AKHIR MONTASE.
EXT. UNIVERSITAS CIWIDEY - PARKIR - PAGI - HARI INI (2026)
Pagi cerah. Mahasiswa berdatangan dengan motor dan mobil.
RAKA (20, mahasiswa tahun kedua, 30% tubuhnya transparan—bisa
melihat bayangan organ internal, seperti hologram yang rusak)
parkir motor Yamaha tua di pojok parkiran—jauh dari motor lain.
Melepas helm. Menatap tangannya yang setengah transparan—sudah
terbiasa tapi masih menyakitkan setiap kali melihat.
Mahasiswa lain lewat—tidak ada yang menatap. Atau pura-pura
tidak lihat. Lebih mudah tidak peduli.
Raka mengambil tas—berjalan ke gedung kuliah.
LILY KUSUMA (20, keturunan Tionghoa-Indonesia, mahasiswa tahun
kedua, hijab hitam rapi, mata SANGAT TAJAM seperti bisa melihat
lebih dari yang lain) berdiri di samping motor vespa pink-nya.
Dia mengamati Raka dengan intens—tidak takut, tidak jijik.
Hanya... penasaran dan prihatin.
Raka merasakan tatapan. Mendongak.
Mata mereka bertemu—KONEKSI instant.
Lily tidak mengalihkan pandangan—menatap langsung ke mata Raka.
Tidak seperti yang lain.
Raka memutuskan kontak mata pertama—sudah terbiasa diabaikan,
tidak terbiasa dilihat.
Lily terus menatap—melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa
lihat.
INT. UNIVERSITAS - RUANG KULIAH - SIANG
Kuliah Kalkulus 2.
PAK HENDRA (50-an, dosen killer dengan reputasi nilai pelit)
menulis rumus integral rumit di papan tulis—chalk berderit.
30 mahasiswa di kelas—sebagian mencatat serius, sebagian main HP
sembunyi-sembunyi.
Raka duduk di pojok belakang kanan—sendirian. Tiga kursi kosong
di kanan kirinya seperti zona dead.
Menaruh tas di kursi sebelah—tidak perlu, tapi refleks
defensive.
Lily masuk terlambat 5 menit—Pak Hendra menatap tajam tapi tidak
menegur.
Lily berjalan langsung ke baris Raka—duduk DUA KURSI di
sebelahnya. Tidak langsung di samping, tapi cukup dekat.
Mahasiswa lain menatap—shock. Berbisik satu sama lain.
Raka menatap Lily—bingung. Kenapa dia duduk dekat?
Lily tidak menatap Raka—fokus ke depan, mencatat.
Jam dinding digital: 03:14.
Tiga menit lagi.
Raka mulai cemas—menarik napas dalam, bersiap.
03:16.
Raka melepas jaket—letakkan di tas. Gulung lengan baju. Bersiap
seperti atlet sebelum lomba.
Mahasiswa yang biasa duduk dekat mulai geser kursi lebih jauh—
sudah tahu pola.
03:17.
Suhu ruangan ANJLOK drastis—seperti freezer terbuka mendadak.
Napas semua orang mengembun tebal—seperti winter tiba-tiba.
MAHASISWA 1
(menggosok lengan)
MAHASISWA 2
Pak Hendra terus mengajar—sudah terbiasa dengan "anomali AC."
47 ARWAH muncul di sekitar Raka—memenuhi ruangan seperti asap
tebal yang bergerak.
Hanya Raka yang melihat—ATAU BEGITU DIA PIKIR.
CLOSE UP: LILY—MENATAP LANGSUNG KE RADEN WIRYO SENTONO YANG
BERDIRI TEPAT DI BELAKANG RAKA.
Wiryo (47, baju mandor putih 1920-an, postur tegap meski
transparan) menatap Lily balik.
Mata mereka bertemu.
Wiryo SHOCK—untuk pertama kali dalam 103 tahun, ada orang lain
yang melihatnya. Benar-benar melihat, tidak hanya merasakan.
Lily tersenyum kecil—memberi hormat dengan anggukan kepala
kecil. Respect.
Wiryo membungkuk sedikit—sopan santun Jawa kuno.
Lily membuka buku catatan—menulis dengan huruf besar:
"AKU MELIHAT MEREKA JUGA."
Merobek kertas dengan hati-hati—tidak berisik. Melipat rapi.
03:18.
Arwah MENGHILANG seperti asap tertiup angin—perlahan memudar
satu per satu.
Suhu kembali normal. Mahasiswa kembali fokus mencatat.
Lily berdiri—berjalan ke baris Raka dengan tenang.
Meletakkan kertas lipatan di meja Raka—tidak bilang apa-apa.
Kembali ke tempat duduknya.
Raka menatap kertas itu—tangan gemetar mengambil.
Membuka lipatan dengan hati-hati.
Membaca.
Mata melebar—tidak percaya. Membaca lagi. Dan lagi.
Menatap Lily—Lily menatap balik. Tersenyum kecil.
Raka merasakan sesuatu yang tidak dia rasakan selama 7 tahun:
HARAPAN.
INT. UNIVERSITAS - KANTIN - SIANG (PENGEMBANGAN LEBIH DALAM)
Kantin ramai dengan suara mahasiswa mengobrol keras, piring
beradu, sendok garpu berdetak, musik pop Indonesia dari speaker—
semua jadi noise wall.
Raka duduk sendirian di meja pojok—zona karantina invisible yang
sudah jadi rutinitas 2 tahun kuliah.
Nasi goreng di piringnya dingin—belum dimakan. Tidak ada nafsu
makan. Seperti biasa.
Menatap piring kosong—pikiran melayang.
Lily mendekat dengan nampan makan siang—bakso komplit dengan
tahu, telur, pangsit. Teh manis es. Kerupuk.
Kantin perlahan HENING—percakapan berhenti satu per satu seperti
efek domino.
Semua mata menatap.
MAHASISWA 3 (cewek, 20) menyikut MAHASISWA 4 (cowok, 20):
MAHASISWA 3
(berbisik)
MAHASISWA 4
(shock)
MAHASISWA 3
Tapi semua tetap menatap.
Lily mengabaikan semua tatapan—duduk berhadapan dengan Raka
dengan gerakan tenang. Menaruh nampan. Buka tissue. Buka bungkus
sendok. Mulai makan.
Seperti ini hal yang paling wajar di dunia.
Raka menatapnya—shock, bingung, takut sekaligus. Tidak bergerak.
Tidak bernapas.
Lily makan bakso—meniup kuah yang panas. Tenang. Tidak
tergesagesa.
Sepuluh detik berlalu dalam diam.
LILY
(tanpa mendongak dari
bakso)
Suara tenang, casual. Seperti bertemu teman lama.
Raka mengangguk pelan—tidak berani bicara. Suara hilang.
Lily mengangkat kepala—menatap Raka dengan mata tajam tapi tidak
menghakimi.
LILY
Menyendok bakso. Makan.
LILY
(matter-of-fact)
Langsung to the point. Tidak ada basa-basi. Tidak ada drama.
Seperti bilang "hari ini hujan."
Raka menarik napas cepat—seperti ditampar air dingin.
RAKA
(berbisik, suara
gemetar, tidak percaya)
Suaranya hampir tidak keluar—antara harapan dan ketakutan.
Lily berhenti makan. Meletakkan sendok dengan pelan. Menatap
Raka tajam—mata yang bisa melihat lebih dari orang normal.
Pause panjang—tension.
LILY
(tenang, matter-of-fact)
Raka menatapnya—tidak bisa bernapas. Tujuh tahun sendirian—
akhirnya ada seseorang.
Lily kembali makan—menyendok kuah. Meniup—terlalu panas.
Menunggu dingin.
LILY
Makan pangsit.
LILY
(sambil mengunyah)
Pause.
LILY
(menatap Raka lagi)
Menaruh sendok—serius sekarang.
LILY
Raka mundur di kursi—seperti tertangkap basah mencuri. Tangan
gemetar. Defensive.
RAKA
(gemetar, defensive,
takut)
LILY
(memotong, calm, tidak
terpengaruh)
Menunjuk dengan sendok ke arah Raka.
LILY
Menatap tajam.
LILY
Pause—biarkan informasi diserap.
LILY
Raka berbalik cepat—melihat arwah Wiryo berdiri di belakangnya.
Wiryo menatap Lily dengan kagum dan lega mendalam—103 tahun
sendirian akhirnya ada yang bisa komunikasi.
Raka berbalik lagi ke Lily—mata lebar, berair. Tangan memegang
ujung meja—cari pegangan agar tidak jatuh.
RAKA
(suara patah, hampir
menangis)
Air mata mulai jatuh—tidak bisa ditahan lagi. Sudah terlalu lama
ditahan.
RAKA
Napas tersengal. Menangis.
Lily mengulurkan tangan melewati meja—memegang tangan Raka yang
transparaan.
Hangat. Nyata. Tidak takut dengan transparansinya. Tidak jijik.
Mahasiswa di sekitar menatap dengan mata lebar—shock. Ada yang
foto diam-diam dengan HP.
Tapi Lily tidak peduli.
LILY
(tegas tapi lembut)
Genggaman lebih erat.
LILY
Pause—menatap mata Raka langsung. Eye contact tidak putus.
LILY
(lebih serius sekarang)
Raka menatap tangannya yang transparan—terhitung, scientifik,
real. Bukan halusinasi.
LILY
Melepas tangan—kembali makan. Tapi lebih serius sekarang—tidak
casual lagi.
LILY
Pause—menatap Raka.
LILY
Dia berhenti. Tidak ingin mengatakannya tapi harus.
RAKA
(mengerti, melanjutkan)
Suara datar—sudah tahu ini dari tahun-tahun sendirian mencari
jawaban.
Lily mengangguk pelan—sedih tapi realistis.
LILY
Mereka duduk dalam diam—suara kantin perlahan kembali normal.
Mahasiswa kembali ke percakapan mereka tapi sesekali melirik ke
meja Raka dan Lily.
RAKA
(pelan, masih tidak
percaya)
LILY
(memotong, tersenyum
kecil—sedih tapi tulus)
Pause.