Bergumul Dengan Tuhan
3. 8 - 9

7. EXT. PASAR KALANGAN - SIANG

CAST: AMRON, EDI, PEMBELI (WANITA)

Amron sedang berdiri murung dan termenung di belakang meja jualannya.

Seorang pembeli wanita datang dan ingin membeli.

PEMBELI

Mang, beli obat.

Amron diam.

PEMBELI

Mang, beli, Mang. 

Amron tetap diam.

PEMBELI

Oi, Mang! (Menggebrak meja).

AMRON

(Kaget)
Eh, iya. Mau beli obat apa, Bu?

PEMBELI

Dari tadi dipanggil diam saja kau!

AMRON

Maaf, Bu. Tadi aku tak dengar.

PEMBELI

Sudah teriak juga masih bilang tak dengar. Niat jualan tidak kau?

AMRON

Iya, Bu, maaf.

PEMBELI

Sudahlah, aku mau beli obat batuk untuk anak!

AMRON

Sebentar, sebentar. Ini obatnya, Bu. Mau yang mana?

PEMBELI

Yang paling bagus saja!

AMRON

Yang ini, Bu. Harganya 3000.

PEMBELI

Ya sudah, ini duitnya.

AMRON

Terima kasih, Bu.

Pembeli pergi.

Tak lama Edi datang menghampiri meja dagang Amron lalu

INSERT : Jemari Edi yang mengadu bergantian dengan meja.

EDI

Hei, Ron!

AMRON

Ya, Di. Kenapa?

EDI

Kau ini terlalu banyak termenung, kawan. Tak ada auranya kau berdagang, pembeli rasanya malas datang kesini. 

Amron mengangguk.

EDI

Sudahlah, kau ikut saja ke Bapanku . Sudah sering kali aku mengajak kau. Ini bisa mengurangi pikiran kau kawan. Percaya saja!

AMRON

Aku tak kenapa-kenapa.

EDI

Sudahlah, tak perlu kau bohong. Kau terlihat lebih kacau dibandingkan enam bulan lalu, waktu istri kau meninggal dan anak kau dibawa pergi.

AMRON

(Melihat Edi).
Aku sudah tak bisa bertemu dengan anakku lagi, Ed. Mertuaku pergi entah ke mana.

EDI

Hah?! Kenapa kau tak pulang dan tak kau cari?!

AMRON

Selain tak ada duit, aku juga tak tahu cari ke mana. Bisa kau bayangkan, orang tuaku yang tinggal dekat dengan mereka pun tak tahu mereka pergi. Dan kalau pun aku pulang, aku tak tahu apa yang kulakukan di sana.

EDI

Tragis! Ya sudah, ayolah! Aku jamin kau bisa lebih tenang.

AMRON

Iya, boleh. Aku ikut saran kau kali ini, sepertinya aku butuh kau saat ini.

EDI

Oke, nanti kita konvoi berdua. Siapkan diri kau, Ron. Hidup kau akan berubah.

Amron mengangguk.

 CUT TO BLACK:

8. EXT. DEPAN RUMAH PERKUMPULAN - MALAM

Sebuah rumah tua dengan halaman luas dan tiga motor terparkir di depannya. ada empat orang sedang duduk di kursi teras.


9. EXT. RUMAH PERKUMPULAN - TERAS - MALAM

CAST: AMRON, EDI, AYAH, DUA ORANG PENGUNJUNG

Amron dan Edi serta dua pengunjung duduk terdiam seperti menunggu sesuatu.

Seorang lelaki paruh baya membuka pintu dan berdiri di ambang pintu (hanya terlihat kaki).

AYAH (OS)

Masuk...


Semua orang berjalan menunduk dan mencium tangannya, tidak ada yang berani menatap wajahnya. Selain Amron, mereka semua memberikan sebuah amplop pada saat mencium tangan lelaki itu.

Mereka kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan dengan lima kursi yang disusun melingkar, dengan kepala yang masih menunduk, semuanya duduk dan menyisakan satu kursi kosong.

SFX : Pintu tertutup.

AYAH (OS)

(Batuk)

Ayah berjalan menuju kursi kosong.

AYAH (OS)

(Duduk (Gambar tak pernah menampilkan wajah ayah)).
Selamat malam anak-anak ayah yang sedang dilanda ketidakpastian, Ayah di sini akan membimbing kalian melalui suara penguasa langit. Terserah kalian mau mengartikan penguasa langit seperti apa.

CLOSE UP wajah Amron yang melirik ke arah kaki Ayah.

INSERT : Kaki Ayah yang memakai sendal jepit karet.

AYAH (OS) (CONT'D)

Langit selalu saja menyimpan banyak misteri, tak ada yang mengetahui persis apa yang tersembunyi di baliknya. Ayah sering kali mendapatkan bisikan yang harus Ayah sampaikan pada manusia-manusia yang terombang-ambing rasa takut, bimbang, ragu, dan sedih. (Batuk).

CLOSE UP wajah dua pengunjung lain.

AYAH (OS) (CONT'D)
Banyak orang yang hanyut dalam kesenangan, mereka lupa untuk beribadah, tapi Tuhan terus saja menambahkan kenikmatannya. Ada juga yang hanya beribadah dan berdoa saat sulit, tapi Tuhan tak menganggapi. Tapi, lebih banyak yang taat dan hidupnya sulit.  
Yang mana kalian?

CLOSE UP wajah Edi yang tersenyum.

AYAH (CONT'D)
(Tangan bergerak mengikuti ucapannya).
Kedekatan dengan Tuhan itu sangat pribadi, kalian yang merasa dekat dengan Tuhan, tapi apakah kalian pikir Tuhan mau mendekati kalian? Bukankah kalian yang hanya merasa terlalu percaya diri dengan ibadah yang kalian sering lakukan, dan akhirnya kalian pikir bisa dekat dengan Tuhan? Dengan percaya diri juga kalian meminta pada Tuhan? Apakah kalian yakin doa kalian yang akan didengar? Apakah Tuhan akan mengabulkannya?

CLOSE UP wajah Amron yang bingung.

AYAH (OS) (CONT'D)
Seperti yang aku bilang tadi, dekat tidak kalian dengan Tuhan itu tak akan membuat doa kalian terjamah oleh Tuhan, lantas tidak juga membuat hidup kalian tenang. Banyak yang terombang-ambing di tengah laut kebimbangan dan membawa hidup mereka tak tentu arah, seperti sampah yang tak tahu hendak ke pasir mana mereka akan menepi. 

AYAH (CONT'D)

(Tangan menunjuk atas dan bergetar).
Kalian banyak melakukan ibadah a, b, c, d, dan terus mengharapkan balasan dari Tuhan: hidup nyaman dan jauh dari masalah, hidup enak karena apa saja yang kita mau terpenuhi, hidup tenteram dengan ekonomi berlimpah. Atau juga kalian berharap: muda poya-poya, tua kaya-raya, dan mati masuk surga. Apa lagi tenang yang kalian harapkan? 
Coba kalian pikir, ada berapa milyar orang inginkan hal yang sama? 

CLOSE UP wajah Amron yang bingung namun mengangguk.

INSERT : Gambar rumah dari luar.

AYAH (OS) (CONT'D)

Jika Doa itu bisa terlihat, berapa milyar doa yang menuju langit setiap detiknya? Kalian yakin doa kalian akan dikabulkan dengan cepat? Kalian yakin waktu kalian di dunia cukup untuk menanti doa kalian dikabulkan? Atau kalian yakin ibadah yang kalian lakukan bisa membantu doa kalian didengar? Atau minimal kalian yakin doa kalian itu sampai?  

CLOSE UP wajah Edi yang memejamkan mata dan tersenyum.

INSERT : Cicak di dinding dengan blur kegiatan di rumah.

AYAH (OS) (CONT'D)

Belum lagi pertanyaannya mengenai Tuhan mana yang benar? Berapa banyak Tuhan yang dipercaya di dunia? Apakah semua itu ada? Atau cuma rekaan manusia dari sosok yang tak nyata, dan seolah mampu memberikan bahagia? Bukankah itu hanya sugesti? 

CLOSE UP wajah Amron yang hanya mengangguk dengan wajah datar.

AYAH (OS) (CONT'D)

Di sini Ayah tak memandang agama! Kalian mau menyembah Tuhan yang mana itu tak penting. Ayah hanya menjamin memberikan kalian tenang di tengah bimbang. Ayah bukan pengabul doa dan pemuas ingin kalian. Ayah hanya menjamin tenang.  

AYAH (OS)

(Mengangkat tangannya lagi menunjuk ke atas).
Silakan bergumul dengan Tuhan! Tanyakan pada-Nya, ke mana ritual dan doa indah kalian panjatkan!?

 

CUT TO:

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)