Telepon Yang Tak Pernah Berdering
written by Daffa Amrullah
Draft 1: 18/11/2022
daffa952014@gmail.com
1. EXT. PEDESAAN CILACAP — SIANG
Cilacap 1992. Siang hari di sebuah desa dengan persawahan yang kering, seorang pria yang bertelanjang dada sedang berjalan melintasi jalanan antar desa yang rusak dengan memikul kayu yang pada masing-masing sisinya terdapat beberapa botol-botol yang terbuat dari bambu, ia adalah PETANI NIRA (40). Pria tersebut membawa golok di pinggangnya. Pria itu terus berjalan ke arah pemukiman warga yang dikelilingi beragam pohon namun didominasi pepohonan kelapa.
2. INT. DAPUR RUMAH TINI — SIANG
Di sebuah dapur tradisional dengan tungku api yang menyala dengan kayu bakar, kepulan asap memenuhi ruangan dan keluar melalui celah-celah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Di sela-sela anyaman bambu yang membentuk dindingnya, tertancap beberapa buah pisau berbagai ukuran, sebilah golok, dan arit.
Seorang nenek tua setengah bongkok yang mengenakan kebaya dan kain jarik sedang mengaduk cairan yang mendidih di atas kuali besar dengan adukan yang terbuat dari kayu, sesekali ia mengusap keningnya yang berkeringat, ia adalah MBAH PUTRI (65).
Seorang remaja perempuan kurus dengan rambut sebahu dan kulit sawo matang datang dan membawa sebuah ember plastik kepada Mbah Putri, ia adalah TINI (16), cucunya. Mbah Putri menuangkan cairan panas tersebut ke dalam ember menggunakan gayung.
3. EXT. JALANAN PEDESAAN — SIANG
Sebuah sepeda ontel dikayuh oleh seorang TUKANG POS (25) yang mengenakan seragam lengkap dengan topi. Ia melintasi jalanan desa yang berdebu dan berkerikil. Di belakang sepedanya terdapat sebuah tas tempat surat-surat diletakkan. Ia melewati beberapa persimpangan dan sebuah pos ronda yang di dalamnya ada seorang pemuda yang tengah tidur siang sembari mendengarkan radio yang memutarkan lagu keroncong dengan suara yang kurang bagus.
4. EXT. PEDESAAN CILACAP — MOMENTS LATER
Petani nira memanjat pohon kelapa dengan cekatan tanpa peralatan apapun. Beberapa botol diikatkan ke pinggangnya dengan tali, dan sarung goloknya diikat menggunakan kain di bagian belakang. Dalam waktu singkat, ia berhasil mencapai ke puncak pohon.
5. INT. DAPUR RUMAH TINI — MOMENTS LATER
Tini mengangkat ember ke sisi dapur satunya. Cairan panas tadi dituangkan dari ember ke cetakan kayu dengan menggunakan gayung panjang oleh Tini. Cairan panas tersebut mengeluarkan asap dan memenuhi satu persatu cetakan yang ada.
6. EXT. DEPAN RUMAH TINI — MOMENTS LATER
Di depan sebuah rumah reyot yang terbuat dari bambu dan kayu, Tukang Pos memarkirkan sepedanya. Ia kemudian merogoh tas selempangnya dan mengambil sebuah amplop. Ia berjalan ke arah pintu rumah sambil membawa amplop tersebut.
7. EXT. PEDESAAN CILACAP — MOMENTS LATER
Setelah menyadap air nira di botol, Petani nira mengeluarkan goloknya. Ia kemudian berusaha memotong salah satu kelapa muda beberapa kali dengan golok hingga kelapa tersebut jatuh dan berbunyi saat menghantam tanah.
8. INT. RUMAH TINI — MOMENTS LATER
Suara pintu diketuk dari luar. Tini membuka pintu dan mendapati Tukang Pos berdiri di depan rumahnya.
Amplop tersebut diberikan kepada Tini oleh Tukang pos.
Tukang pos pergi meninggalkan rumah Tini sembari tersenyum kepada Tini, dan Tini membalasnya.
Setelah Tukang pos pergi, Tini menatap amplop yang digenggamnya sembari tersenyum, ia lalu masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru.
9. INT. KAMAR TINI — CONTINUOUS
Di dalam kamar yang berisi ranjang dan lemari kayu tua, Tini segera membuka amplop yang ia genggam sambil tersenyum, ia lalu membaca surat tersebut sembari duduk di pinggir ranjang. Ia terdiam selama beberapa saat.
Raut wajah Tini perlahan mulai berubah, bibirnya bergetar, tangannya mulai mengusap wajah dan bibirnya secara berulang sembari menahan tangisan. Ia terus menatapi surat yang digenggamnya.
Dari dalam kamar, Tini kemudian menatap Mbah Putri yang berjalan pelan dan duduk di dekat meja makan sambil melamun, raut wajah Mbah Putri sangat kelelahan dan penuh keringat setelah memasak gula merah.
Tini kemudian bangkit dari ranjang dan menutup pintu. Ia mulai meneteskan air mata sambil bersandar di pintu, Tini mulai duduk di belakang pintu dan menahan suara tangisannya agar tidak terdengar oleh Mbah Putri.
10. EXT. PEDESAAN CILACAP — MOMENTS LATER
Kelapa berwarna hijau yang tergeletak di tanah diambil oleh Petani nira.
CREDIT TITLE: Telepon Yang Tak Pernah Berdering
FADE TO BLACK
11. EXT. (FLASHBACK) DEPAN RUMAH TINI — PAGI
6 tahun lalu. Seorang anak perempuan berambut panjang sepunggung berdiri di depan rumah reyot dari bambu dan kayu seorang diri, ia tidak mengenakan alas kaki, ia adalah TINI KECIL (10). Tini kecil melamun menatapi jalan yang ada di depan rumahnya.
Beberapa saat setelahnya, seorang wanita cantik berpakaian rapi dan menenteng tas besar datang menghampiri Tini kecil, wanita tersebut membelai rambut Tini kecil dan berlutut di hadapannya sembari memegang bahunya dengan erat, wanita itu adalah SURTI (29), ibu dari Tini.
Surti tersenyum kepada Tini, sementara Tini masih terdiam dan cemberut. Surti mengusap pipi Tini dengan lembut.
Tini memalingkan wajahnya dan tak mau bicara. Raut wajah Surti berubah menjadi sedih, ia menghela nafasnya. Tiba-tiba Mbah Putri datang dari dalam rumah dan menghampiri keduanya.
Tini menyalimi tangan Surti namun tidak berkata sepatah katapun. Surti mengambil tasnya dan diantar Mbah Putri ke pinggir jalan, Tini hanya melihat keduanya dari tempatnya semula berdiri. Sembari berjalan, Surti menoleh ke belakang, melihat ke arah Tini.
Sebuah mobil pick up berwarna hitam yang berisi beberapa orang pria dan wanita yang duduk di belakang datang dari kejauhan dan berhenti di depan Surti dan Mbah Putri. Salah seorang pria memegangi tangan Surti untuk membantunya naik ke mobil dan wanita lain membantu mengangkat tas besarnya. Surti duduk di antara mereka sembari tersenyum kecil untuk menyapa yang lain.
Mata Tini mulai berkaca-kaca, ia berusaha menahan tangis. Mobil tersebut melaju dan meninggalkan Mbah Putri, tak berselang lama Tini kemudian berlari mengejar mobil tersebut, Mbah Putri terkejut.
12. EXT. (FLASHBACK) JALANAN PEDESAAN — CONTINUOUS
Tini berlari tanpa alas kaki di belakang mobil yang melaju pelan di jalanan rusak dan berbatu dengan jarak 5 meter. Tini menangis menatapi Surti yang ada di atas mobil pick up sambil terus berlari mengejarnya, Surti menatap sedih ke arah Tini, keduanya tidak berkata-kata sedikitpun.
Mobil melaju semakin cepat dan menjauhi Tini, sementara Tini masih berlari sekuat tenaga. Surti yang tak kuasa melihat Tini kemudian memalingkan wajahnya. Tini yang melihat hal tersebut kemudian tersandung dan terjatuh.
13. EXT. GUBUK DI TENGAH PERSAWAHAN — SIANG
Siang hari yang terik di tengah persawahan yang kering kerontang, terdapat sebuah gubuk kecil yang memiliki balai untuk bersantai. Seorang remaja laki-laki dengan tubuh proporsional sedang melepaskan kail dari mulut ikan yang ia pancing. Ikan tersebut kemudian dilemparkan ke ember yang berisi ikan-ikan lainnya yang masih hidup, laki-laki itu bernama HERI (17), anak kepala desa sekaligus sahabat Tini.
Tini duduk di balai tersebut sambil melamun, kepalanya bersender pada tiang bambu yang menopang gubuk. Heri menatap Tini dengan prihatin. Tini kemudian memandangi persawahan yang kering.
Ikan yang berada di ember meronta-ronta dan bertubrukan.
Keduanya terdiam sejenak, Heri memindahkan ember ke pojok gubuk dan kemudian duduk di samping Tini. Tini menatap ke arah Heri dengan mata yang berkaca-kaca.
Tini mulai meneteskan air mata, Heri berusaha menenangkan dengan menggenggam tangannya.
Heri menghela nafasnya dan memantapkan diri.
Tangan Tini mulai menggenggam erat jemari Heri.
Tini mengangguk dan mengusap air matanya dengan tangannya, ia lalu tersenyum sedikit kepada Heri. Angin berhembus sepoisepoi membunyikan lonceng angin bambu yang digantung di ujung gubuk tersebut. Mereka berdua duduk sambil bertatap-tatapan di gubuk tersebut.
Burung-burung berkicau di dahan pohon dan lompat ke sana ke mari saling kejar-kejaran.
14. EXT. DEPAN RUMAH TINI — SIANG
Siang hari di depan rumah, Mbah Putri sedang bercakap-cakap dengan seorang Petani nira yang memikul beberapa botol nira di wadah bambu. Petani nira tersebut kemudian memberikan botol tersebut kepada Mbah Putri dan meletakkannya di kursi kayu yang terdapat di teras rumah. Petani nira lalu pergi meninggalkan Mbah Putri seorang diri di depan rumah.
15. EXT. TEMPAT PEMAKAMAN UMUM — SORE
Sore hari, Tini dan Heri berdiri di antara batu-batu nisan yang terbuat dari kayu, beberapa sudah keropos dimakan rayap, ada juga gundukan tanah merah segar yang masih ditaburi bunga di atasnya dengan batu nisan yang masih baru. Pepohonan di sekitarnya rimbun, sehingga cahaya matahari sore masuk melalui celah-celah dedaunan dan membentuk garis-garis yang menerangi Tini dan Heri.
Tini berdiri dan menatap salah satu makam dengan nama Bambang, sementara di sampingnya, Heri hanya bisa menatapnya canggung.
Tini berjongkok dan mengelus batu nisan tersebut sembari menatapi tanahnya.
Heri menyentuh pundak Tini dan ikut berjongkok di sampingnya.
16. INT. DAPUR RUMAH TINI — SORE
Sore menjelang maghrib, Tini melepaskan gula-gula yang telah kering dari cetakan kayu dan memasukkannya ke dalam karung. Tini kemudian mengangkat karung tersebut dengan tergopohgopoh dan meletakkannya di dalam sebuah lemari kayu dan menguncinya.
Mbah Putri memantik api dari korek kayu dan menyalakan lampu semprong.
17. INT. RUMAH TINI — MOMENTS LATER
Cahaya matahari yang menembus melalui jendela-jendela kayu dan celah-celah rumah mulai redup, hari perlahan mulai gelap. Mbah Putri berjalan perlahan-lahan sambil membawa lampu semprong, kemudian menempelkannya di beberapa dinding ruangan.
Tini menutup jendela dan menutup pintu rumah, suara serangga malam mulai terdengar dan kunang-kunang mulai bersinar di antara semak belukar.
18. EXT. LAPANGAN DESA — MALAM
Malam hari, di sebuah lapangan desa yang sisi-sisinya diterangi obor dan lampu semprong, penduduk desa mulai berdatangan untuk mengunjungi sebuah acara yang diadakan di lapangan tersebut. Sebuah layar tancap besar dari kain putih telah dipasang di salah satu sisinya dengan menggunakan bambu.
Beberapa terpal dan tikar digelar di atas rerumputan oleh pemuda-pemuda setempat. Sebagian orang juga menjajakan dagangannya, mulai dari jagung bakar, kacang rebus, dan minuman hangat.
Orang-orang bercengkrama satu sama lain, anak-anak berlarian saling kejar-kejaran. Ada beberapa ibu-ibu yang membawa bayinya dengan bedongan dari kain batik dan bapak-bapak yang merokok kretek berjalan lalu lalang sambil mengobrol.
Heri berhenti berjalan di antara kerumunan warga, ia melihat sekeliling seperti sedang mencari seseorang. Matanya mengawasi ke sana ke mari sampai berhenti dan fokus kepada sesuatu yang dia lihat.
Seorang pria dengan pakaian rapi melintasi kerumunan warga desa, ia mengenakan baju batik lengan panjang berwarna coklat, celana bahan hitam, kopiah, dan sendal kulit. Kumisnya tebal, badannya tambun, ia menyalami penduduk yang beramah tamah kepadanya. Saat menyalami mereka satu persatu, jam tangan rantai berwarna emasnya terlihat.
Heri mulai mendekat menghampiri orang tersebut, namun terhalang oleh banyaknya warga yang berkerumun. Pria itu kemudian berdiri di sisi layar tancap, semua orang memandanginya, ia adalah PAK SAMUDJI (45), si kepala desa sekaligus bapaknya Heri. Pak Samudji mulai berdehem dan membuat semua orang yang tadinya riuh menjadi hening. Anakanak yang tengah berlarian dicubit ibu mereka dan dipaksa untuk diam dan menyimak Pak Samudji.
Semua orang membalas salam. Pak Samudji berdiri tegak dan berwibawa di depan semua orang.
Heri berjalan ke kerumunan yang dekat dengan Pak Samudji, dan ikut menyimak.
Semua orang bersorak "Merdeka!".
Semua orang menjawab salam. Sebagian besar bertepuk tangan setelah sambutan selesai. Setelahnya, mereka berbondongbondong untuk duduk menempati tikar dan terpal yang telah disediakan.
Pak Samudji berjalan pergi ke arah belakang penonton, Heri mengikutinya dari belakang.
Mereka berdua berhenti. Proyektor sudah dinyalakan, alat itu mengeluarkan suara dan pantulan cahayanya menghasilkan gambar di layar putih, semua mata warga desa tertuju kepada film yang akan diputar di layar.
Suara film yang diputar mulai berbunyi dari sound sistem besar yang berada di dekat layar, film sudah mulai berlangsung. Kita melihat Heri melanjutkan pembicaraannya dengan Pak Samudji dengan latar film yang diputar di layar tancep, suara mereka tidak terdengar karena bisingnya suara film yang diputar, sementara ekspresi Pak Samudji berubah jadi curiga ketika Heri menceritakan cerita tentang Tini kepada bapaknya.
19. EXT. (MONTAGE) LAPANGAN DESA — MOMENTS LATER
Penduduk desa menonton film dengan serius. Di beberapa adegan mereka tertawa, beberapa adegan ada yang terkejut, dan ada pula yang menangis.
Ketika film selesai dan musik credit mulai dimainkan, mereka semua bertepuk tangan.
20. EXT. LAPANGAN DESA — MOMENTS LATER
Sound system bergetar karena memutarkan musik dengan volume keras, lantunan lagu Madu Dan Racun oleh Bill & Brod memeriahkan suasana lapangan. Beberapa orang mulai bergoyang bersama-sama, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi, dan anak-anak bergembira
Tini berdiri di pinggir lapangan seorang diri sembari melihat orang-orang berjoget, wajahnya murung dan penuh ragu. Heri datang menghampiri Tini dan berdiri di sebelahnya dengan malu-malu, Tini menengok ke arah Heri.
Tini menatap Heri dengan sinis.
Ekspresi Tini berubah, ia jadi tersenyum, Heri menggandeng tangan Tini dan menariknya ke tengah lapangan, Tini kaget. Heri dan Tini berhadap-hadapan, diam sesaat dan Heri mulai menggerakkan kakinya maju mundur, ia berjoget diikuti dengan Tini setelahnya, mereka berdua berjoget dengan gembira mengikuti irama.
Pak Samudji yang sedang merokok mengawasi mereka berdua dari kejauhan dengan tatapan sinis.
21. INT. KAMAR TINI — TENGAH MALAM
Tini dan Mbah Putri tengah berbaring bersebelahan di atas ranjang. Mbah Putri menghadap ke dinding sementara Tini menatapi langit-langit. Ruangan kamar remang-remang diterangi lampu semprong dan suara jangkrik yang bersahutan. Mata Tini sembab, ia hanya terdiam, tidak bisa memejamkan mata.
Mbah Putri mulai bergumam dengan mata yang terpejam.
Tini menelan ludah.
Tini terdiam sesaat, Ia terbayang akan suara ibunya yang membacakan isi surat yang dikirim dengan nada yang halus.
Suara Surti berhenti, Tini memiringkan kepalanya sedikit ke arah Mbah Putri.
Ia kemudian membalikkan badannya membelakangi Mbah Putri. Tini mulai meneteskan air mata. Suara Surti kembali terdengar.
Tini mengusap air mata yang membasahi wajahnya.