3:17: Jangkar Terakhir
9. SANDE KALA
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Air mata jatuh bebas sekarang—tidak bisa ditahan.

PAK YANTO

Karena aku pengecut. Karena aku pilih keluargaku di atas tanggung jawab. 47 orang mati. Siti Rahayu terkutuk dan mati muda. Bayinya jadi yatim piatu.

Lily berdiri—mendekat. Memegang tangan Pak Yanto dengan lembut—

memberikan comfort tanpa kata.

LILY

(lembut)

Bapak tidak tahu. Bapak tidak sengaja—

PAK YANTO

(memotong, keras pada

diri sendiri)

Tapi aku LARI. Aku tahu konsekuensinya dan aku tetap lari.

Menatap Raka.

PAK YANTO

Jangan seperti aku, Nak. Jangan hidup 37 tahun dengan penyesalan ini.

INT. BENGKEL JAM - BERSAMBUNG (SERANGAN SANDE KALA)

Tiba-tiba suhu ANJLOK drastis—lebih intens dari biasanya. Lebih

dingin dari manifestasi 03:17 normal.

Bukan 03:17 sekarang—ini BERBEDA. Ini serangan langsung.

Jam-jam di dinding BERPUTAR MUNDUR sendiri—jarum bergerak

melawan waktu dengan cepat. Bunyi detik jadi KERAS—deafening.

Kaca jendela RETAK—garis-garis retak menyebar seperti laba-laba.

Dari bayangan pojok ruangan—bayangan yang terlalu gelap untuk

siang hari:

SANDE KALA muncul.

Bukan arwah. Bukan hantu. MAKHLUK PURBA.

Bentuk hitam amorphous yang selalu berubah. Ribuan mata muncul

dan menghilang. Ribuan mulut terbuka dalam jeritan tanpa suara.

Ribuan tangan meraih ke segala arah.

Kuno.Lapar. MENGERIKAN.

Ruangan bergetar. Barang-barang jatuh dari rak.

Suara telepati langsung ke otak—bukan bahasa manusia, tapi

KONSEP yang menyakitkan, yang memaksa masuk ke pikiran:

SANDE KALA (TELEPATI):

Bocah itu... memudar... pintu... terbuka... Segera... aku... berpesta... ribuan... akhirnya... bebas...


Raka BERTERIAK—jatuh berlutut. Tangan memegang kepala—rasa sakit

luar biasa seperti kepala mau meledak.

Lily mencoba menarik Raka menjauh tapi dia juga merasakan

tekanan mental seperti gravitasi 10x lipat. Sulit bernapas.

Sulit berpikir.

Pak Yanto berdiri—tangan bercahaya TERANG untuk pertama kali

dalam 37 tahun. Cahaya emas yang hampir padam kini menyala

kembali—dipaksa oleh keadaan darurat.

Melangkap di depan Raka dan Lily—seperti perisai. Melindungi.

PAK YANTO

(berteriak dengan

seluruh kekuatan)

KAU TIDAK BISA MASUK! PINTU MASIH DITUTUP! JANGKAR MASIH HIDUP!

SANDE KALA (TELEPATI):

Orang tua... kau... menolak... tugas...
Kau... berutang... padaku... jiwa...
47... jiwa... yang... kau... janjikan...

Makhluk bergerak lebih dekat—udara jadi semakin dingin. Napas

membeku di udara.

Pak Yanto menyentuh Makhluk dengan tangan bercahaya—kontak

langsung.

Cahaya emas meledak seperti granat—BOOM.

Makhluk MERAUNG mengerikan—bunyi yang membuat jendela pecah,

yang membuat telinga berdarah, yang membuat jiwa gemetar.

Tersedot kembali ke bayangan—dipaksa mundur oleh cahaya.

Tapi sebelum hilang sepenuhnya—

Satu tangan panjang dengan kuku seperti pisau MENCAKAR wajah Pak

Yanto dari dahi sampai pipi—luka dalam, brutal.

Darah jatuh ke lantai kayu—MENDIDIH saat menyentuh tanah. Asap

hitam mengepul. Bau belerang.

Makhluk hilang—tersedot kembali ke dimensinya.

Suhu kembali normal perlahan. Jam-jam berhenti di 03:17 lagi.

Jendela berhenti retak.

Tapi kerusakan sudah terjadi.

Pak Yanto runtuh—Lily menangkap sebelum jatuh ke lantai. Raka

membantu menurunkan ke kursi.

Luka wajah MEMBARA seperti terkena asam—tidak menutup normal.

Terus berdarah. Terus berasap.

PAK YANTO

(lemah, napas tersengal,

susah bicara)

Makhluk itu... tahu kau sekarat...

Batuk darah—merah gelap, tidak normal.

PAK YANTO

Dia menunggu pintu terbuka. Kali ini bukan cuma 47 orang.

Menatap Raka dengan mata berkaca-kaca—takut untuk Raka, takut

untuk dunia.

PAK YANTO

Dia lapar 37 tahun sejak pintu terakhir terbuka karena aku.
Ribuan akan mati dalam sehari pertama. Puluhan ribu dalam seminggu. Ratusan ribu dalam sebulan.

Menggenggam tangan Raka dengan tangan berdarah.

PAK YANTO

Jangan biarkan itu terjadi. Apapun yang terjadi... jangan.

INT. BENGKEL JAM - RUANG BELAKANG - MALAM

Pak Yanto tidur di sofa tua—luka diperban tapi masih berasap

tipis. Napas pelan tapi stabil.

Lily sudah mengobati dengan antiseptik terbaik yang ada. Tapi

luka dari makhluk dimensi lain tidak sembuh seperti luka normal.

Raka dan Lily di meja makan kecil—dokumen kuno tersebar. Cahaya

lampu meja kuning redup. Jam dinding menunjuk 23:34.

Lily mengangkat manuskrip—tulisan Cina kuno dengan terjemahan

Jawa di sampingnya.

Membaca dengan suara pelan—konsentrasi tinggi.

LILY

(membaca)

"Ada satu cara lain untuk menghentikan siklus jangkar..."


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)