Siulan Malaikat
1. Lahirnya Siulan Malaikat
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

SCENE 1. EXT. TERAS RUMAH - SIANG (FLASHBACK - 12 TAHUN LALU)

​Langit Karawang membara. SHEILA KECIL (5) duduk bersimpuh di tanah, memegang kincir angin bambu yang rusak. Di depannya, tiga anak sebaya tertawa mengejek.

ANAK TETANGGA

"Gagu! Sheila gagu! Nggak bisa manggil Ibunya!"

​Sheila membuka mulut. Wajahnya menegang, urat lehernya menonjol. Ia berusaha keras, namun hanya suara erangan parau yang keluar. Anak-anak itu tertawa semakin kencang. Sheila melempar kincir anginnya, lalu menangis histeris sambil memukul kepalanya sendiri.


SCENE 2. EXT. TERAS RUMAH - CONTINUOUS

IBU WULAN (MUDA) berlari keluar. Ia langsung memeluk Sheila, mendekap kepala anaknya ke dadanya.

WULAN

(Tajam, ke arah anak-anak)

"Pergi kalian! Pulang!"

​Wulan mengusap air mata Sheila. Ia memegang pipi anaknya, menatap mata Sheila yang ketakutan.

WULAN (CONT'D)

"Dengarkan Ibu. Kamu tidak gagu. Tuhan hanya memberimu bahasa yang lebih indah dari kata-kata. Suatu hari, mereka yang akan terdiam mendengarmu."


SCENE 3. EXT. KEBUN BAMBU - SORE

​Wulan menuntun Sheila ke barisan pohon bambu. Angin bertiup kencang. Batang-batang bambu yang berlubang mengeluarkan suara siulan alami yang merdu dan meliuk-liuk. Sheila terpaku. Ia berhenti menangis.

WULAN

"Dengar itu? Bambu itu tidak punya mulut untuk bicara, tapi dia bisa bernyanyi karena ada angin yang masuk ke lubangnya. Sheila juga punya angin di dalam sini..."

​Wulan menyentuh dada Sheila, lalu menyentuh bibirnya.


SCENE 4. EXT. KEBUN BAMBU - CONTINUOUS

​Wulan mencontohkan posisi bibir. Ia meniup pelan. "Fuuu... fuuu..."

Sheila mengikuti. Awalnya hanya suara napas kosong. Ia mencoba lagi, berkali-kali sampai wajahnya memerah.

​Wulan tersenyum sabar, ia memberikan contoh lagi dengan nada yang lebih jernih. Sheila memperhatikan gerakan lidah Ibunya dengan sangat teliti... fokus khas anak dengan disabilitas intelektual.


SCENE 5. EXT. TERAS RUMAH - SENJA

AYAH (30-an) sedang duduk di kursi kayu, membersihkan sangkar burung kacer kesayangannya. Burung itu bersiul dengan nada yang jernih.

​Sheila duduk di dekat sangkar, memperhatikan dengan intensitas tinggi. Ia seolah sedang menyerap frekuensi suara itu. Perlahan, Sheila mengerucutkan bibirnya. Matanya terpejam.

"TWIIIIT... TWI-LI-WIIIT!"

​Suara itu sangat jernih. Ayah tersentak sampai hampir menjatuhkan sangkar. Wulan yang sedang membawa teh di ambang pintu mematung.


SCENE 6. INT. RUMAH - MALAM

CLOSE UP pada sebuah papan tulis kecil. Ada gambar piring, gambar hati, dan gambar tempat tidur. Wulan mengetuk gambar HATI.

WULAN

"Kalau sayang Ibu, gimana nadanya?"

​Sheila menarik napas dalam, lalu mengeluarkan siulan panjang yang meliuk lembut, sangat menenangkan. Wulan mengetuk gambar PIRING. Sheila mengeluarkan dua siulan pendek yang tegas dan ceria. "WIT-WIT!"

​Mereka tertawa. Wulan memeluk Sheila dari belakang. Di sudut ruangan, Ayah memperhatikan mereka sambil tersenyum bangga.


SCENE 7. EXT. PEMAKAMAN UMUM - SIANG (BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN)

SOUND: SUARA HUJAN DERAS.

​Payung hitam besar menutupi gundukan tanah merah. Ada nisan kayu bertuliskan nama Ayah. SHEILA (13) berdiri mematung. Bajunya basah kuyup. Ia tidak menangis sehebat anak-anak lain, dunianya terasa melambat.

​Wulan merangkul pundak Sheila. Tubuh Wulan tampak jauh lebih ringkih sekarang.

WULAN

(Berbisik)

"Ayah sudah di langit, Shei. Sekarang tinggal kita berdua."


SCENE 8. EXT. PEMAKAMAN UMUM - CONTINUOUS

​Sheila menatap pusara itu, lalu ia mencoba bersiul untuk menghibur Ibunya. Namun, yang keluar hanyalah suara getaran bibir yang pecah karena udara dingin dan kesedihan.

​Ia mencoba lagi, lebih keras, hingga dadanya sesak. Ia menatap tangannya yang gemetar, mulai menyadari bahwa pelindungnya telah tiada. Wulan hanya bisa memeluknya lebih erat di tengah badai.

FADE OUT.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)