3:17: Jangkar Terakhir
4. Aku Melihat Mereka Juga
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

AKHIR MONTASE.

EXT. UNIVERSITAS CIWIDEY - PARKIR - PAGI - HARI INI (2026)

Pagi cerah. Mahasiswa berdatangan dengan motor dan mobil.

RAKA (20, mahasiswa tahun kedua, 30% tubuhnya transparan—bisa

melihat bayangan organ internal, seperti hologram yang rusak)

parkir motor Yamaha tua di pojok parkiran—jauh dari motor lain.

Melepas helm. Menatap tangannya yang setengah transparan—sudah

terbiasa tapi masih menyakitkan setiap kali melihat.

Mahasiswa lain lewat—tidak ada yang menatap. Atau pura-pura

tidak lihat. Lebih mudah tidak peduli.

Raka mengambil tas—berjalan ke gedung kuliah.

LILY KUSUMA (20, keturunan Tionghoa-Indonesia, mahasiswa tahun

kedua, hijab hitam rapi, mata SANGAT TAJAM seperti bisa melihat

lebih dari yang lain) berdiri di samping motor vespa pink-nya.

Dia mengamati Raka dengan intens—tidak takut, tidak jijik.

Hanya... penasaran dan prihatin.

Raka merasakan tatapan. Mendongak.

Mata mereka bertemu—KONEKSI instant.

Lily tidak mengalihkan pandangan—menatap langsung ke mata Raka.

Tidak seperti yang lain.

Raka memutuskan kontak mata pertama—sudah terbiasa diabaikan,

tidak terbiasa dilihat.

Lily terus menatap—melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa

lihat.

INT. UNIVERSITAS - RUANG KULIAH - SIANG

Kuliah Kalkulus 2.

PAK HENDRA (50-an, dosen killer dengan reputasi nilai pelit)

menulis rumus integral rumit di papan tulis—chalk berderit.

30 mahasiswa di kelas—sebagian mencatat serius, sebagian main HP

sembunyi-sembunyi.

Raka duduk di pojok belakang kanan—sendirian. Tiga kursi kosong

di kanan kirinya seperti zona dead.

Menaruh tas di kursi sebelah—tidak perlu, tapi refleks

defensive.

Lily masuk terlambat 5 menit—Pak Hendra menatap tajam tapi tidak

menegur.

Lily berjalan langsung ke baris Raka—duduk DUA KURSI di

sebelahnya. Tidak langsung di samping, tapi cukup dekat.

Mahasiswa lain menatap—shock. Berbisik satu sama lain.

Raka menatap Lily—bingung. Kenapa dia duduk dekat?

Lily tidak menatap Raka—fokus ke depan, mencatat.

Jam dinding digital: 03:14.

Tiga menit lagi.

Raka mulai cemas—menarik napas dalam, bersiap.

03:16.

Raka melepas jaket—letakkan di tas. Gulung lengan baju. Bersiap

seperti atlet sebelum lomba.

Mahasiswa yang biasa duduk dekat mulai geser kursi lebih jauh—

sudah tahu pola.

03:17.

Suhu ruangan ANJLOK drastis—seperti freezer terbuka mendadak.

Napas semua orang mengembun tebal—seperti winter tiba-tiba.

MAHASISWA 1

(menggosok lengan)

Ih dingin banget tiba-tiba! AC rusak ya?

MAHASISWA 2

Biasa ini. Setiap hari jam segini dingin.

Pak Hendra terus mengajar—sudah terbiasa dengan "anomali AC."

47 ARWAH muncul di sekitar Raka—memenuhi ruangan seperti asap

tebal yang bergerak.

Hanya Raka yang melihat—ATAU BEGITU DIA PIKIR.

CLOSE UP: LILY—MENATAP LANGSUNG KE RADEN WIRYO SENTONO YANG

BERDIRI TEPAT DI BELAKANG RAKA.

Wiryo (47, baju mandor putih 1920-an, postur tegap meski

transparan) menatap Lily balik.

Mata mereka bertemu.

Wiryo SHOCK—untuk pertama kali dalam 103 tahun, ada orang lain

yang melihatnya. Benar-benar melihat, tidak hanya merasakan.

Lily tersenyum kecil—memberi hormat dengan anggukan kepala

kecil. Respect.

Wiryo membungkuk sedikit—sopan santun Jawa kuno.

Lily membuka buku catatan—menulis dengan huruf besar:

"AKU MELIHAT MEREKA JUGA."

Merobek kertas dengan hati-hati—tidak berisik. Melipat rapi.

03:18.

Arwah MENGHILANG seperti asap tertiup angin—perlahan memudar

satu per satu.

Suhu kembali normal. Mahasiswa kembali fokus mencatat.

Lily berdiri—berjalan ke baris Raka dengan tenang.


Meletakkan kertas lipatan di meja Raka—tidak bilang apa-apa.

Kembali ke tempat duduknya.

Raka menatap kertas itu—tangan gemetar mengambil.

Membuka lipatan dengan hati-hati.

Membaca.

Mata melebar—tidak percaya. Membaca lagi. Dan lagi.

Menatap Lily—Lily menatap balik. Tersenyum kecil.

Raka merasakan sesuatu yang tidak dia rasakan selama 7 tahun:

HARAPAN.

INT. UNIVERSITAS - KANTIN - SIANG (PENGEMBANGAN LEBIH DALAM)

Kantin ramai dengan suara mahasiswa mengobrol keras, piring

beradu, sendok garpu berdetak, musik pop Indonesia dari speaker—

semua jadi noise wall.

Raka duduk sendirian di meja pojok—zona karantina invisible yang

sudah jadi rutinitas 2 tahun kuliah.

Nasi goreng di piringnya dingin—belum dimakan. Tidak ada nafsu

makan. Seperti biasa.

Menatap piring kosong—pikiran melayang.

Lily mendekat dengan nampan makan siang—bakso komplit dengan

tahu, telur, pangsit. Teh manis es. Kerupuk.

Kantin perlahan HENING—percakapan berhenti satu per satu seperti

efek domino.

Semua mata menatap.

MAHASISWA 3 (cewek, 20) menyikut MAHASISWA 4 (cowok, 20):

MAHASISWA 3

(berbisik)

Eh... itu Lily mau duduk sama Raka?

MAHASISWA 4

(shock)

Gila dia? Bukannya tau Raka itu—

MAHASISWA 3

Ssst! Jangan keras-keras!

Tapi semua tetap menatap.

Lily mengabaikan semua tatapan—duduk berhadapan dengan Raka

dengan gerakan tenang. Menaruh nampan. Buka tissue. Buka bungkus

sendok. Mulai makan.

Seperti ini hal yang paling wajar di dunia.

Raka menatapnya—shock, bingung, takut sekaligus. Tidak bergerak.

Tidak bernapas.

Lily makan bakso—meniup kuah yang panas. Tenang. Tidak

tergesagesa.

Sepuluh detik berlalu dalam diam.

LILY

(tanpa mendongak dari

bakso)

Kamu Raka, kan?

Suara tenang, casual. Seperti bertemu teman lama.

Raka mengangguk pelan—tidak berani bicara. Suara hilang.

Lily mengangkat kepala—menatap Raka dengan mata tajam tapi tidak

menghakimi.

LILY

Aku Lily. Mahasiswa Teknik
Informatika.

Menyendok bakso. Makan.

LILY

(matter-of-fact)

Kamu sekarat, dan aku tahu kenapa.

Langsung to the point. Tidak ada basa-basi. Tidak ada drama.

Seperti bilang "hari ini hujan."

Raka menarik napas cepat—seperti ditampar air dingin.

RAKA

(berbisik, suara

gemetar, tidak percaya)

Kamu... kamu bisa lihat mereka?

Suaranya hampir tidak keluar—antara harapan dan ketakutan.

Lily berhenti makan. Meletakkan sendok dengan pelan. Menatap

Raka tajam—mata yang bisa melihat lebih dari orang normal.

Pause panjang—tension.

LILY

(tenang, matter-of-fact)

Setiap hari sejak umur lima tahun.

Raka menatapnya—tidak bisa bernapas. Tujuh tahun sendirian—

akhirnya ada seseorang.

Lily kembali makan—menyendok kuah. Meniup—terlalu panas.

Menunggu dingin.


LILY

Nenek buyut dari pihak Mama punya
"hadiah" sama. Warisan keluarga.

Makan pangsit.

LILY

(sambil mengunyah)

Blessing sekaligus curse. Tergantung cara lihat.

Pause.

LILY

(menatap Raka lagi)

Tapi kamu berbeda. Kamu bukan cuma bisa lihat. Kamu... memegang
mereka.

Menaruh sendok—serius sekarang.

LILY

Empat puluh tujuh sekaligus.

Raka mundur di kursi—seperti tertangkap basah mencuri. Tangan

gemetar. Defensive.

RAKA

(gemetar, defensive,

takut)

Bagaimana kamu tahu jumlahnya? Bagaimana kamu bisa— kamu tidak
mungkin—

LILY

(memotong, calm, tidak

terpengaruh)

Karena aku hitung. Di kelas tadi. 03:17.


Menunjuk dengan sendok ke arah Raka.


LILY

47 arwah. Aku hitung satu per satu. 29 prajurit Mataram. 17 pemimpin dan jenderal. 1 jangkar asli.

Menatap tajam.

LILY

Dan karena salah satu dari mereka—
yang di belakang kamu sekarang
meski bukan 03:17—adalah Raden Wiryo Sentono.

Pause—biarkan informasi diserap.

LILY

Jangkar pertama. 17 Maret 1923.
Candi Dieng.

Raka berbalik cepat—melihat arwah Wiryo berdiri di belakangnya.

Wiryo menatap Lily dengan kagum dan lega mendalam—103 tahun

sendirian akhirnya ada yang bisa komunikasi.

Raka berbalik lagi ke Lily—mata lebar, berair. Tangan memegang

ujung meja—cari pegangan agar tidak jatuh.

RAKA

(suara patah, hampir

menangis)

Tujuh tahun... tujuh tahun aku sendirian...

Air mata mulai jatuh—tidak bisa ditahan lagi. Sudah terlalu lama

ditahan.

RAKA

Tidak ada yang percaya. Tidak ada
yang bisa lihat. Mereka bilang aku gila— bilang aku butuh dokter
jiwa— bilang aku—

Napas tersengal. Menangis.

Lily mengulurkan tangan melewati meja—memegang tangan Raka yang

transparaan.

Hangat. Nyata. Tidak takut dengan transparansinya. Tidak jijik.

Mahasiswa di sekitar menatap dengan mata lebar—shock. Ada yang

foto diam-diam dengan HP.

Tapi Lily tidak peduli.

LILY

(tegas tapi lembut)

Kamu tidak gila.

Genggaman lebih erat.

LILY

Dan kamu tidak sendirian lagi.

Pause—menatap mata Raka langsung. Eye contact tidak putus.

LILY

(lebih serius sekarang)

Kamu punya enam bulan sebelum memudar sepenuhnya. Aku sudah hitung progression-nya dari 2024.

Raka menatap tangannya yang transparan—terhitung, scientifik,

real. Bukan halusinasi.

LILY

Lima persen setiap bulan. Progres
eksponensial. Agustus 2027 kamu akan hilang total.

Melepas tangan—kembali makan. Tapi lebih serius sekarang—tidak

casual lagi.


LILY

Kita perlu cari cara lepaskan mereka. Semua 47 arwah.

Pause—menatap Raka.

LILY

Atau kamu akan mati—

Dia berhenti. Tidak ingin mengatakannya tapi harus.

RAKA

(mengerti, melanjutkan)

Dan pintu akan terbuka.

Suara datar—sudah tahu ini dari tahun-tahun sendirian mencari

jawaban.

Lily mengangguk pelan—sedih tapi realistis.

LILY

Dan aku tidak mau itu terjadi.
Untuk kamu. Untuk dunia.

Mereka duduk dalam diam—suara kantin perlahan kembali normal.

Mahasiswa kembali ke percakapan mereka tapi sesekali melirik ke

meja Raka dan Lily.

RAKA

(pelan, masih tidak

percaya)

Kenapa kamu mau membantu? Kamu tidak kenal aku. Kamu tidak—

LILY

(memotong, tersenyum

kecil—sedih tapi tulus)

Karena aku tahu rasanya dilihat tapi tidak dilihat.

Pause.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)