Siulan Malaikat
9. Jejak Harapan
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

SCENE 1. EXT. GERBANG PASAR INDUK - SUBUH

Udara sangat dingin dan berkabut. SHEILA (17) dan ANDI (18) sudah berdiri di antara truk-truk besar.

Sheila memakai jaket lusuh Ayahnya. Ia mulai bersiul. Awalnya tenggelam, namun perlahan suaranya yang jernih membelah kebisingan. Seorang sopir truk melempar uang logam yang berdenting di aspal basah.

 

SCENE 2. EXT. AREA PARKIR - SIANG

Matahari membakar kulit. Sheila bersiul dengan napas yang mulai pendek.

Seorang SATPAM (40-an) mendekat dengan wajah garang hendak mengusir. Namun begitu mendengar melodi itu, ia terdiam. Tanpa bicara, ia merogoh saku dan memberikan uang sepuluh ribu, lalu pergi dengan tatapan hormat.

 

SCENE 3. EXT. SUDUT TERMINAL - SORE

Bibir Sheila sudah pecah-pecah. Andi memberinya air minum.

ANDI

"Minum dulu, Shei. Jangan dipaksa, tenggorokanmu bisa luka. Kalengnya sudah hampir setengah penuh kok."

Sheila menggeleng kuat. Ia menunjuk matahari yang tenggelam, lalu menunjuk arah rumah. Ia punya firasat aneh, ia harus CEPAT. Ia berdiri lagi, membasahi bibir, dan kembali bersiul lebih keras.

 

SCENE 4. INT. ANGKOT - MALAM

Di dalam angkot yang pengap berasap, mereka tetap bernyanyi.

Awalnya penumpang kesal, namun saat nada siulan Sheila mulai mengalun, suasana berubah hening dan damai. Seorang ibu paruh baya menangis tanpa suara, tersentuh oleh keindahan suara itu.

 

SCENE 5. EXT. DEPAN SWALAYAN - MALAM

Kontras terlihat jelas: baju kusam mereka di bawah lampu neon yang mewah.

Orang dewasa cuek, tapi anak-anak justru terpesona. Seorang anak kecil memberikan cokelat. Sheila tersenyum dan membalas dengan siulan ceria seperti burung berkicau.

 

SCENE 6. EXT. EMPERAN TOKO - LARUT MALAM

Mereka duduk di lantai dingin, menuangkan isi kaleng. Ada uang kertas, koin, bahkan kancing yang nyasar.

ANDI

(Berbisik haru)

"Shei... Besok kalau dapat segini lagi, lusa kita BENAR-BENAR bisa bawa Ibu ke rumah sakit. Kita hampir sampai, Shei..."

 

SCENE 7. EXT. JALAN DESA - TENGAH MALAM

Mereka berjalan pulang dalam gelap. Sheila sangat lelah, langkahnya terseret, tapi tangannya memeluk kaleng itu sangat erat.

Ia menatap bintang, membayangkan Ibu sembuh. Ia bersiul tipis, nada kemenangan yang sangat kecil, hanya untuk Tuhan dan dirinya.

 

SCENE 8. EXT. HALAMAN RUMAH - CONTINUOUS

Mereka sampai. Rumah itu GELAP TOTAL. Tidak ada satu pun cahaya dari celah dinding.

Kesunyian ini terasa aneh. Terasa lebih dingin dan hampa dari biasanya.

Sheila memegang gagang pintu kayu. Tangannya gemetar. Ia ragu untuk membukanya, seolah-olah di balik pintu itu... segalanya akan berubah selamanya.

 

FADE OUT.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)