT JIWA DAERAH JAKARTA BARAT - SIANG

Bu Angel berjalan menyusuri koridor, di kepalanya terngiang-ngiang keterangan Romlah,

ROMLAH (O.S)

Saya juga agak tanda tanya waktu itu sama kelakuannya Mpok Siti, dia tuh gestur tubuhnya waktu lagi ndidik anak-anaknye kayak... Gimane ye? Kayak judes gitu, buang muka waktu ngomong, melotot, gestur tubuhnya gak enak banget, gaya ngomongnye. Waktu itu saya yang ngerasain sih ya, bu. Itu tuh waktu Lukman, Intan sama Danu udah agak gede.

Bu Angel terus berjalan di koridor dengan wajah cemas.

ROMLAH (O.S) (CONT’D)

Sering banget aye liat waktu gak ada Bang Samsul, Mpok Siti itu sering ninggiin nade, masang raut cemberut ato sedih pas lagi ngasuh anak. Ya nyuapin lah ya macem macem lah. Tapi aye heran kok Danu sama Intan gak kepengaruh? Itu tuh pasti hampir tiap hari, dan tiap paginya Mpok Siti sama Bang Samsul pasti tengkar karena soal utangnya Bang Samsul.

Bu Angel masih berjalan, ia berjalan dengan cemas dan serius.

ROMLAH (O.S) (CONT’D)

Jadi meski Mpok Siti udah kena trauma paska melahirkan waktu ngandung Intan sama Danu, karena ekonomi masih agak baik jadi itu gak terlalu pengaruh ke kandungannya karena Mpok Siti gak terlalu mikirin itu? Oh begitu, bu. Paham saya.

Bu Angel mengambil handphone di sakunya lalu dia menghubungi Bu Laras yang ada di kontak whatssappnya.

Bu Angel menunggu beberapa saat, kemudian terdengar suara Bu Laras (39 tahun)

BU LARAS (O.S)
Halo, bu. Assalamualaikum.
BU ANGEL
Walaikum salam. Bu, kita atur rencana supaya saya bisa bicara mendalam dengan Lukman dan Pak Samsul. Semisal ada pesta perayaan gitu.
BU LARAS (O.S)
Kebetulan banget bu, 9 hari lagi hari kelahiran Pak Samsul. Mungkin kita bisa melakukan pendekatan di waktu itu, bu. Pertemuan dengan keluarga Pak Samsul dan Lukman lancar, bu?
BU ANGEL
Alhamdullilah lancar semua. Terakhir dengan Bu Romlah juga alhamdullilah lancar.

Bu Angel melanjutkan kata-katanya,

BU ANGEL (CONT’D)
Untuk ulang tahun Pak Samsul 9 hari lagi, ya? Baik kita tunggu 9 hari lagi untuk membicarakan sesuatu sama Pak Samsul dan Lukman sekaligus merayakannya. Sementara ini kita sebaik mungkin bikin mereka supaya gak stress.
BU LARAS (O.S)
Baik, bu. Tapi bu di hari bahagia Pak Samsul apa itu gak ’jleb’ gitu. Kalau tiba-tiba?
BU ANGEL
Makanya nanti kita ngomongnya pelan-pelan, bu. Mumpung suasana nanti lagi sangat bahagia bagi Pak Samsul.
BU LARAS (O.S)
Oh iya, bu. Apa kita bisa undang JKT48 di ultah pas Samsul? Kan Santi sodarinya, siapa tau bisa jadi support, bu.
BU ANGEL
Itu harus dibicarakan dengan operasional tim mereka, ya. Semoga ada waktu karena waktunya cuma 9 hari. Tapi mungkin karena Santi keluarga, Santi bisa datang. Tentu dengan izin operasional tim mereka juga.

DISSOLVE TO:

Di layar tertera tulisan: 9 Hari kemudian.

INT. RUMAH SAKIT JIWA DAERAH JAKARTA BARAT - AULA - MALAM

Suasana ramai dengan para penghuni panti rumah sakit jiwa, semua mengenakan topi warna-warni sebagian dari mereka bergembira, suara obrolan dimana-mana.

Banyak lainnya pula yang terduduk melamun dengan tatapan kosong, Lukman menatap ayahnya yang sedang berbincang dengan Bu Angel. Lukman menerawang, kemudian pandangannya berubah arah, ia melihat Santi yang sedang tersenyum ramah membagikan bingkisan didampingi beberapa petugas rumah sakit jiwa pada banyak pasien.

Lukman kembali memperhatikan ayahnya, ia menatap ayahnya yang sedang diajak ngobrol oleh Bu Angel.

Mata Lukman menjadi kamera lalu shot fokus ke Samsul dan Bu Angel. Kamera perlahan-lahan menfokuskan pada Samsul dan Bu Angel.

BU ANGEL

(tersenyum)

Syukurlah kalau keluarga jadi makin erat, meski menurut bapak itu karena viralnya keadaan Lukman.
SAMSUL
Iya. Kadang saya rasa, apa gini jalannya. Keluarga ipar saya yang sudah 15 tahun jarang berkunjung jadi peduli banget.

Samsul menghisap rokok yang ada di tangannya.

SAMSUL (CONT’D)
Sardi juga kemarin dateng nengokin Lukman. Orangnya ya baik-baik saja, seolah Lukman gak ada masalah sama Santi.
BU ANGEL
Itu jiwa memaafkan. Alhamdullilah bapak diberi keluarga yang baik seperti itu.
SAMSUL
Puji Tuhan.

Samsul menatap Lukman yang sedang fokus memperhatikan Santi.

SAMSUL (CONT’D)
Tapi kalau saya lihat wajah anak saya... Dari perawakannya, warna kulit, tinggi.
BU ANGEL
Itu hanya perasaan bapak.

Samsul terdiam, matanya mulai nanar dan berair. Ia menghisap rokok dalam-dalam.

SAMSUL
Saya menyesal lama menyembunyikan kecemasan saya. Saya paham kecemasan saya karena Eka. Dosa saya besar ke Eka, tapi saya sangat menyayangkan kenapa anak saya juga ikut getahnya.
BU ANGEL
Apakah bapak mengenal Eka dengan baik, dan yakinkah bapak bahwa itu adalah penyebab utama kecemasan yang menurun pada Lukman?

Samsul menatap Lukman, pandangannya kini kosong tapi menatap fokus pada Lukman.

SAMSUL
Lukman. Eka.
INT. KEGELAPAN - DI DALAM KEPALA SAMSUL - MALAM

Samsul duduk di atas batu besar, kegelapan menyelimutinya, lalu muncul banyak orang, membawa petromak.

Wajah orang-orang itu tidak jelas karena gelap, tapi kemudian mereka menunjukan wajah, wajah mereka persis seperti Samsul.

Samsul terkejut tapi tidak bisa bergerak. Satu persatu dari mereka meludah di hadapan Samsul. Mereka berkata,

ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 1
Lukman gila karena salah kamu!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 2
Elu cuma nambah populasi beban lewat si Lukman!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 3
Tuhan gak mungkin ampuni dosa kamu ke Eka!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 4
Samsul itu Eka yang mau balas dendam ke kamu!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 5
Dulu tingkah lakunya sampah karena pengecut sekarang hasilin sampah juga. Cuih!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 6
Tuhan udah najisin kamu karena perkara Eka!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 7
Neraka tempatmu!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 8
Ke makam Eka sekarang pun sambil merangkak dari sini ke makamnya gak bakal diampuni Tuhan kamu!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 9
Itulah karma. Karma itu nyata!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 10
Apa jadinya kalau Lukman udah jadi gitu? Sul... Sul...
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 11
Rasa menyesal itu percuma. Kamu udah dikutuk Eka melalui Lukman, Sul!
ORANG DENGAN WAJAH SAMSUL 12
Anak gila karena dosa besar di masa lalu. Beban ini bakal terus kamu tanggung.
INT. RUMAH SAKIT JIWA DAERAH JAKARTA BARAT - AULA - MALAM

Tidak ada audio sama sekali, Bu Angel mencoba menyadarkan Samsul, mata Samsul fokus pada Lukman tapi tatapannya kosong. Dengan tatapan kosong Samsul berkata,

SAMSUL
Eka.

Di scene terakhir hanya itulah audio yang terdengar oleh penonton, kamera syut medium close-up saat Samsul mengatakan hal itu. Layar menggelap dan kredit title muncul, kredit title muncul sampai film selesai tanpa audio sama sekali.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)