3:17: Jangkar Terakhir
10. Jangan Biarkan Aku Mati
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Jari mengikuti tulisan dengan hati-hati.

LILY

(melanjutkan)

"Jangkar bisa diganti sebelum mati—kalau ada orang lain dengan mata ketiga yang RELA terima transfer."

Berhenti membaca. Menatap Raka.

Ada keputusan di mata Lily. Keputusan yang sudah dia pikirkan

berhari-hari.

LILY

(pelan tapi tegas)

Aku punya mata ketiga, Raka. Aku bisa jadi jangkar berikutnya.
Aku bisa—

RAKA

(potong, keras, langsung

berdiri)

TIDAK.

Suara keras—final. Tidak ada ruang negosiasi.

LILY

(tetap tenang)

Raka, dengar dulu—

RAKA

(emosional, frustrated)

TIDAK ADA YANG PERLU DIDENGAR!

Berjalan menjauh—tidak bisa duduk diam. Terlalu emosional.

RAKA

(punggung menghadap

Lily, suara bergetar)

Aku sudah hilang tujuh tahun karena kutukan ini!

Berbalik—menatap Lily dengan mata penuh air mata.

RAKA

Tujuh tahun tidak punya teman.
Tujuh tahun dilihat seperti
monster. Tujuh tahun tubuh
perlahan menghilang.

Melangkah lebih dekat—desperate.

RAKA

Aku tidak akan biarkan kamu hilang juga! Kamu satu-satunya orang yang
benar-benar melihat aku—yang
benar-benar ADA untuk aku!

Air mata jatuh—tidak bisa ditahan.

RAKA

(berteriak)

AKU LEBIH BAIK MATI DARIPADA MENGUTUKMU!

Lily berdiri—tenang meski mata berkaca-kaca. Mendekat ke Raka.

Berdiri berhadapan—jarak hanya 30 cm. Bisa merasakan napas satu

sama lain.

LILY

(pelan tapi sangat

tegas)

Dan aku lebih baik terkutuk daripada kehilangan kamu.

Raka menatapnya—shock, tidak percaya, tidak mengerti.

LILY

(melanjutkan, suara

bergetar tapi kuat)

Dalam tiga bulan ini... kamu jadi orang yang paling penting dalam hidupku.

Pause—eye contact tidak putus.

LILY

Orang pertama yang mengerti aku.
Mengerti rasanya hidup di dua dunia. Melihat yang orang lain tidak lihat. Merasa sendirian di tengah keramaian.

Air mata jatuh di pipi Lily—untuk pertama kali Raka melihat Lily

menangis.

LILY

Untuk pertama kali dalam 20 tahun hidup... aku tidak sendirian.

Menggenggam tangan Raka yang transparan—hangat meski hampir

tidak terlihat.

LILY

(berbisik)

Jadi jangan minta aku biarkan kamu mati. Karena aku tidak bisa. Aku tidak sanggup.

Raka menatapnya lama—mengerti perasaan itu karena dia merasakan

hal yang sama.

Maju—memeluk Lily erat.

Mereka berpelukan lama dalam keheningan. Hanya suara jam tua

yang berdetak di ruangan sebelah.

RAKA

(berbisik di pelukan)

Kita akan cari cara lain. Harus ada cara lain. Aku janji.

Lily mengangguk di pelukan—tapi di dalam hati, dia tahu

kemungkinannya kecil.

Dari ruangan sebelah—Pak Yanto terbangun. Mendengar percakapan

itu. Tersenyum sedih.

Dia tahu perasaan itu. Tahu dilema itu. Dia pernah ada di posisi

yang sama 37 tahun lalu.

Dan dia memilih lari.

INT. BENGKEL JAM - FAJAR (FEBRUARI 2027)

Cahaya fajar mulai masuk dari jendela. Bandung tua mulai bangun—

suara becak, pedagang kaki lima, burung.

Raka berdiri di jendela—menatap matahari terbit di atas atap tua

Braga yang masih mempertahankan arsitektur Belanda.

60% transparan sekarang. Bisa melihat jantung berdetak di dada.

Bisa melihat paru-paru mengembang kempis. Seperti anatomi hidup.

Lily mendekat dari belakang—membawa dua cangkir kopi panas.

Memberikan satu ke Raka.

Berdiri di sampingnya—diam. Menikmati fajar bersama.

LILY

(pelan, tidak menatap

Raka)

Kau tidak harus lakukan ini.

Raka menyeruput kopi—hangat di tenggorokan.

RAKA

(tanpa berbalik)

Ibu memberikan hidupnya supaya aku bisa hidup.

Pause—mengingat momen di mobil yang tenggelam.

RAKA

Pak Yanto hidup 37 tahun dengan rasa bersalah karena tidak terima tanggung jawab.

Menatap matahari yang semakin tinggi.


RAKA

47 arwah terjebak 103 tahun karena kutukan ini. Menderita tanpa akhir.

Berbalik—menatap Lily.

RAKA

Kalau aku bisa hentikan semua ini—
berikan semua orang kebebasan,
berakhirkan siklus kutukan—mungkin tujuh tahun penderitaan ada artinya.

Lily menatapnya—sedih tapi bangga.

LILY

Tapi kamu tidak harus hilang
selamanya.

RAKA

(tersenyum kecil—pahit)

Pak Yanto bilang ada cara. Masuk LOKA SUNYA sebentar, kunci pintu, keluar.

LILY

"Secara teori."

Meniru kata-kata Pak Yanto dengan nada skeptis.

RAKA

(mengakui)

Ya. Secara teori.

Mereka terdiam—menimbang risiko.

RAKA

Tapi ini satu-satunya cara tanpa ada yang terkutuk lagi.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)