Buih Pikiran
2. Musim 1 Episode 2: Perundung

Fade In:

EXT. JALAN RAYA - DI MOTOR - PAGI

Kaca dari helm Siti trkena pantulan sinar matahari. Siti yang memakai kacamata hitam bergeming dan mengendarai motornya dengan kencang. Suasana Jakarta saat itu ramai, Lukman memegangi pinggang Siti dengan erat, ia melamun dan melihat ke arah kiri jalan.

Siti berhenti karena lampu merah, Lukman yang terus memperhatikan sisi kiri jalan melihat beberapa petugas kebersihan sampah sedang mengerjakan tugas mereka.

Seorang pria seumuran Lukman, Slamet (24 tahun) sedang mengangkat tong sampah kemudian dimasukan ke dalam truk sampai, Slamet berkeringat, ia diam, terlihat rekan satu profesinya saling mengobrol.

Suasana bising dan ramai oleh lalu lalang kendaraan. Dengan tatapan kosong memandang ke arah Slamet, Lukman berkata lirih,

LUKMAN

Slamet...

CUT TO FLASH BACK:

INT - WARUNG NON KANTIN DI DALAM AREA SEKOLAH - SIANG

Dilayar terdapat text: 7 Tahun yang lalu.

Lukman Remaja (14 tahun) dan beberapa teman nongkrong SMA nya salah dua diantara mereka, Jaka Remaja (15 tahun) serta Ridwan Remaja (15 tahun) mereka menghisap rokok. Penjaga warung, seorang pria berusia sekitar 25 sedang asyik bermain handphone.

Jaka Remaja mengambil 3 buah pisang goreng, ia kemudian berkata pada penjaga warung yang sedang fokus main handphone.

JAKA REMAJA

Pisang gorengnya satu ya, bang.

Yang kemudian dibalas oleh penjaga warung sambil terus fokus main handphone.

PEMUDA TANGGUNG PENJAGA WARUNG

Ya.

Ridwan Remaja terbatuk kaget sedangkan beberapa teman Jaka Remaja yang lain menunduk, mereka berusaha menyembunyikan tawa, tetapi seringai menahan tawa mereka terlihat jelas.

Lukman Remaja bangkit, mengambil dua bakwan, baru saja ia mau berbicara Ridwan Remaja tiba-tiba berkata dengan suara keras,

RIDWAN REMAJA

Dek, ambil bakwan dua? Bagi gua satu.

Sambil santai bermain handphone penjaga warung berkata,

PEMUDA TANGGUNG PENJAGA WARUNG

Dua 1000, dek.

Dengan kesal Lukman Remaja menunjuk Ridwan Remaja.

LUKMAN REMAJA

Ah, elu gak asik.

Kemudian Lukman lanjut berkata,

LUKMAN REMAJA

Tadi si Jaka ambil pisang goreng 3 tuh, bang.

Dengan santai dan masih memainkan handphone pemuda penjaga warung menjawab,

PEMUDA TANGGUNG PENJAGA WARUNG

Saya memang gak lihat tapi ada yang Maha Melihat.

Lukman Remaja, Ridwan Remaja dan para siswa yang sedang nongkrong pun tertawa terbahak-bahak.

JAKA REMAJA

(mengeluarkan uang 1000 rupiah dan meletakkan di meja warung)

Madekipe lu, dek.

Seisi ruangan tertawa keras semua kecuali penjaga warung yang masih fokus main handphone.

Jaka Remaja yang kesal tanpa sengaja melihat ke arah luar warung, ia melihat, Slamet (15 tahun) sedang berjalan ke arah warung.

Dengan segera Jaka Remaja memberi tahu kawan-kawannya bahwa ada Slamet Remaja datang.

JAKA REMAJA (CONT’D)

Eh, ada si Jawa. Ada si Jawa.

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 1

Wah, ada tukang ngadu. Matiin. Umpetin rokoknya.

Semua pun mematikan rokok kemudian mengibas-ngibas agar asap rokok hilang, kemudian menyembunyian rokok di belakang sepasang kursi rotan kayu.

Secara reflek Lukman remaja berkata,

LUKMAN REMAJA

(Sambil cengengesan menengok ke kawannya satu persatu)

Bully? Bully? Bully?

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 1

Bentuk bullyannya kayak gimana, dek?

Lukman Remaja berjalan mendekat dengan gestur menahan tawa kemudian membisikan sesuatu pada kawannya yang bertanya tersebut. Salah satu kawan Lukman remaja yang sedang jongkok dan kipas-kipas tersebut cengengesan kemudian ia membisikan sesuatu pada kawan Lukman Remaja lainnya yang ada di sebelahnya, kemudian terjadi adegan berulang-ulang, kawan SMA Lukman remaja semuanya berbisik pada rekan yang ada di dekatnya.

Slamet Remaja masuk warung, semua siswa yang ada di tempat pura-pura sedang mengobrol serta pura-pura tidak memperhatikan Slamet.

SLAMET REMAJA

Assalamualakum.

RIDWAN REMAJA

Wa’alakum salam.

JAKA DAN SELURUH KAWAN LUKMAN REMAJA LAINNYA.

Wa’alaikum salam.

Setelah menjawab salam semua berusaha melakukan kegiatan normal seperti mengobrol dan makan, ada yang makan nasi bungkus, ada pula yang menggigit dan mengunyah singkong goreng. Setiabudi (15 tahun) salah satu kawan Lukman Remaja tidak bisa menahan tawa, Jaka pun menjitak kepalanya.

SETIABUDI

Sorry. Gua gak tahan.

Kemudian kawan Lukman lainnya nyeletuk.

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 2

"Slamet! Wong jowo!" Diundang...

Ia menghentikan apa yang hendak diucap kemudian bertanya pada kawan-kawannya yang lain.

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 2 (CONT’D)

Eh jawanya dipanggil itu diundang, ya?

Kawan Lukman Remaja yang lain menimpali.

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 3

Hah? Siapa yang kawin?

Yang dibalas oleh kawan Lukman yang lainnya lagi.

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 4

Nenek gua!

Secara kompak seluruh yang ada di tempat pun bertepuk tangan riuh. Seorang kawan Lukman yang bertubuh kecil dan sedikit pendek bersalto, ia salto lima kali menjauhi area warung kemudian salto lima kali kembali ke arah warung, ia juga berakrobat menirukan gestur pencak silat, kemudian berkata,

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 5

Lenong! Lenong!

Tepuk tangan pun bertambah meriah, penjaga warung pun tak tahan menahan tawa.

Lukman Remaja mendekati Slamet Remaja, ia memegangi perutnya, wajahnya menunjukan ketidaknyamanan.

LUKMAN REMAJA

Met. Anterin gua ke UKS. Perut gue mules, tapi pas jongkok yang keluar cuma angin. Keluarnya cuma sekali, itu pun segede kelereng.

JAKA

Bunyinya kayak suara pompa ban ya, dek?

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 1

Iya. Suaranya kedengeran sampe tempat gua mojok sama si Anindita.

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 3

Ah elu, dek. Dapet kelereng malah lu siram ke kloset. Adek gue kan demen main kelereng.

Kontan semuanya pun tertawa terbahak-bahak.

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 3

Anterin Lukman ke UKS sonoh.

RIDWAN REMAJA

Udah. Tas lu tinggal aja disini. Ntar Jaka yang anterin langsung ke kelas.

Jaka Remaja merespon dengan senyum mengembang, ia menunjukan dua jempol pada Slamet Remaja.

SLAMET REMAJA

Tapi aku arep makan loh, mas. Aku laper.

SALAH SATU KAWAN SMA LUKMAN 2

Ya, makan arem-aremnya ditahan dulu.

Secara serempak sebagiab orang yang ada di tempat berteriak memarahi salah satu kawan Lukman Remaja tersebut.

HAMPIR SEMUA ORANG DI WARUNG

Arep!... Arep! Bukan arem arem. Tolol!

Semua yang ada di tempat pun tertawa terbahak-bahak.

SLAMET REMAJA

Ya. Ayuh, mas.

LUKMAN REMAJA

(berjalan ke arah Slamet remaja kemudian merangkulkan tangannya pada Slamet)

Tolong rangkul nyong. Nyong gak kuat jalan.

SLAMET REMAJA

Silakan, mas.

Lukman Remaja dan Slamet Remaja keluar dari warung, merekaa melangkah pergi. Lukman Remaja merangkul Slamet Remaja sambil sesekali mengelus-elus perutnya. Lukman Remaja pura-pura mengeluh kesakitan.

LUKMAN REMAJA

Aduh mules... Aduh mules.

Seluruh kawan-kawan Lukman Remaja memperhatikan, kamera menyorot Lukman Remaja dan Slamet Remaja berbelok di tikungan.

Kawan-kawan Lukman Remaja mengambil puntung rokok dari belakang sepasang kursi rotan kayu, Ridwan Remaja mengambil dan membuka tas Slamet Remaja kemudian seluruh kawan-kawan Lukman Remaja bersiap memasukkan puntung rokok ke tas Slamet Remaja. Mereka cekikikan.

Pemuda penjaga warung tidak peduli, ia terus bermain handphone.

Beberapa kawan-kawan Lukman Remaja hendak memasukkan puntung rokok ke tas Slamet, tapi tiba-tiba Jaka Remaja menahannya.

JAKA REMAJA

Eh jangan asal masukin. Abis ini pelajaran apa?

Setiabudi menjawab,

SETIABUDI

Sejarah.

Jaka Remaja mengambil buku sejarah milik Slamet Remaja dari tas, membukanya, kemudian menaruh puntung rokok ke tengah-tengah halaman buku sejarah.

CUT TO:

INT. RUANG KELAS 2F - SIANG

Dono (49 tahun) masuk kelas, ia berperawakan tinggi gemuk dan memakai kacamata, ia juga menjinjing sebuah tas koper. Dono meletakkan tasnya di meja kemudian berbasa basi sedikit kepada para murid.

DONO

Bagaimana murid-murid istirahat siangnya?

Semua murid menjawab kecuali Jaka Remaja, Ridwan Remaja, Lukman Remaja, dan seorang siswi yang sibuk mencabuti alis.

HAMPIR SEMUA MURID

Menyenangkan, pak!

DONO

Syukurlah jika memang menyenangkan.

Jaka Remaja sedang mengorek kupingnya sedangkan seorang murid perempuan sibuk mencabuti alis yang berantakan dengan pinset, Lukman Remaja dan Ridwan Remaja memperhatikan Slamet Remaja yang fokus pada Dono.

Dono meneruskan kata-katanya,

DONO (CONT’D)

Tolong beri tahu apa materi yang saya akan beri hari ini. Minggu lalu sudah saya umumkan sebagai pengingat.

Dengan sigap Slamet Remaja menjawab,

SLAMET REMAJA

Sejarah peristiwa Malari dan penyebab serta efek-efeknya.

DONO

Bagus. Ada bonus nilai untuk kamu Slamet.

Dono membuka buku sejarah beberapa halaman kemudian berkata,

DONO (CONT’D)

Tolong keluarkan buku sejarah kalian dari tas bagi yang belum, sedangkan yang sudah buka bab tentang Malari di halaman 93

Slamet Remaja mengambil tas yang letakkan di belakangnya, mengambil buku sejarah dari tas, saat buku pelajaran sejarah ditarik dari tas puntung dan abu rokok bertebarane kemana-mana.

Dono memandangi Slamet Remaja, emosi terlihat dari wajahnya, ia memanggil Slamet Remaja.

DONO (CONT’D)

Slamet! Kemari!

Slamet Remaja gugup, wajahnya menunjukkan kecemasan sedangkan para murid perempuan protes kecuali seorang siswi yang sejak tadi sibuk menabuti alisnya yang berantakan.

SISWI KELAS 2F

Bau. Ih, Slamet ngerokok.

BEBERAPA SISWI KELAS 2F 2

Iya, Slamet ngerokok.

Lukman Remaja pun turut berkomentar memprotes.

LUKMAN REMAJA

Wah, pak. Itu Slamet merokok, pak.

Dengan suara keras Setiabudi ikut memprotes.

SETIABUDI

Iya, pak. Hukum saja.

Jaka ikut memprotes dengan nada memanas-manasi.

JAKA REMAJA

Yang paling tegas, pak.

Slamet Remaja maju ke depan, tubuhnya gemetaran, ia menunduk. Dono kemudian berkata dengan nada tinggi,

DONO

Ayo ikut saya ke ruang BK. Nanti disana kamu berbicara dengan pak Anto dan bu Mega. Saya tidak mau mengomentari kamu disini karena itu bukan ranah saya, dan saya tidak mau membuat kamu makin malu di depan teman-teman kamu. Dan saya peringatkan, sebagai siswa jangan pernah merokok!

Dono berbicara kepada semua murid yang ada di kelas 2F.

DONO (CONT’D)

Itu pun berlaku untuk semuanya. Mengerti?!

Murid-murid menjawab termasuk siswi yang sejak tadi mencabuti alis yang berantakan, ia pun ikut-ikutan menjawab nasehat dari Dono dengan reaksi agak kaget dan gugup.

HAMPIR SEMUA MURID

Iya, pak. Baik.

SISWI YANG SEJAK TADI MENCABUT ALIS

I...Iya, pak. Baik, pak.

Dono melangkah menuju pintu keluar kelas 2F.

DONO

Ayo, Slamet!

Dengan gemetar Slamet Remaja mengikuti Dono, terlihat celana Dono sedikit basah di sebelah kiri dan kanan selangkangannya. Dono dan Slamet Remaja meninggalkan ruang kelas 2F.

Murid-murid melongok ke arah luar, mereka melihat Dono dan Slamet berjalan menjauh kecuali seorang siswi yang kembali sibuk mencabuti alisnya. Selang beberapa detik semua murid tertawa terbahak-bahak kecuali seorang siswi yang sibuk mencabuti alisnya.

INT. RUMAH KELUARGA SAMSUL - RUANG SANTAI - MALAM

Danu (20 tahun), Samsul, dan Lukman Remaja sedang menonton acara talk show bergenre komedi, sesekali mereka tertawa dengan tingkah polah pengisi acara di talk show yang mereka tonton.

Intan (18 tahun) datang dari luar belakang, ia berkata,

INTAN

Ada yang mau belikan sarden ke Alfamart atawa Indomaret gak?

Dengan sigap Lukman Remaja menjawab,

LUKMAN REMAJA

Aye aja, mpok. Tapi 7000 buat aye ya, mpok. Besok hari minggu, pengen main PS. Kan mpok baru gajian, bagi dikit, lah.

INTAN

(tersenyum ramah)

Iya.

Tiba-tiba Danu berkata:

DANU

Rokok filter juga untuk abang ya, dek. kalau bisa belinya sekarang bareng ama sarden. Nanti kalo abang dapat upah dari magang di toko servis hape abang ganti.

Intan menjawab,

INTAN

Aye beliin sekarang, bang. Gak perlu diganti uang rokoknya.

DANU

Makasih, Tan.

Samsul melongok pada Danu kemudian bertanya,

SAMSUL

Magang lu berapa lama lagi?

DANU

(sambil menonton televisi) Sampe tanggal 17 Februari, beh.

SAMSUL

Semoga lancar. Jangan lupa berdoa sama Tuhan Yesus.

DANU

Amin, beh. Aye bakal rajin berdoa.

Samsul kemudian bertanya pada Intan,

SAMSUL

Eh, Tan. Enyak lagi di dapur kan? Lagi masak bareng elu?

INTAN

Iya beh, lagi motongin tomat ama cabe merah juga cabe ijo.

EXT. JALAN RAYA - MALAM

Lukman Remaja mengayuh sepeda dengan semangat, ia mengayuh sepedanya dengan kencang, tiba-tiba Lukman Remaja mengerem mendadak, beberapa meter di depannya banyak warga yang berkerubung ramai, mereka fokus melihat ke arah sebuah gang sempit. Sebuah mobil pemadam kebakaran terparkir, beberapa petugas kebakaran sibuk saling bahu membahu mengulur selang pemadam kebakaran dan memasukkannya ke dalam gang.

Warga melihat ke arah langit, Lukman Remaja pun ikut-ikutan melihat ke arah langit, terlihat asa tebal kebakaran membumbung tinggi.

Kemudian warga sekitar yang baru datang mengendarai sepeda motor berhenti dan bertanya,

WARGA DENGAN SEPEDA MOTOR

Siapa yang rumahnya kebakaran?

Seorang warga yang sejak tadi menonton kebakaran menjawab,

SALAH SATU WARGA YANG MENONTON KEBAKARAN

Rumah pak Riyanto kebakaran, anaknya yang bakar, si Slamet. Katanya Slamet ngamuk terus bakar rumah!

Lukman Remaja terkejut wajahnya pucat dan menunjukkan gestur deg-degan.

LUKMAN REMAJA

Slamet...

FLASH BACK CUT TO:

EXT - JALAN RAYA - DI MOTOR - PAGI

Lukman masih memegang erat Siti dengan pandangan mata kosong, Lukman berkata dengan hampir tak mengeluarkan suara. Terlihat bibirnya menyebut nama,

LUKMAN (CONT’D)

Slamet...

Air mata menetes dari mata sebelah kiri Lukman sedangkan motor yang dikendarai Siti melaju kencang.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)