1. INT. KAMAR RUMAH KONTRAKAN - KAMAR TIDUR — SORE
Kita melihat sebuah kelambu di atas kasur.
2. INT. KAMAR RUMAH KONTRAKAN - KAMAR TIDUR — SORE
Cast: Amron, Abak, Amak, Bapak Mertua, Ibu Mertua, Mona (Bayi)
Di sebuah kamar tidur sebuah rumah kontrakan tiga petak, terdapat sebuah meja dengan dua buah kursi yang digunakan sebagai tempat makan.
Amron sedang menggendong dan menepuk pelan bayi perempuannya yang menangis.
MONA (O.S)
(Menangis).
AMRON
Nak, sayang... jangan nangis... ayo tidur... sudah kenyangkan perutnya? Ayo tidur, tidur.
Amron mengitari dengan kamarnya hingga Mona tertidur, lalu berjalan perlahan menuju kasur dan meletakkan Mona di dalam kelambu.
Amron menuju meja makan dan menyantap makanan sambil memandangi anaknya yang tertidur.
Terdengar pintu digedor.
Amron yang berjalan menuju pintu dan membukanya.
Abak, Amak, Bapak Mertua, Ibu Mertua berdiri di balik Pintu.
Abak dan Amak tersenyum.
Amron mencium tangan semua orang yang datang.
AMRON
Bak, Mak, Pak, Bu.
IBU MERTUA
Mana Mona?
AMRON
Barusan tidur di kamar, Bu, habis mandi sama makan.
Ibu Mertua menerobos masuk lalu melihat ke sekitar dan terus berjalan masuk menuju kamar.
ABAK (O.S)
Sehat kau, Nak?
AMRON (O.S)
Sehat, Bak. Ayo masuk dulu! Istirahat.
Abak, Amak, dan Bapak Mertua berjalan masuk dan duduk di lantai beralaskan karpet.
AMRON
Sebentar, mau ambil air dulu.
Amron berjalan ke dapur dan menengok ke arah kamar yang berisikan Ibu Mertua yang sedang mengelus Mona di atas kasur.
IBU MERTUA
Cantik sekali kau sayang.
BAPAK MERTUA (O.S)
Kau masih jarang pulang pas istri kau hamil, Ron?
Amron berjalan dari dapur menuju ruang tamu dengan membawa teko dan gelas di atas nampan.
Di ruang tamu, Amron meletakkan teko dan gelas lalu menuangkan air.
AMRON
Iya, Pak, seminggu sekali aku pulang. Ayo, Pak, minum dulu!
BAPAK MERTUA
Kau tak tahu kondisi istri kau?
AMRON
Dia tak cerita, Pak. Waktu Amron tinggal habis melahirkan, Amron lihat dia sehat-sehat saja. Amron baru tahu pas dia meninggal minggu lalu kalau dia ada pendarahan.
BAPAK MERTUA
(Menggeleng dan berdecak).
Kau kenapa tak jaga istri kau dulu?
Ibu Mertua keluar dari kamar dengan menggendong Mona.
IBU MERTUA
Kau itu harusnya jaga istri di rumah sehabis melahirkan, bukan sibuk cari duit terus, cari duit terus. Sebagai suami, kau harus tahu kondisi istri kau itu!
Bapak Mertua menghampiri Ibu Mertua, memegang pundaknya dan coba menenangkan.
IBU MERTUA
Kau itu jarang di rumah, pulang seminggu sekali, tapi kau cuma mampu tinggal di rumah kecil ini—tak punya duit—kalau kau lama tak pulang harusnya tidak begini rumahmu.
AMRON
Bu, tapi kan Amron cari duit dan ini sudah kesepakatan dengan Nina.
IBU MERTUA
Kau itu jawab saja! Kalau sudah begini, apa bisa kau balikkan Nina dengan duit yang kau punya?!
Amron menunduk dan melirik ke arah orang tuanya.
AMRON
Maaf, Bu, maaf.
IBU MERTUA
Dari dulu Nina bilang dia di tinggal sendiri terus, di suruh pulang saja dia tak mau, kau tak bolehkan. Giliran dia sakit kau tak rawat dia. Dia butuh kau, kau tak ada. Salah saja semua yang dia mau. Kau tak lebih cuma memikirkan harta dan dagangan kau saja. Keluarga kau telantarkan.
MONA
(menangis).
IBU MERTUA
(Menepuk-nepuk pelan kaki Mona).
Kalau begini, si Mona ini paling cuma sehari nyawanya kalau sama kau. Bisa-bisa kau pulang dagang dia sudah jadi buntang. Anak ini kami bawa pulang saja, kami saja yang rawat. Tak sudi aku cucuku dibesarkan oleh orang macam kau!
(Diam sejenak, perlahan jalan keluar rumah dengan menggendong Mona bersama bapak mertua).
AMRON
Mau ke mana, Bu?
IBU MERTUA
Kami pulang saja. Biar Mona kami yang rawat, tak perlu kau repot mengurusi, kau pasti tak akan mampu.
AMRON
Istirahat barang sebentar di sini, Bu. Dan jangan bawa Mona.
Ibu Mertua keluar dari rumah dan menatap Bapak Mertua.
IBU MERTUA
Tak perlu!
(Melihat ke arah Ayah Mertua) Bang, bawa cepat tas kita!
Bapak Mertua mengambil tas dan pergi keluar rumah.
Amron berdiri lalu berjalan ke ambang pintu dan menatap mertuanya pergi.
AMRON
Bu istirahatlah dulu di sini!
Abak mendekati Amron, memegang bahu Amron dan berdiri di sampingnya lalu menarik tangan Amron untuk duduk.
ABAK
Sabar, Nak. Kau jangan sedih. Duduk dulu. Paling tidak Mona ada yang mengurusinya. Nanti di kota kita, kami bakal sering jenguk Mona, kau tak perlu risau.
Amron menatap Abak lalu memeluknya.
AMRON
Tapi apa Aku salah cari duit begini, Bak?
Abak dan Amak saling tatap.
AMRON
Apa Amron salah, Bak, pulang seminggu sekali untuk mencari duit?
ABAK
Ron, maafkan Abak ya. Abak tadi cuma diam lihat kau jadi sasaran emosi Mertua kau. Tak mungkin Abak membela, Abak menjaga wibawanya, menjaga harga dirinya. Sama seperti waktu Amak kau marah, tak pernah Abak membela. Mertua itu sama seperti kami, orang tua kau juga.
Abak mengelus belakang kepala Amron.
Amak duduk di sebelah Amron.
AMAK
Nak, jangan kau sedih karena Mona. Dia tak akan terurus oleh kau di sini. Ada benarnya Mertua kau. Kau cuma akan menyiksa dia. Kau fokus saja di cita-cita. Anak kau biar kami yang urus.
Amron diam sejenak, melepaskan pelukan pada Abah lalu memeluk Amak dan mulai sesenggukan.
Cut to: