Raka membuka mata—mengerti tantangan sebenarnya. Bukan fisik.
Mental.
INT. BENGKEL JAM - 03:14 PAGI (17 FEBRUARI 2027)
Ruangan diatur seperti altar spiritual.
Jam saku antik di tengah meja bundar kayu tua. Kristal biru di
dalamnya bersinar samar—bertenaga.
Empat lilin putih menyala di empat penjuru mata angin. Api tidak
bergerak meski ada angin—seperti membeku di tempat.
Dupa menyala—asap tipis mengepul lurus ke atas tanpa menyebar.
Pak Yanto, Lily, Raka berdiri membentuk lingkaran di sekitar
meja. Tangan bergandengan—membentuk koneksi energi.
Jam dinding antik: 03:14.
Tiga menit lagi.
Raka menatap Lily—tatapan panjang. Menyimpan wajahnya di memori.
Untuk berjaga-jaga.
Lily tersenyum kecil—mencoba kuat tapi mata berkaca-kaca.
03:16.
Satu menit lagi.
Raka menarik napas dalam. Bersiap. Ini momen yang menentukan 103
tahun kutukan.
03:17.
Suhu ANJLOK drastis—lebih dingin dari biasanya. Napas membeku di
udara.
47 ARWAH muncul—memenuhi ruangan untuk terakhir kalinya.
Raka berdiri di tengah—tangan BERSINAR CAHAYA EMAS sangat
terang. Lebih terang dari matahari. Menyilaukan.
Seluruh tubuhnya bercahaya—meski transparan, cahaya membuatnya
terlihat seperti malaikat.
Menatap satu per satu arwah—sudah hafal semua wajah setelah 7
tahun. 47 wajah. 47 jiwa. 47 penderitaan.
RAKA
(suara bergetar emosi,
tapi kuat)
Air mata jatuh—tapi tidak sedih. Lega.
RAKA
PEMBEBASAN DIMULAI.
Cahaya emas mengangkat arwah satu per satu—seperti malaikat naik
ke surga. Perlahan. Mulia.
29 PRAJURIT MATARAM pertama—prajurit yang mati berabad lalu,
terjebak sejak penutupan pintu pertama.
Wajah mereka berubah—dari penderitaan ke relief. Beban
terangkat.
Mereka membungkuk hormat ke Raka—terima kasih tanpa kata.
Melayang naik dalam cahaya putih suci—tubuh transparan perlahan
memudar menjadi cahaya murni.
17 JENDERAL dan PEMIMPIN berikutnya:
MAS THOMAS (prajurit Belanda-Indonesia, uniforms kotor) salute
terakhir dengan hormat militer—tersenyum damai. Menghilang.
IBU SITI (guru SD, jangkar ke-14, wajah muda) menatap Pak Yanto
yang berdiri di pinggir ruangan.
IBU SITI
(suara lembut,
memaafkan)
Menatap Pak Yanto dengan tatapan yang memaafkan total. Tidak ada
kebencian. Hanya lega.
Pak Yanto menangis—37 tahun beban guilt terangkat.
Siti tersenyum—menghilang dalam cahaya.
PAK JOKO (supir truk yang menabrak keluarga Raka, selalu
menyesal) lambaian tangan tanda perpisahan—beban kesalahan hilang dari wajahnya. Damai
akhirnya. Menghilang.
PAK DANIEL (tukang kayu, jangkar ke-9, amarah bertahun-tahun)
amarah padam dari matanya—tersenyum lega untuk pertama kali
dalam puluhan tahun. Menghilang.
Satu per satu—semua 46 arwah naik.
Dan akhirnya:
SARI NASTITI.
Melangkah maju dari antara arwah yang tersisa—menatap Raka
dengan cinta infinite seorang ibu.
Raka menatapnya—air mata jatuh deras. Ini perpisahan terakhir.
SARI
(suara lembut, penuh
cinta)
Mendekati Raka—mengulurkan tangan meski transparan.
SARI
Raka tidak bisa bicara—hanya menangis.
RAKA
(suara patah)
SARI
(menggeleng lembut,
tersenyum)
Menatap ke arah Lily.
SARI
Kembali menatap Raka.
SARI
Pause—momen terakhir.
SARI
(berbisik)
Memeluk Raka—terakhir kali. Hangat meski dia arwah—kehangatan
cinta seorang ibu.
Lalu cahaya emas mengangkat tubuhnya—melayang naik perlahan.
Sari menatap Raka sambil naik—tersenyum dan menangis bersamaan.
Lambaian tangan perpisahan pelan.
Raka menatap ibunya menghilang—tangan terangkat seperti ingin
meraih tapi tidak bisa.
RAKA
(berteriak)
Tapi Sari sudah hilang—menjadi cahaya murni. Bebas akhirnya.
46 arwah bebas.
Hanya RADEN WIRYO SENTONO tersisa—berdiri seperti jenderal tua
siap perang terakhir. 103 tahun menunggu momen ini.
RADEN WIRYO
(menatap Raka dengan
hormat dan determinasi)
Raka menghapus air mata—fokus sekarang. Saatnya.
Menatap Lily—memberikan tatapan terakhir sebelum masuk.
RAKA
(ke Lily)
Pause.
RAKA
Lily menatapnya—air mata turun tapi suara kuat.