Daftar isi
#1
BAB 1: KELERENG DI TENGGOROKAN
#2
BAB 2: AROMA KOPI DAN ISAK TANGIS
#3
BAB 3: LABIRIN KORIDOR
#4
BAB 4: BAHASA TANPA SUARA
#5
BAB 5: RAHASIA DI BAWAH POHON KAMBOJA
#6
BAB 6: WARNA YANG BERTERIAK
#7
BAB 7: LUKA LAMA
#8
BAB 8: SAYEMBARA CAHAYA
#9
BAB 9: BENTENG KAMBOJA
#10
BAB 10: GORESAN TERAKHIR
#11
BAB 11: GEMA DI GALERI
#12
BAB 12: SABOTASE MALAM HARI
#13
BAB 13: SUARA YANG KEMBALI
#14
BAB 14: SURAT DARI GALERI NASIONAL
#15
BAB 15: SIMFONI ABADI
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#1
BAB 1: KELERENG DI TENGGOROKAN
Bagikan Chapter
Toples/Botol Kaca di Leher: Sebuah metafora psikologis yang dirasakan Lana untuk menggambarkan kondisi Selective Mutism—hambatan kecemasan yang membuat seseorang tidak mampu berbicara dalam situasi sosial tertentu meskipun memiliki kemampuan fisik untuk bicara.
Kelereng Kata: Personifikasi dari kosakata atau kalimat yang dipikirkan Lana; menggambarkan betapa padat dan "beratnya" pikiran yang tidak tersampaikan.
Sinestesia: Kondisi yang dialami Lana di mana indra-indranya saling terhubung secara tidak biasa, seperti "melihat" suara sebagai warna atau "merasakan" aroma sebagai tekstur visual.
Pita Merah: Simbol memori dan satu-satunya "jangkar" emosional Lana terhadap sosok Ayah yang sudah tidak ada.
Kode Dua Ketuk: Bentuk komunikasi non-verbal (bahasa isyarat sederhana) yang dikembangkan sendiri oleh Lana dan Ibunya untuk bertahan hidup dalam keseharian tanpa suara.
Kelereng Kata: Personifikasi dari kosakata atau kalimat yang dipikirkan Lana; menggambarkan betapa padat dan "beratnya" pikiran yang tidak tersampaikan.
Sinestesia: Kondisi yang dialami Lana di mana indra-indranya saling terhubung secara tidak biasa, seperti "melihat" suara sebagai warna atau "merasakan" aroma sebagai tekstur visual.
Pita Merah: Simbol memori dan satu-satunya "jangkar" emosional Lana terhadap sosok Ayah yang sudah tidak ada.
Kode Dua Ketuk: Bentuk komunikasi non-verbal (bahasa isyarat sederhana) yang dikembangkan sendiri oleh Lana dan Ibunya untuk bertahan hidup dalam keseharian tanpa suara.
Chapter Sebelumnya
Daftar Isi
Kembali ke halaman awal
Chapter Selanjutnya
Chapter 2
BAB 2: AROMA KOPI DAN ISAK TANGIS
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Flash
Kacamata Merah Jambu
Cerpen
Cinta dua dimensi
Cerpen
Selayaknya Ampas Kopi
Flash
Getaran Itu
Flash
Rindu Pungguk pada Bulan
Novel
Petang Sudah Melayang
Flash
Salah Konsep Bambang
Flash
Perempuan yang patah hatinya
Flash
Satu (1)
Novel
Kehidupan di Ujung Jarum
Novel
Singgah Lima Menit
Novel
After School
Cerpen
Tanda Kiamat Besar (Lanjutan)
Cerpen
Surat Naf: Sebuah Prosa
Cerpen
KEPALA IKAN
Novel
INEFFABLE
Flash
Girl Talk
Flash
Bidadari Pembohong
Cerpen
Calon Suami untuk Nala
Flash
New York Partner in Crime