ANDI (18) menuntun sepeda jengkinya memasuki area pasar yang becek dan padat. SHEILA (17) berjalan di belakangnya, mencengkeram ujung kaos Andi dengan sangat kuat. Matanya bergerak gelisah melihat kerumunan orang, mendengar teriakan pedagang, dan klakson motor yang saling bersahutan.
Bagi Sheila, suara-suara ini seperti serangan yang menyakitkan telinganya.
SCENE 2. EXT. LORONG PASAR - CONTINUOUS
Andi berhenti di sebuah sudut strategis dekat penjual sayur. Ia mulai menyetem senar UKULELE-nya.
ANDI
"Di sini saja, Shei. Banyak orang lewat. Ayo, mulai siulannya... Seperti yang kita latih di kebun bambu."
Sheila berdiri kaku. Bibirnya gemetar, tapi kering. Ia mencoba bersiul, namun suaranya tenggelam oleh teriakan tukang ayam di sebelahnya.
SCENE 3. EXT. LORONG PASAR - CONTINUOUS
Beberapa orang lewat begitu saja, menyenggol pundak Sheila tanpa meminta maaf. Seorang ibu-ibu paruh baya menatap Sheila dengan pandangan sinis.
IBU PASAR
"Minggir, Neng! Jangan halangi jalan! Masih muda kok malah minta-minta!"
Sheila menciut. Ia menunduk dalam, merasa sangat kecil dan tidak berguna. Andi mencoba memainkan melodi yang lebih ceria untuk memancing semangat Sheila, tapi Sheila justru hampir menangis.
SCENE 4. EXT. LORONG PASAR - SIANG
Seorang PREMAN PASAR (30-an) bertato di lengannya mendekat sambil mengunyah tusuk gigi. Ia menendang kaleng kosong di depan Andi.
PREMAN
"Woi! Siapa yang izinkan kalian main di sini? Mana uang lapaknya?!"
Andi berhenti memetik ukulele. Ia berdiri melindungi Sheila.
ANDI
"Maaf, Bang. Kami baru di sini. Kami cuma mau cari uang buat berobat..."
SCENE 5. EXT. LORONG PASAR - CONTINUOUS
Preman itu tertawa meremehkan. Ia menatap Sheila, lalu menirukan gerakan bibir Sheila dengan cara yang menghina.
PREMAN
(Mendorong dada Andi)
"Berobat apa? Si gagu ini mau nyanyi? Hah?! Jangan bikin sampah di sini! Pergi atau aku pecahkan gitar kecilmu ini!"
Sheila melihat sahabatnya diperlakukan kasar, amarah mulai tumbuh di balik ketakutannya.
SCENE 6. EXT. LORONG PASAR - CONTINUOUS
Sheila melangkah maju. Ia menarik napas sedalam yang ia bisa. Tiba-tiba:
🎵 **FYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU....
ia mengeluarkan siulan yang sangat melengking, sangat tinggi, hingga membuat Preman itu menutup telinganya karena kaget.
Suasana di sekitar lorong pasar mendadak hening. Para pedagang menoleh. Siulan Sheila bukan lagi sekadar siulan burung, tapi suara kemarahan yang tertahan.
SCENE 7. EXT. LORONG PASAR - CONTINUOUS
Siulan Sheila perlahan melunak, berubah menjadi nada yang sangat indah dan memilukan. Melodi yang bercerita tentang seorang anak yang takut kehilangan Ibunya.
Orang-orang yang tadinya sibuk menawar sayur, kini berhenti. Mereka terpesona. Beberapa orang mulai mendekat, bukan untuk mengusir, tapi untuk mendengarkan. Preman tadi terdiam, ia tampak bingung melihat orang-orang justru memberikan simpati.
SCENE 8. EXT. LORONG PASAR - SORE
Setelah beberapa menit, Sheila berhenti. Napasnya tersengal. Seorang nenek tua mendekat dan menaruh selembar uang sepuluh ribu ke dalam kaleng mereka.
NENEK TUA
"Suaramu bagus sekali, Nak... Sejuk dengarnya."
Andi menatap kaleng yang kini berisi beberapa lembar uang. Ia melihat ke arah Sheila yang berkeringat. Meski uangnya masih jauh dari cukup, tapi untuk pertama kalinya, Sheila menyadari bahwa "suara" miliknya memiliki kekuatan untuk membuat dunia terdiam.
FADE OUT.