Waktu yang Tepat untuk Bercinta
1. RANTAU
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

 

EXT. JALANAN SEPI- MALAM

Kita melihat Seorang gadis tengah berjalan seorang diri di sebuah persimpangan jalan yang sepi. Ia terlihat galau, sementara di sekelilingnya hanya ada pepohonan dan suara jangkrik. Dari kejauhan terlihat pula dua pemuda yang sedang meneguk anggur merah. Mereka terlihat sudah mabuk. Lalu dua pemuda yang berniat untuk mengganggu gadis itu pun mulai melakukan aksinya. Si gadis malang hanya bisa meronta dan berusaha berteriak meminta pertolongan. Kemudian mereka hendak memerkosa gadis itu. Beruntung seorang pemuda kebetulan lewat dan melihat kejadian itu langsung turun dari sepeda motornya. Perkelahian pun terjadi. Lalu dua orang itu langsung dihajar oleh pemuda tersebut. Si gadis dibawa pergi, sementara dua pemuda tadi hanya bisa memegang wajah memarnya akibat ditinju oleh aktor pemeran utama tadi.

Adegan tadi hanya sekadar adegan terakhir dari sebuah film. Sang Sutradara terlihat puas melihat akting semua pemeran. Proses pengambilan adegan terakhir pun selesai. Rama memutuskan untuk menginap di lokasi syuting meskipun ia tahu akan sulit tidur di ruangan yang banyak nyamuk.

 

SUTRADARA

Cut! Keren! Kalian luar biasa! Bungkus!

 

RAMA {V.O}

Luar biasa dari mana!? Dari Hongkong? Muka memar begini, bayaran cuma tiga ratus ribu, belum lagi dipotong sama agency! Nasib jadi pemain figuran. Mana banyak nyamuk lagi!

FADE IN


INT. DI DALAM BUS – PAGI

 

Rama terlihat mengantuk, lalu sambil berjalan sempoyongan ia memasuki sebuah bus yang menuju daerah Grogol. Tidak lama kemudian dua pengamen berpakaian lusuh dan rambut acak-acakan, muka sangar, mulut bau alkohol, masuk dari pintu belakang. Rama yang sedang tertidur tiba-tiba terkejut karena sebuah tamparan halus dari si pengamen. Tidak terima ditampar, Rama pun bangkit dari kursi untuk membalas. Perkelahian pun terjadi. Si pengamen bonyok dan di perutnya keluar darah segar akibat tusukan pisau milik Rama. Rama yang panik langsung melarikan diri.Ia takut jika diamuk massa yang berada di lokasi kejadian.

 

PENGAMEN

{Menyanyi}

Siapa suruh datang Jakarta, siapa suruh datang Jakarta. Eh, lu jangan pura-pura tidur dong! Lu pikir gua enggak tahu kalo lu pura-pura?

 

RAMA

Gua memang mengantuk, bangsat! Mampus lu!

CUT TO


EXT. JALAN RAYA – PAGI

Rama terus berlari sekuat tenaga tanpa arah dan tujuan, yang penting baginya ialah selamat dari amukan massa karena kejadian perkelahian tadi. Ia takut jika kawan dari para preman itu mencarinya untuk balas dendam atau warga yang tidak tahu duduk permasalahan yang sebenarnya ikut mengejarnya. Maka dari itu, dia terus berlari. Dia sempat membersihkan darah di pisau dan bajunya di sebuah pos ronda lalu kembali berjalan dan berlari memasuki sebuah pasar untuk membeli baju baru untuk mengganti baju bernoda darah di badannya. Tidak lupa memakai topi agar ia susah untuk dikenali dan segera memasukkan baju bekas tadi ke dalam kantong plastik lalu ia membuangnya ke dalam bak sampah di area pasar.

Setelah berhasil melakukan penyamaran Rama pun kembali berlari dan tembus di area perkantoran sebelum akhirnya memasuki sebuah bus yang bisa mengantarkannya ke indekos yang berada di daerah Grogol.

 

RAMA {V.O}

Hidup di tanah rantau itu harus lebih berani dari kata berani itu sendiri. Kita tidak harus terus ditindas karena dianggap lemah. Sesekali harus melawan. Meskipun aku pun menyadari bahkan menyesali perbuatanku tadi. Namun, dalam keadaan seperti itu, hanya sedikit orang sepertiku yang bisa menahan amarahnya. Bagiku, harga diri di atas rata-rata. Ada saatnya untuk mengalah dan diam, sebaliknya, terkadang kita harus melawan agar orang lain bisa menyadari bahwa kita juga punya taji dan nyali. Inilah kisah petualanganku di belantara Jakarta. Ah, tiba-tiba aku merindukan Kota Palu. Bagaimana ya kabar keluargaku di sana? Ibu, Riana,Diasz,Ahmad,Didit.Ah,Rindu.


FLASHBACK

 

EXT. LONG SHOOT - BANDARA MUTIARA SIS-ALJUFRIE PALU- SIANG

Kita melihat sebuah bangunan yang belum lama selesai direnovasi, sebuah bandara kebanggaan masyarakat Kota Palu. Orang-orang yang terlihat sibuk berlalu-lalang. Ada yang baru saja tiba, ada pula yang baru mau berangkat. Kemudian di lobi utama terlihat tiga orang yang tengah terburu-buru karena jam keberangkatan sudah dekat. Mereka nyaris terlambat. Rama sedang diantar oleh ibu dan Riana, adiknya. Ia akan merantau ke Jakarta. Terlihat ia sempat meneteskan air mata ketika berpamitan.

 

RAMA

       {menangis}

Bu, saya pamit ya. Saya janji akan segera kembali.

IBU RAMA

{terlihat sedih}

Jaga dirimu ya. Jangan lupa sama Tuhanmu.

RAMA

Iya Bu, doakan saya sukses di sana ya. Dik, titip jaga ibu ya.

RIANA

Iya Kak, jaga diri baik-baik, jangan sampai sentuh narkoba ya. Jakarta itu sarangnya orang jahat.

RAMA

{Kembali meneteskan air mata}

Iya, kau juga jangan pacaran melulu. Perhatikan kesehatan ibu. Saya pamit ya, Bu, Na.

 

CUT TO


INT. BANDARA SOEKARNO-HATTA - SORE

Kita melihat pemandangan betapa sibuknya bandara berstandar internasional itu, selain megah, juga bersih. Struktur bangunannya pun tidak kalah unik.

Rama pun tiba di Jakarta, dia akan dijemput Didit, sahabatnya. Didit yang sudah menunggu, terlihat gembira ketika melihat Rama dengan ransel serta koper besarnya. Mereka terlihat berpelukan layaknya kakak-beradik.

DIDIT

Sampai juga akhirnya, selamat datang di rimba Jakarta, Kawan.

RAMA

{terkejut}

Hah? Rimba? Maksudnya?

DIDIT

Ya, di sini kau akan jarang melihat gunung seperti di Palu sana. Di sini kau hanya bisa melihat gedung-gedung tinggi pencakar langit. Ayo kita pergi, saya mengantuk. Kau lama sekali!

RAMA

Saya kira kau tidak akan menjemputku, Dit. Tidak bisa dibayangkan kalau saya harus menjadi gelandangan tanpa tujuan yang jelas.

DIDIT

Jadi gelandangan di Jakarta itu seru, tau. Kau pasti akan merasakannya suatu saat nanti. Namun, dalam versi petualangan alias nyasar.

RAMA

Nyasar?

DIDIT

Tipe orang sepertimu yang suka dengan petualangan, jelas akan mengalami tersesat di belantara Jakarta ini. Dan itu mengasyikkan, apalagi kalau akhirnya bisa pulang ke tempat semula dengan selamat.


CUT TO

INT. DI DALAM TAKSI - SORE

Kita akan disuguhi pemandangan Kota Jakarta di sore hari, kesibukan jam pulang kerja, hilir-mudik kendaraan sampai bias cahaya langit senja. Sebentar lagi matahari akan terbenar.

Didit sedang tertidur pulas. Sementara Rama terpukau ketika melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Apa pun yang tidak pernah ia lihat di Kota Palu pasti akan membuatnya kagum. Sementara sopir yang mengintip di kaca depan hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu telepon selulernya di saku jaket kulit sempitnya berdering. Sang ibu menelepon.

 

RAMA

Dit. Bangun dong! Lihat tuh, kau itu gedung apa?

DIDIT

{sedikit kesal}

Ah, itu cuma gedung kampus atau apartemen. Sudah, nikmati saja, saya mengantuk. Perjalanan kita masih jauh. Belum lagi kita akan menghadapi daerah macet. Jadi dipastikan kita akan sampai sebelum magrib.

RAMA

{On Phone}

Ya, halo Bu, iya saya sudah sampai. Sekarang lagi naik taksi menuju rumahnya Didit.

IBU RAMA

{On Phone}

Alhamdulillah, nanti kalau sudah sampai di rumah Didit, jangan lupa salat ya.

RAMA

{On Phone}

Iya Bu, siap. Rama mau lihat pemandangan Jakarta di sore hari dulu ya.

 

IBU RAMA

{On Phone}

Ya sudah, sampaikan salam ibu ke Didit ya. Assalamualaikum.

RAMA

{On Phone}

Wa alaikum salam, iya, nanti Rama sampaikan soalnya dia sedang tidur. Mengantuk, katanya.

CUT TO


EXT. HALAMAN DEPAN RUKO - SORE

Titik kemacetan terparah sudah dilewati, kita akan disuguhi dengan keadaan daerah Tebet, Jakarta Selatan yang terlihat tidak kalah sibuk. Suara kendaraan menderu. Asap knalpot menguar terhirup oleh siapa saja yang melewati jalanan yang bising.

Taksi tersebut berhenti di depan sebuah Ruko tempat kerja Didit yang terletak di daerah Tebet. Sopir taksi membantu menurunkan ransel dan koper, lalu menagih tarif taksi. Mendengar nominal yang disebutkan yang cukup mahal bagi Rama, ia pun terkejut. Setelah membayarnya ia pun langsung memasuki ruko tersebut. Sedikit kesal kepada sang sopir yang tidak tahu di mana letak Kota Palu.


Sopir Taksi

Dua ratus lima puluh ribu, Bang.


RAMA

Dit, kok bisa mahal sekali?


DIDIT

Ya, memang begitu. Ini ‘kan Taksi. Ya sudah, bayar saja dulu. Sopirnya menunggu tuh.


RAMA

Ini Pak, ambil saja kembaliannya.


Sopir Taksi

Terima kasih, Bang. Selamat datang di Jakarta. Kalau boleh tahu, Abang dari mana?


RAMA

Asalm saya? Saya dari tadi, eh, maksudnya dari Palu.


Sopir Taksi

Palu? Oh, di Ambon ya?


RAMA

Iya, itu dia. Terima kasih, ya Pak. Saya masuk dulu. Capek.

RAMA {v.o}

{kesal}

Sialan, sudah mahal, sudah dikasi tip, malah menyebalkan! Masa Kota Palu ada di Ambon? Yang benar saja.


INT. KAMAR DALAM RUKO - SORE

Ruangan berlantai tiga itu cukup rapi dan bersih, di lantai paling bawah terdapat toko Handphone tempat Didit bekerja, sedangkan di lantai dua terdapat dua kamar yang cukup luas.

Rama memaasuki kamar yang dimasuki Didit, sementara ransel dan kopernya masih berada di lantai bawah.

DIDIT

Tidurlah, nanti malam saya akan antar kau ke indekosk-ku.

RAMA

{Terkejut}

Jadi ini bukan kamarmu?

DIDIT

Iyalah, ini tempat kerja. Tidur saja dulu. Kau pasti capek.

Rama {V.O}

Sialan!














Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar