Kafe kecil dekat kampus. Cozy. Musik indie pelan.
Raka dan Lily duduk di meja pojok—dua cappuccino di meja.
Sudah 3 minggu sejak pertemuan. Semakin dekat. Tapi juga semakin
banyak perbedaan pendapat.
Lily membuka laptop—menunjukkan research terbaru.
LILY
(optimis)
Memutar layar ke Raka.
LILY
Raka menatap layar—membaca.
RAKA
(skeptis, lelah)
LILY
(tidak menyerah)
RAKA
(memotong, pasrah)
Lily menatapnya—frustrated.
LILY
RAKA
(tenang tapi lelah)
Menatap tangannya yang 35% transparan sekarang.
RAKA
Menatap Lily.
RAKA
LILY
(tegas)
RAKA
(defensif)
Mereka terdiam—tension.
Cappuccino dingin—tidak diminum.
LILY
(pelan)
Raka menatapnya—tidak ada jawaban.
LILY
(melanjutkan)
RAKA
(frustrated)
Suara sedikit keras—beberapa orang di kafe menoleh.
Raka menyadari—menurunkan suara.
RAKA
(lebih pelan, tapi
emosional)
LILY
(marah sekarang)
RAKA
(berdiri)
Mengambil tas—mau pergi.
Lily menarik tangannya—menahan.
LILY
(pelan tapi tegas)
Mereka menatap satu sama lain.
Raka duduk lagi—lelah.
Diam panjang.
LILY
(lebih tenang sekarang)
Menatap Raka.
LILY
Pause.
LILY
Raka menatap Lily lama.
Menghela napas panjang.
RAKA
(pelan)
LILY
Menggenggam tangan Raka.
LILY
Raka mengangguk—masih lelah tapi tidak menyerah lagi.
MONTASE - BERBAGAI LOKASI - 3 BULAN KEMUDIAN (JANUARI
2027)
A) Museum Nasional Jakarta - Pagi:
Ruang arsip dingin dengan AC yang terlalu kencang. Dokumen lama
tersimpan dalam box karton berlabel tahun.
Raka dan Lily meneliti arsip Kyai Sadewo di meja panjang kayu.
Sarung tangan putih wajib untuk menyentuh dokumen.
Foto hitam-putih tahun 1920-an tersebar di meja. Wajah-wajah
orang yang sudah lama mati menatap kosong dari foto.
Artikel koran kuno dengan huruf Belanda—kertas rapuh, kuning:
"Kejadian Aneh di Dieng - 47 Orang Hilang Misterius Semalam.
Polisi Bingung."
LILY
(membaca dengan suara
pelan)
Menatap Raka.
LILY
Raka menatap foto Kyai Sadewo—mata putih susu menatap kamera
dengan tatapan yang tahu sesuatu.
RAKA
Lily memfoto halaman dengan handphone—flash tidak boleh, jadi
foto gelap.
PETUGAS ARSIP (60-an, kacamata tebal) mendekat.
PETUGAS ARSIP
Lily menatap jam—11:58. Masih banyak dokumen yang belum dilihat.
B) Perpustakaan UI - Depok - Sore:
Perpustakaan besar dengan lantai marmer. Mahasiswa belajar di
meja-meja panjang.
Raka dan Lily di pojok—dikelilingi tumpukan buku kuno setinggi
satu meter.
Manuskrip kuno paranormal Jawa. Tulisan tangan dengan tinta
pudar—sulit dibaca.
LILY
(menyipitkan mata,
membaca)
Menoleh ke Raka.
LILY
RAKA
(mengangkat bahu)
Lily memfoto halaman-halaman dengan handphone—ratusan foto.
Tangan mulai pegal.
Raka membaca buku lain dengan frustrasi—garis demi garis
mengatakan hal yang sama:
"Pintu harus dijaga. Tidak ada jalan lain. Pengorbanan adalah
keharusan."
Dia membanting buku—terlalu keras. Mahasiswa lain menatap
sebentar, lalu kembali ke buku masing-masing.
RAKA
(berbisik frustrasi)
Lily memegang tangannya—tangan Raka 45% transparan sekarang,
tapi masih bisa dirasakan.
LILY
Tapi matanya tidak yakin.
C) Rumah Dukun - Gunung Lawu - Malam:
Rumah kayu tua di lereng gunung. Kabut tebal. Anjing
menggonggong dari kejauhan.
MBAH KARSO (80-an, dukun tua dengan mata katarak putih, tapi
aura sangat kuat) duduk bersila di tikar.
Raka dan Lily duduk berhadapan—candle light satu-satunya
penerangan.
Mbah Karso memegang tangan Raka lama—mata tertutup, merasakan
energi.
Tubuhnya tiba-tiba KAKU—seperti tersengat listrik.
MBAH KARSO
(suara bergetar)
Membuka mata—menatap Raka dengan tatapan yang bisa melihat lebih
dari fisik.
MBAH KARSO
Raka menarik napas cepat—merinding.
RAKA
Mbah Karso menggeleng sedih—melepas tangan Raka.
MBAH KARSO
Mengambil dupa—menyalakannya. Asap tipis mengepul.
MBAH KARSO
Menatap Raka tajam.
MBAH KARSO
Lily menatap lantai—tangan terkepal.
LILY
MBAH KARSO
(memotong, tegas)