Waktu yang Tepat untuk Bercinta
3. Tomboi
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EXT. JALANAN WILAYAH KALIANYAR — SIANG

Rama siap bertualang di lokasi sekitar tempat tinggalnya. Sebelumnya ia sudah menjadikan beberapa bangunan tinggi sebagai patokan atau kompas sesuai dengan letak bangunan tersebut. Agar jika nanti ia tersesat atau nyasar, ia bisa menjadikan patokan tersebut sebagai panduan untuk kembali titik awal atau indekosnya.

Beberapa kali ia nyaris gagal, bahkan sempat tersesat. Tetapi dengan keberaniannya untuk bertanya kepada warga maka ia pun bisa kembali lagi ke indekos. Tiga hari kemudian ia pun berhasil dan mulai menghafal jalur yang sudah dipelajari.


FADE IN


EXT. ROOFTOP INDEKOS — MALAM

Setelah menghafal jalur di sekitar tempat tinggal, akhirnya Rama mulai memberanikan diri untuk berkenalan. Semua itu berawal dari pengamatannya di pagi hari kepada setiap penghuni yang ada di kamar indekos, dan salah satu yang membuat ia tertarik ialah si Tomboi Tuti. Gadis itu selalu berisik ketika pagi, ia selalu terburu-buru karena takut berangkat kerja. Maka, suatu pagi Rama pernah bertanya bahkan berkenalan. Namun, semua hanya sekilas karena Tuti pun sedang terburu-buru. Akhirnya pertemuan dan obrolan terpanjang mereka berada di lantai paling atas indekos.

RAMA
{Sambil menunjuk ke arah gedung tinggi}
Oh, jadi kau bekerja di gedung itu?
TUTI
Iya, cukup jauh kan? Lu sudah pernah ke sana Bang?
RAMA
Belum sih, tapi menurutku itu dekat dari sini. Terus kenapa kau selalu terburu-buru?
TUTI
Gua ini hanya bawahan Bang, telat dikit gaji dipotong. Jadi, daripada telat, mending datang kepagian, bisa sarapan dulu, merokok, menunggu sampe mal buka. {Sambil terus merokok}

RAMA

Kau sudah lama merokok? {sambil membakar sebatang rokok}

TUTI

Dari SD sih, Bang. Kenapa emangnya?

RAMA

Ya, tidak apa-apa sih Bang? Mungkin saya termasuk orang yang jarang bertemu atau mempunyai teman perempuan yang suka merokok.

TUTI

Abang sendiri sejak kapan mulai merokok dan kenapa memilih untuk menjadi seorang perokok?


RAMA

Sejujurnya saya sudah muak dan berpikir mulai berhenti. Seperti bom waktu, tinggal tunggu waktu yang tepat saja. Di SD kelas enam, saya pernah dihukum merokok sementara tangan diletakkan di belakang. Merokok sebagai hukuman atas kepolosanku di masa itu.

TUTI

Maksudnya?

RAMA

Jadi, waktu itu saya pernah dan sering disuruh oleh papa untuk membeli rokok di warung. Nah, di perjalanan pulang, saya penasaran dan ingin merasakan langsung sensasi dari rokok tersebut meskipun tanpa dibakar. Lalu, suatu hari, di sekolah ada salah satu murid yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Maka kami terutama yang anak laki-laki, disuruh bersumpah oleh ibu guru. Nah, saya yang waktu itu yang masih terlalu lugu, merasa sudah merokok dan takut kena sumpah tersebut.

TUTI

Lalu?

RAMA

Ya, kami semua dihukum, kami dijemur di bawa terik matahari lalu tangan diletakkan di bagian belakang, pokoknya rokok harus habis dihisap tanpa disentuh sama sekali! Kebayang kan? Perihnya.

TUTI

{Terkejut}

Wow! Pasti itu pengalaman yang luar biasa ya, Bang? Jadi sejak saat itu Abang sudah mulai menjadi perokok aktif?

RAMA

Hm, tidak juga. Saya menjadi perokok aktif pas ketika sudah lulus SMP. Itu pun karena broken home.

TUTI

Ups, sorry.

RAMA

Santai, tidak apa-apa. Setiap orang punya masa lalu.

TUTI

Jadi kapan mau serius mau berhenti? Tapi beneran serius mau berhenti?

RAMA

Hm, saya mungkin butuh proses bahkan sebuah ujian besar dulu baru bisa memutuskan untuk berhenti. Sejujur, terkadang tubuh ini tidak nyaman ketika menganggap rokok itu sebagai teman atau pelarian dan sejenisnya. Seperti yang sudah saya bilang tadi, berhenti hanya tinggal menunggu bom waktu meledak.

TUTI

Nanti kabari ya Bang, kalo sudah berhenti. Siapa tahu bisa jadi motivasi gua untuk berhenti juga.

RAMA

Oh, pasti. Dengan senang hati. Jadi bagaimana besok? Saya bisa ikut ke gedung itu?

TUTI

Mal? Oke, bisa dong. Abang pasti lagi nyari lowongan pekerjaan ya?

RAMA

Iya nih, bosan kalo di dalam kamar terus.


FADE IN


INT. MAL — SIANG


Rama yang sudah mempunyai teman baru kini merasa tidak kesepian lagi. Dia pun mulai fokus mencari lowongan pekerjaan di gedung tempat Tuti bekerja. Mal tersebut merupakan salah satu mal yang megah di kawasan tersebut. Rama cukup senang karena bisa berada di sana. Setiap melihat pengumuman tentang lowongan pekerjaan, ia langsung mencatatnya atau bertanya secara langsung ke salah satu karyawan yang sempat berpapasan dengannya. Sayangnya, ia masih belum berhasil menemukan lowongan pekerjaan.

TUTI

Gimana Bang? Ketemu?

RAMA

Belum nih, tenyata cukup susah cari kerja di Jakarta.
TUTI
Sabar, Bang. Lu 'kan baru memulai. Jangan patah semangat dong, coba cari ke sebelah timur sana. Gedung ini luas, tidak mungkin lu jelajahi hanya dalam waktu kurang dari sehari. Ya, sudah besok saja dilanjutkan. Mending kita pulang dan cari makan. Gue yang traktir!
RAMA
Kenapa kau mau traktir saya?
TUTI
Emang kenapa? Suka-suka gua dong, udah diam aja. Yuk, cabut!
RAMA
Ya, aneh saja sih, kita 'kan baru kenal. Apa kau baru gajian?
TUTI
Ye, jangan Ge-Er dulu. Maksudnya kalo lu sudah dapat kerja 'kan kita bisa gantian.
RAMA

Modus!

CUT TO

EXT. JALANAN MENUJU INDEKOS — MALAM

Percakapan Rama dan Tuti tidak putus sampai mereka keluar dari area mal tersebut. hingga akhrinya dari arah belakang seseorang merampas paksa tas samping milik Tuti. Melihat kejadian itu, Rama langsung bertindak. Aksi pencopetan itu berujung dengan perkelahian antara si pencopet dengan Rama.

TUTI
{Teriak}
Copet! Copet!!
RAMA
Hei! {Melempar sebuah batu}


CUT TO

EXT. SEBUAH GANG SEPI — MALAM

Aksi kejar-kejaran sampai berkelahi terus terjadi di antara si Pencopet dan Rama demi memperebutkan tas milik Tuti. Hingga akhirnya mereka berkelahi di gang sempit, sementara warga setempat malah menjadi hal itu sebagai tontonan. Dalam hal ini Rama nyaris kalah karena si Pencopet lebih tinggi dan lebih besar darinya. Merasa terancam, Rama pun mengeluarkan senjata rahasianya.

WARGA

Ayo! Pukul! Lawan!

PENCOPET

Kayaknya lu orang baru di sini!

RAMA

Banyak bacot! Maju kau anjing!

WARGA

Pukul! Serang!

RAMA

Kembalikan tas temanku!

PENCOPET

Kalo lu bisa ngalahin gua, lu bisa ambil tas ini!
TUTI
Brengsek! Sini, lawan gua juga, monyet!
WARGA
Serang! Lawan!
PENCOPET
Rasakan ini!
RAMA
{Menodongkan pisau}
Kalo kau masih mau hidup, cepat kembalikan tas itu! {Menodongkan pisau}
PENCOPET
{Terkejut, panik}
Iya, iya Bang. Ampun Bang!
RAMA
Sana pergi! Jangan pernah muncul di sini lagi!
PENCOPET
{Langsung lari}
Iya, Bang!
WARGA
{Bubar}
Huuu!!!!
TUTI
Apa lu? Bukannya ngebelain, malah nyorakin!
WARGA
Huuu!!!
TUTI
Ram, enggak kenapa-napa?
RAMA
Tidak, kok. Coba periksa isi tas lu. Barangkali ada yang hilang.
TUTI
Enggak ada sih, nanti gua periksa kembali di indekos. Yuk, cabut! Kita lanjut cari makan. Mau makan apa? Nasi goreng, bakso, atau sate.


CUT TO

EXT. WARUNG BAKSO — MALAM

Obrolan antara Rama dan si Tomboi Tuti berlanjut sampai di sebuah warung bakso yang kebetulan terletak di dekat indekos mereka. Di sini Tuti mempertanyakan perihal pisau kecil yang selalu dibawa Rama itu.

TUTI

Ram, kalo boleh tau pisau kecil itu sejak kapan lu bawa?
RAMA
{Terkejut}
Oh, ahm! Itu, anu. Itu, pisau yang gua bawa dari Palu. Buat jaga-jaga. Itu pun atas saran dari temanku yang pernah tinggal di Jakarta ini.
TUTI
Ram, lu enggak lagi berbohong 'kan? Sebenarnya siapa? Teroris?
RAMA
{Semakin terkejut, sambil melertakkan jari telunjuk ke bibir Tuti}
Sst! Kau ini! Kau pikir saya apa? Kalo didengar orang bagaimana? Bisa mampus saya. Kau sendiri toh tadi saya nyaris babak belur dihajar pencopet itu? Nah, di situlah gunanya pisau ini. Selain dari itu, ya dia memang hanya jadi perhiasan rahasia.
TUTI
Tapi, bagaimana bisa kau bawa pisau? Memangnya di bandara tidak diperiksa?
RAMA
Ya pasti, cuma kalo kita punya keahlian menyembunyikan sebuah benda, menyamarkannya, pasti bisa lolos.
TUTI
{Masih terkejut}
Lu pencopet atau sejenisnya juga?
RAMA
Sst! Ah! Bukan! Saya ini hanya perantau yang penuh kegelisahan, jadi apa saja yang disampaikan teman yang sudah pernah tinggal di sini, ya saya harus ikuti demi keselamatan. Nah, tadi terbukti 'kan?
TUTI
Oh, begitu. Betul juga sih, paling tidak lu sudah sedia payung sebelum badai datang.
RAMA
Kau harus percaya, saya ini orang baik-baik. Saya hanya orang yang penuh ketakutan. Bagi sebagian anak daerah, seperti teman-teman lain yang suka menonton televisi, Jakarta seperti hutan rimba yang penuh misteri. Berbahaya!
TUTI
Ya, paling tidak sekarang gua punya malaikat tanpa sayap.
RAMA
Tapi ingat, malaikat juga butuh makan.
TUTI
Apa? Jadi semangkuk bakso tidak cukup juga? Mas, Bang, satu mangkok lagi dong buat si Malaikat.
RAMA
Eh, tidak-tidak. Saya hanya bercanda, Tuti.
TUKANG BAKSO
Barangkali mau dibungkus?
RAMA
Tidak, tidak, Mas. Sudah kenyang sekali. Terima kasih.
TUTI
Haha...

FADE IN



Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar