Daftar isi
#1
Biografi Para Tokoh
#2
Chapter 1 Bagian 1 Pencarian Mitra
#3
Chapter 1 Bagian 2 Penenang
#4
Chapter 1 Bagian 3 Setengah Sadar
#5
Chapter 1 Bagian 4 Kampbønn
#6
Chapter 1 Bagian 5 Diincar
#7
Chapter 2 Bagian 1 Serangan Malware
#8
Chapter 2 Bagian 2 Strah
#9
Chapter 2 Bagian 3 Misi Bunuh Diri
#10
Chapter 2 Bagian 4 Vzlomat i zapustit
#11
Chapter 2 Bagian 5 Sembunyi
#12
Chapter 3 Bagian 1 Rumah Aman
#13
Chapter 3 Bagian 2 Diburu
#14
Chapter 3 Bagian 3 Bantuan
#15
Chapter 3 Bagian 4 De straf
#16
Chapter 3 Bagian 5 Laporan Misi
#17
Chapter 4 Bagian 1 Alþing
#18
Chapter 4 Bagian 2 Seiðr
#19
Chapter 4 Bagian 3 Schutzengel
#20
Chapter 4 Bagian 4 Naredba za hrabrost
#21
Chapter 4 Bagian 5 Informan?
#22
Chapter 4 Bagian 6 Nebrezhnyy
#23
Chapter 4 Bagian 7 Prizraki proshlogo
#24
Chapter 5 Bagian 1 Hinweisgeber
#25
Chapter 5 Bagian 2 Het dossier
#26
Chapter 5 Bagian 3 Diculik
#27
Chapter 5 Bagian 4 Pengambilan Kembali
#28
Chapter 5 Bagian 5 Unterstützungsangebot
#29
Chapter 6 Bagian 1 Den første runde med tortur
#30
Chapter 6 Bagian 2 Pengungkapan
#31
Chapter 6 Bagian 3 Een hulpeloze prinses
#32
Chapter 6 Bagian 4 De tweede marteling
#33
Chapter 6 Bagian 5 In ruil voor je vriendelijkheid en goede daden
#34
Chapter 7 Bagian 1 Terbangunnya Muhamed
#35
Chapter 7 Bagian 2 Kunjungan Muhamed ke Penjara
#36
Chapter 7 Bagian 3 De prinses en haar tijgerhart
#37
Chapter 7 Bagian 4 Yazichniki
#38
Chapter 7 Bagian 5 Der Tiger und der Wolf
#39
Chapter 7 Bagian 6 Selangkah Mundur
#40
Chapter 7 Bagian 7 Interogasi
#41
Chapter 7 Bagian 8 Ik ben Indisch, ik ben Indonesiër
#42
Chapter 8 Bagian 1 Das erloschene Feuer entfacht immer wieder
#43
Chapter 8 Bagian 2 Lodewijk dan Janji Tantri
#44
Chapter 8 Bagian 3 Rencana Pencarian Bukti Penyiksaan Lodewijk
#45
Chapter 8 Bagian 4 Opfer
#46
Chapter 8 Bagian 5 Memindahkan Lodewijk
#47
Chapter 8 Bagian 6 Merebut Kembali Lodewijk
#48
Tentang Penulis
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#32
Chapter 6 Bagian 4 De tweede marteling
Bagikan Chapter
[1] Bahasa Jerman: Dik, kenapa kamu enggak jawab?
[2] Bahasa Belanda: Ini enggak nyata, kan?
[3] Bahasa Jerman: Itu tergantung caramu melihat sesuatu.
[4] Bahasa Belanda: Ah, terserahlah.
[5] Bahasa Jerman: Berapa lama kamu bakal tiduran di situ?
[6] Bahasa Belanda: Enggak tahu, barangkali selamanya mungkin.
[7] Bahasa Jerman: Kamu pemalas, klasik seperti biasa.
[8] Bahasa Belanda: Heh, kamu tahu aku Ludwig.
[9] Bahasa Jerman: Ayolah, Lodewijk, bangun.
[10] Bahasa Belanda: Aku terlalu lelah untuk terus bertarung, Ludwig, terkadang aku harap aku mati, sama sepertimu.
[11] Bahasa Jerman: Dan kalau kamu mati, apa berikutnya?
[12] Bahasa Jerman: Kalau kamu mati, ini enggak akan berakhir baik dan banyak korban bakal berjatuhan.
[13] Bahasa Belanda: Aku tahu, tetapi aku terlalu lelah.
[14] Bahasa Belanda: Aku enggak bisa meneruskan ini lagi. Aku seseorang yang gagal dan aku enggak bisa melindungi mereka.
[15] Bahasa Jerman: Kamu tahu, Lodewijk? Melindungi mereka bukan pekerjaanmu, itu pekerjaan Tuhan, Lodewijk. Kamu hanya bisa berusaha, sisanya ... bergantung sama kehendak Tuhan.
[16] Bahasa Belanda: Ya, aku mengetahui itu, tetapi aku harap aku tidak selemah ini, aku harap aku kuat, sama sepertimu, Kak.
[17] Bahasa Jerman: Kamu tahu, Lodewijk? Kamu lebih kuat daripada aku, aku pernah benci kamu, tetapi kamu enggak pernah balik benci aku dan kamu selalu mengakhiri segala sesuatunya dengan senyuman.
[18] Bahasa Jerman: Aku yakin kamu bisa mengakhiri ini dengan baik.
[19] Bahasa Belanda: Kamu pikir begitu?
[20] Bahasa Jerman: Ya, berdirilah.
[21] Bahasa Belanda: Bisa tolong bantu aku berdiri?
[22] Bahasa Jerman: Bodoh.
[23] Bahasa Belanda: Aku akan selalu jadi adikmu yang bodoh.
[24] Bahasa Jerman: Maaf, maaf, maaf.
[2] Bahasa Belanda: Ini enggak nyata, kan?
[3] Bahasa Jerman: Itu tergantung caramu melihat sesuatu.
[4] Bahasa Belanda: Ah, terserahlah.
[5] Bahasa Jerman: Berapa lama kamu bakal tiduran di situ?
[6] Bahasa Belanda: Enggak tahu, barangkali selamanya mungkin.
[7] Bahasa Jerman: Kamu pemalas, klasik seperti biasa.
[8] Bahasa Belanda: Heh, kamu tahu aku Ludwig.
[9] Bahasa Jerman: Ayolah, Lodewijk, bangun.
[10] Bahasa Belanda: Aku terlalu lelah untuk terus bertarung, Ludwig, terkadang aku harap aku mati, sama sepertimu.
[11] Bahasa Jerman: Dan kalau kamu mati, apa berikutnya?
[12] Bahasa Jerman: Kalau kamu mati, ini enggak akan berakhir baik dan banyak korban bakal berjatuhan.
[13] Bahasa Belanda: Aku tahu, tetapi aku terlalu lelah.
[14] Bahasa Belanda: Aku enggak bisa meneruskan ini lagi. Aku seseorang yang gagal dan aku enggak bisa melindungi mereka.
[15] Bahasa Jerman: Kamu tahu, Lodewijk? Melindungi mereka bukan pekerjaanmu, itu pekerjaan Tuhan, Lodewijk. Kamu hanya bisa berusaha, sisanya ... bergantung sama kehendak Tuhan.
[16] Bahasa Belanda: Ya, aku mengetahui itu, tetapi aku harap aku tidak selemah ini, aku harap aku kuat, sama sepertimu, Kak.
[17] Bahasa Jerman: Kamu tahu, Lodewijk? Kamu lebih kuat daripada aku, aku pernah benci kamu, tetapi kamu enggak pernah balik benci aku dan kamu selalu mengakhiri segala sesuatunya dengan senyuman.
[18] Bahasa Jerman: Aku yakin kamu bisa mengakhiri ini dengan baik.
[19] Bahasa Belanda: Kamu pikir begitu?
[20] Bahasa Jerman: Ya, berdirilah.
[21] Bahasa Belanda: Bisa tolong bantu aku berdiri?
[22] Bahasa Jerman: Bodoh.
[23] Bahasa Belanda: Aku akan selalu jadi adikmu yang bodoh.
[24] Bahasa Jerman: Maaf, maaf, maaf.
Chapter Sebelumnya
Chapter 31
Chapter 6 Bagian 3 Een hulpeloze prinses
Chapter Selanjutnya
Chapter 33
Chapter 6 Bagian 5 In ruil voor je vriendelijkheid en goede daden
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Flash
Gadis Penanam Bunga
Novel
Elegi Rinaldo
Novel
love Mosquito
Cerpen
Pernikahan Kedua
Novel
Dongeng Tengah Malam
Novel
B A L I A
Flash
It's May Day !
Novel
The Pieces of Memories
Cerpen
L(a/o)st
Novel
Lumora
Flash
Toxic!
Novel
Rahasia Huruf T
Flash
Sunyi
Novel
Frankfurt to Jakarta
Flash
SEDAYU, Di Sore Hari
Flash
Televisi
Cerpen
Dekap Rindu
Cerpen
Setelah Tersambar Petir
Novel
Impian Dalam Tragedi
Flash
World War Samurai