Waktu yang Tepat untuk Bercinta
2. Kalianyar 2014
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

FADE IN


EXT. MENUJU KALIANYAR — MALAM

Adegan berikut memperlihatkan suasana Kota Jakarta di malam hari. Didit akan membawa Rama menuju indekosnya yang berada di Kalianyar, Jakarta Barat. mereka berdua menaiki bajaj. Sementara Rama yang baru kali ini merasakan sensasi menaiki kendaraan unik roda tiga ini terlihat sangat berantusias. Ia sangat menikmati perjalanan itu, terutama ketika untuk pertama kalinya ia melihat Tugu Monas, meskipun dari jarak jauh.

RAMA
Dit, coba di Palu ada kendaraan seperti ini ya.
DIDIT
Jangan, tidak perlu. Apa kau suka kalau kota itu menjadi kota macet seperti Jakarta?
RAMA
Iya juga sih, sekarang saja sudah mulai macet. Terutama di jam pulang kerja. Makin banyak kendaraan, makin macet pula Kota Palu.
DIDIT
Kita amankan barang-barangmu dulu ya, setelah itu kita main ke daerah Taman Anggrek.
RAMA
Sip,di sana banyak bunga anggrek ya? Eh, Dit. Itu Monas? Ya ampun, keren sekali!
DIDIT
Ya ada sih, tapi itu mal. Bukan taman seperti yang ada dalam pikiranmu.

FADE IN


EXT. DEPAN INDEKOS — MALAM

Rama hanya berusaha tersenyum ketika menyadari bahwa indekos yang dituju masuk keluar gang. Sudah bisa dibayangkan bagaimana kalau nanti dia akan mengatasi masalah ketika tiba-tiba nyasar. Apalagi ketika memasuki indekos yang terkesan sempit. Didit segera membayar bajaj dan segera membawa Rama dan barang-barangnya ke dalam indekos.

DIDIT

Ini namanya daerah Kalianyar, dan tempat inlah indekosku. Kau bisa tinggal di sini. Saya bisa tinggal di Ruko.

RAMA

{V.O}

Gila, keluar masuk gang, aduh, sudah bisa dibayangkan kalau nanti akan tersesat saat pergi cari kerja.

DIDIT

Ayo masuk, malah bengong? Di sini banyak cewek cina, kau pasti betah.

RAMA

Wow, pasti kau sudah punya pacar cewek putih ya di sini?

DIDIT

Sst! Jangan berisik! Jam segini para penghuni di sini sudah mulai istirahat.


INT. INDEKOS — MALAM

Indekos itu berjumlah empat lantai, sementara kamar Didit berada di lantai tiga, tepat di depan tangga menuju lantai dua dan lantai empat yang merupakan tempat menjemur pakaian. Selain cukup sempit, salah satu kekurangan dari indekos itu terdapat gudang tanpa pintu dan dinding yang berada tepat di sebelah kamar Didit. Tentu cukup mengganggu pemandangan. Terutama bagi seorang Rama.

DIDIT
Nah, inillah kamarku. Masuklah.
RAMA {V.O}
Gila, sempit sekali. Mana di samping ada barang-barang rongsokan lagi. Pengap. Untung ada kipas angin kecil.
DIDIT
Woy, malah melamun. Sana cuci muka dan ganti baju. Kita main ke Taman Anggrek, sekalian cari makan malam. Kamar mandi ada di ujung,cuci muka saja.
RAMA
Siap, tunggu sebentar ya.


FADE IN

EXT. TAMAN ANGGREK — MALAM

Dua perantau itu kini berada di area Taman Anggrek Mal. Sekadar cuci mata dan makan malam di sebuah malam di sebuah warteg.

RAMA
Oh, ini yang namanya Taman Anggrek Mal? Luas juga ya. Ada dua lagi.
DIDIT
Yang di samping itu lain lagi, itu namanya Central Park. Keduanya merupakan mal terbesar di daerah Jakarta Barat ini. Nah, itu ada warteg, sambil menunggu temanku, kita makan malam di situ saja ya. Murah.
RAMA
Teman? Siapa?
DIDIT
Ada, nanti juga kalian akrab.

INT. WARTEG — MALAM

Keduanya makan dengan lahap. Saat merekam makan tiba-tiba seorang preman datang dan memalak mereka. Didit hanya terdiam, dia kenal siapa preman itu. Sementara Rama yang jiwa orang timurnya masih kental jelas tidak menerima aksi pemuda berpakaian bak seorang preman itu. Perkelahian pun nyaris terjadi.

PREMAN
Bang, gocap, punya enggak?
RAMA
Gocap? Apa tuh, Bang?
PREMAN
Lu anak mana sih? Katrok banget!? Mana gayanya sok anak punk, lagi!
RAMA
Heh! Kau siapa? Maumu apa?
PREMAN
Gua ya gua! Lo kudu bayar ke gua kalo mau selamat!
RAMA
Babi! Kau kira saya takut?
DIDIT
Ha ha, selamat! Kau kena prank. Sebenarnya dia Mail Merah, dia temanku. Kalian harus berkenalan.
MERAH
Maaf ya, kenalkan, gua Mail Merah, tapi lu boleh panggil gua Merah saja.
RAMA
Kurang ajar! Saya kira kau preman betulan. Saya Rama, tapi tidak bisa jadi ramah lagi kalo di keadaan yang mendesak kayak tadi.
DIDIT
Merah, pesan makan. Kasihan tuh si Abang, nunggui. Bang, maaf soal yang tadi ya. Cuma becanda.
MERAH
Kalian sudah dari tadi? Maaf tadi gua kena macet, jadi agak telat datangnya.
DIDIT
Ya, lumayan sih. Tadi sempat bawa dia cuci mata juga. Ram, Merah ini sebenarnya anak Palu juga, cuma dia sudah lama tinggal di sini.
RAMA
Oh ya? Wow, berapa tahun?
MERAH
Tiga tahun.
RAMA
Lumayan.
RAMA {V.O}
Apakah aku juga bisa bertahan juga seperti dia?
DIDIT
Rama, dimakan dong. Kita sambil makan, sambil ngobrol juga ya. Tapi suaranya agak dipelanin. Kasian pengunjung lain kalo sampe terganggu.
MERAH
OK
DIDIT
Jadi gini Ram, kita berdua kan minggu depan rencananya mau balik ke Palu dulu. Jadi, kau tinggal di kamar indekosku, sendirian dulu ya. Soal ibu kos dan bayaran, itu urusanku. Kau tinggal masuk saja.
RAMA
{terkejut}
Pulang? Kenapa kalian mau pulang? Ada masalah?
DIDIT
Masalah sih tidak ada, Ram. Hanya saja kami mau pulang dulu untuk sementara waktu.
MERAH
Nah itu dia, kami belum tahu. Semua tergantung bos juga. kalo disuruh balik lagi ya kami balik.
RAMA
Semoga kalian bisa segera kembali. Tega juga kalian, saya baru datang, kalian malah pulang.
DIDIT
Sorry, Kawan.Semua ini mungkin sudah menjadi takdir, yang pasti kau yang baru merasakan hidup di Jakarta harus lebih berhati-hati. Tahan egomu, fokus sama tujuanmu ke sini. Fokus sama impianmu.
MERAH
Kalo boleh tau impian lu apa, Bang?
RAMA
Banyak sih, saya pengen jadi seorang aktor, penulis, dan masih banyak lagi. Pokoknya jadi orang sukses!
DIDIT - MERAH {tertawa}
Ha ha ha, aamiin. Semoga tercapai.

FADE IN

EXT. DEPAN INDEKOS — MALAM

Rama diantar sampai depan indekos, sementara Didit dan Merah pulang setelah memberikan kunci kamar.

RAMA
Kalian tidak menginap saja dulu?
DIDIT
Lain kali aja ya, besok masuk kerja pagi, toko harus dibuka sejak pukul enam. Ini kuncinya.
MERAH
Nanti kami datang ke sini kalau sudah ada waktu, lu istirahat saja dulu.
DIDIT
Besok mulai pelajari area sini ya, biar kau tidak nyasar. Nanti kabari saja kalau ada apa-apa. Ok?
RAMA
Ok, sip.

INT. KAMAR — MALAM

RAMA {V.O}
Jakarta kini aku sudah berada di sini, di dalammu.Akankah kau bisa menjadi rumah yang nyaman bagiku? Aku rela berkeliaran sampai tersesat di jalan-jalanmu yang macet, bahkan berdarah-darah demi mengejar impian pun tidak mengapa. Ah, terlalu drama. Aku perlu tidur. Lelah. Selamat tidur.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar