Siulan Malaikat
10. Kesunyian yang Menyayat
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

SCENE 1. EXT. JALAN MENUJU RUMAH - MALAM

Langit sudah gelap gulita. SHEILA (17) berlari kecil, napasnya memburu namun wajahnya penuh binar harapan. Di tangannya, ia mendekap kaleng biskuit yang kini terasa berat dan penuh uang.

ANDI (18) berlari di sampingnya membawa bungkusan roti. Mereka saling lirik dan tersenyum... senyum kemenangan dua anak manusia yang merasa telah berhasil menyelamatkan nyawa ibunda mereka.

 

SCENE 2. EXT. HALAMAN RUMAH TUA - CONTINUOUS

Langkah Sheila mendadak terhenti mati.

Di depan pagar bambu yang miring, sebuah Bendera Kuning kecil terikat, berkibar pelan tertiup angin malam yang dingin. Beberapa tetangga berdiri di teras dengan wajah murung dan tertunduk.

Andi menjatuhkan bungkusan rotinya ke tanah. Tangannya gemetar.

 

SCENE 3. INT. RUANG TENGAH - CONTINUOUS

Sheila mendorong pintu tanpa suara. Di tengah ruangan, sebuah tubuh terbujur kaku ditutupi kain jarik. Orang-orang duduk bersila di sekelilingnya, membisikkan doa dalam remang cahaya lampu minyak.

Sheila mematung. Kaleng uang di tangannya terasa semakin berat, namun baginya, pemandangan ini mustahil terjadi.

 

SCENE 4. INT. RUANG TENGAH - CONTINUOUS

Sheila bersimpuh. Dengan gerakan kaku, ia meletakkan kaleng itu di samping kepala Ibunya.

Ia mencoba bersiul pelan... nada riang yang biasa ia gunakan untuk membangunkan Ibu di pagi hari.

Ia mencoba lagi dan lagi... namun suaranya pecah dan sumbang. Ia menatap wajah tenang itu, seolah menuntut jawaban:

"Kenapa Ibu tidur terlalu lelap? Kenapa tidak bangun-bangun?"

 

SCENE 5. INT. RUANG TENGAH - CONTINUOUS

Andi berlutut di belakangnya, menangis tersedu-sedu tanpa suara.

ANDI

(Suara pecah)

"Maafkan aku, Shei... Harusnya tadi kita langsung pulang... nggak usah mampir dulu... Maafkan aku..."

Andi memandang kaleng uang itu dengan rasa muak dan benci. Uang yang mereka kejar mati-matian kini terasa tidak berguna sama sekali.

 

SCENE 6. INT. RUANG TENGAH - CONTINUOUS

Sheila mengambil satu koin perak dari kalengnya. Ia menempelkan koin dingin itu ke tangan Ibunya yang sudah membeku.

Ia seolah berbisik lewat tatapan matanya:


"Lihat Bu, ini uangnya... sudah banyak. Ayo bangun, kita beli obat. Ibu sembuh ya Bu..."


Kesadaran itu akhirnya menghantamnya keras saat ia merasakan betapa kaku dan dinginnya tubuh itu. Ibu benar-benar sudah pergi.

 

SCENE 7. INT. RUANG TENGAH - MALAM

Di tengah isak tangis, Sheila mendongak. Ia tidak bisa berteriak, jadi ia mengeluarkan sebuah siulan yang SANGAT PANJANG, MELENGKING, dan PENUH RASA SAKIT.

Bukan lagi nada musik, tapi jeritan jiwa yang terperangkap dalam bisu.

Suara itu menusuk kalbu, membuat seluruh orang yang ada di situ terdiam dan merinding, seolah mendengar perpisahan paling menyedihkan di dunia.

 

SCENE 8. EXT. RUMAH TUA - TENGAH MALAM

Kamera menjauh. Andi duduk sendirian di tangga, memeluk kaleng biskuit itu erat-erat.

Harapan sudah ada di genggaman, namun takdir telah mengambil alih.

Di dalam rumah, Sheila masih bersandar di sisi jenazah Ibunya, memegang tangan itu seolah tidak ingin melepaskan orang satu-satunya yang mengerti bahasa suaranya.

 

FADE OUT.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)