10. EXT. RUMAH PERKUMPULAN - RUANG PERKUMPULAN - MALAM
CAST: AMRON, AYAH
Ayah dan Amron duduk berhadapan. Selesai memberikan petuah panjang, kini saatnya untuk sesi bicara empat mata. Amron tertunduk dengan tangan Ayah menempel di belakang kepalanya.
Wajah Ayah tetap tidak ditampilkan, kita hanya melihat bagian punggung dan CLOSE UP wajah Amron.
AMRON
Yah, namaku Amron. Aku baru ikut berkumpul hari ini. Aku mau bercerita tentang rasa sedih yang aku alami. Aku sedang hancur, istriku baru saja meninggal dan anakku di bawa oleh mertua, aku tak bisa lagi bertemu dengan anakku, aku tak tahu mereka di mana.
AYAH
Dekat kau dengan Tuhan?
AMRON
Tidak, Yah.
AYAH
Kenapa kau tidak dekat dengan Tuhan?
AMRON
Aku hanya mendekati Tuhan kalau ada orang tuaku, aku tahu mereka pasti kecewa kalau aku tidak beribadah seperti mereka.
AYAH
Kau percaya Tuhan?
AMRON
Aku percaya, hanya saja untuk mengeluh pada sesuatu yang tak terlihat rasanya aneh menurutku. Ayah tahukah di mana anakku?
AYAH
Langit tak akan memberitahukannya meskipun ia tahu. Aku tak akan membantu kau menyelesaikan masalah. Aku hanya membantu untuk mendapatkan rasa tenang. Kau perlahan harus bisa melupakan anak itu.
Kau tak bisa hidup dengan terus-terusan memikirkannya. Hilangkan rindu dam sayang kau — sulit memang — tapi kau harus lakukan. Tak ada gunanya bersedih dengan semua yang telah pergi, kau harus memikirkan apa yang kau punya saat ini: kewarasan kau.
AMRON
Tapi itu tak mudah, di saat sangat sibuk pun aku tetap berpikir tentang malaikat kecilku, Yah.
AYAH
Mau sampai berapa lama kau terhanyut dalam sedih? Tidakkah kau rindu... rasa senang?
AMRON
Bagaimana caranya senang di tengah gempuran hampa?
AYAH
Suara dari langit baru terdengar, tak lama lagi bahagia akan menjemput kau melalui rumah tangga yang baru, bisa menutup duka kau yang dalam, mengisi hati kau yang sepi, dan akan menjadi tujuan hidup kau yang baru.
AMRON
Siapa orangnya, Yah?
AYAH
Langit tak akan memberitakan kesalahan, tapi ia tak akan memberikan sebuah nama. Kau cukup percaya dengan apa yang aku katakan. Kau cukupkan diri untuk bisa meminang seorang gadis, kau banyakkan duit kau untuk kau terlihat baik di depannya. Tak usah kau repotkan dengan siapa orangnya, langit akan selalu membawa kau dalam tenang.
Amron mengangguk perlahan.
CUT TO:
11. EXT. RUMAH MAKAN SATE- MALAM
Di sebuah rumah makan, Amron dan Edi baru tiba dan memarkirkan sepeda motor. Mereka langsung memesan makanan pada penjual yang menghampiri.
12. INT. RUMAH MAKAN SATE - MALAM
CAST: AMRON, EDI
Amron dan Edi duduk berhadapan sambil menyantap makanan.
EDI
Apa yang kau rasakan?
AMRON
Luar biasa! Begitu Ayah bicara dan sentuh kepalaku...,
(Memegang belakang kepala).
Entah kenapa langsung tenang. Tapi rasanya aneh juga ya, hanya karena sentuhan bisa buat lupa semuanya? Hangat tangannya seperti melancarkan darah di kepala yang selama ini rasanya tersendat.
EDI
(Bersemangat)
Seperti yang aku bilang kan? Ia memang tak menyelesaikan masalah, tak buat kau bertemu anak kau, tapi kau bisa tenang kan? Oh, iya, apa kau dapat ramalan?
AMRON
Aku Ayah ramal aku akan segera menikah lagi.
EDI
Tak perlu kau ragu, selama ini ucapannya selalu benar. Yang penting kau rutin membawakan pupuan, maka hidup kau akan semakin tenang.
AMRON
Apa itu pupuan?
EDI
Patungan..., yang di amplop waktu datang dan mau pulang.
AMRON
Oh... pupuan namanya. Eh, bagaimana ya bisa tenang tanpa menyelesaikan masalah?
EDI
Lihat kau sekarang, masalah belum selesai, tapi kau bisa senyum. Itulah kekuatan Ayah.
AMRON
Sepetinya karena memang harapanku atas kembalinya anakku sudah Ayah buat berkurang, dan juga karena aku merasa kepalaku lebih ringan.
EDI
Iya, apa pun itu. Ayah pasti akan membuatkan pengalihan agar kau tak terus memikirkan anak kau.
AMRON
(Mengangguk dan menatap meja).
Betul! Aku sekarang malah memikirkan jodohku.
(Menatap Edi).
Tapi... bagaimana dia bisa bilang dirinya akan membimbing melalui suara dari penguasa langit? Siapa penguasa langit?
EDI
Ada yang bilang Tuhan, Dewa, atau apa pun, tergantung kau percaya yang mana.
Kau mau bilang penguasa langit Alien seperti di film pun tak akan pengaruh buatnya.
Dan bagaimananya tak perlu kau pikirkan. Coba aku tanya, apa kau yakin Tuhan maha semuanya?
AMRON
Ya aku percaya saja, sudah lama aku dengar itu.
EDI
Nah... Bagaimana bisa yang Maha semuanya membuat malaikat untuk membantunya? Apa Dia tidak bisa mengerjakan sendiri?
AMRON
(Dahi berkerut).
Ya....
(Diam sejenak, mengalihkan pandangan ke sekitar).
Tidak tahu. Tapi, mungkin karena ia maha kuasa, makanya ia membuat makhluk untuk membantunya.
EDI
Nah... tapi, dengan adanya malaikat, Dia jadi tidak terlihat mampu kan?
AMRON
Bukannya itu hak-Nya untuk membuat apa saja?
EDI
Iya, memang itu hak-Nya. Dan itulah Ayah, salah satu haknya penguasa langit, yang beri dia kelebihan.
Ayah bukan nabi yang bawa kitab atau ajaran dan aturan baru. Ia cuma mampu mendengarkan suara yang tak mampu orang biasa dengar, dan suara itu yang membuat kita merasa damai.
Selama ini selalu berhasil padaku dan kedua orang tadi. Sama seperti yang kau rasakan saat ini. Lebih cepat tenang dibanding kau berdoa kan?
AMRON
Oh iya, pernah kau lihat langsung wajah, Ayah?
EDI
Hm..., satu kali. Ketika di awal seperti kau tadi. Setelah itu dia melarangnya.
AMRON
(Menatap heran).
Kenapa?
EDI
(Tersenyum).
Larangan tak harus dipertanyakan, Ron. Cukup kau jalani. Tapi sejujurnya aku pun tak tahu.
AMRON
Dari mana kau tahu Bapanku?
EDI
Dua orang yang tadi, mereka yang mengajakku, mereka pelangganku.
AMRON
Ada masalah apa kau sampai mau ikut?
EDI
Tidak ada, tapi aku penasaran waktu mereka berbincang soal ketenangan.
AMRON
Apa yang kau ceritakan pada Ayah kalau begitu?
EDI
Aku hanya bilang ingin lebih tenang. Tangannya menempel di kepala, dan aku langsung lebih tenang. Sama sepeti kau.
AMRON
Aku belum memberikan pupuan, berapa duit yang kau masukkan dalam amplop?
EDI
(Tersenyum samar).
Semakin besar pupuan, semakin tenang hidup kau.
AMRON
(Diam sebentar).
Baiklah, aku akan usahakan.
CUT TO: