Daftar isi
#1
Pertemuan tak sengaja
#2
Kesan pertama
#3
Obrolan ringan di dermaga
#4
Menemukan kesamaan hobi
#5
Berdua Mendayung Sampan
#6
Riak Gelombang Danau
#7
Pengakuan perasaan pertama
#8
Senyum Nurhayati
#9
Janji pertama yang diucapkan
#10
Latar Belakang Keluarga
#11
Pertemuan sang lelaki
#12
Keraguan dari pihak keluarga
#13
Sumpah setia sehidup semati
#14
Ikrar pendakian
#15
Puncak Kebahagiaan Hubungan Asmara
#16
Munculnya perubahan sikap
#17
Desas-desus di kampung tentang perjodohan
#18
Konfrontasi pertama
#19
Datangnya seorang tamu terpandang
#20
Pertemuan rahasia di malam hari
#21
Surat rahasia dari Nurhayati
#22
Tekanan dari keluarga besar
#23
Sang lelaki mulai berjuang
#24
Hari-hari penuh kecemasan
#25
Nurhayati mulai jarang terlihat
#26
Surat rahasia dari Nurhayati
#27
Usaha sang lelaki
#28
Pertemuan singkat
#29
Kabar mengejutkan
#30
Malam penuh kepedihan
#31
Sang lelaki mendatangi kembali
#32
Bayangan wajah Nurhayati
#33
Usaha terakhir sang lelaki
#34
Penolakan Nurhayati dengan alasan
#35
Air mata perpisahan di bawah gerimis
#36
Rasa tidak percaya sang lelaki
#37
Malam sebelum hari pernikahan
#38
Hari pernikahan Nurhayati tiba
#39
Sang lelaki menyaksikan dari kejauhan
#40
Hancurnya hati sang lelaki
#41
Pengasingan diri: Sang lelaki
#42
Peran sahabat karib yang datang
#43
Keputusan berat untuk meninggalkan kampung
#44
Pemberangkatan sang lelaki ke perantauan
#45
Perjalanan di atas kapal
#46
Tiba di kota besar yang asing
#47
Tantangan mendapatkan pekerjaan pertama
#48
Kenangan tentang Nurhayati terus menghantui
#49
Pertemuan dengan rekan kerja baru
#50
Fokus pada pekerjaan sebagai pelarian
#51
Surat kabar atau berita dari kampung
#52
Kilas balik: Saat-saat tertawa bersama
#53
Munculnya rasa dendam dan kekecewaan
#54
Nasihat dari seorang mentor di tempat kerja
#55
Usaha pertama sang lelaki
#56
Kesuksesan kecil di kantor
#57
Bayang-bayang Nurhayati
#58
Undangan pernikahan atau kabar kehamilan
#59
Malam pergantian tahun di perantauan
#60
Chapter tanpa judul #60
#61
Promosi jabatan di tempat kerja
#62
Kehadiran sosok perempuan baru
#63
Perbandingan antara bayangan Nurhayati
#64
Sang lelaki mulai belajar membuka hati
#65
Chapter tanpa judul #65
#66
Pengakuan sang perempuan baru
#67
Saling menguatkan dalam memulihkan trauma
#68
Kunjungan bisnis pertama sang lelaki
#69
Ketakutan dan debaran jantung
#70
Chapter tanpa judul #70
#71
Keputusan untuk tidak sengaja
#72
Pertemuan tidak sengaja dari kejauhan
#73
Pandangan mata yang sempat beradu
#74
Realisasi bahwa waktu tidak bisa diputar ulang
#75
Pelepasan emosi terakhir
#76
Kembali ke kota perantauan
#77
Hubungan dengan perempuan baru di kantor
#78
Lamaran sederhana yang diterima
#79
Persiapan pernikahan baru yang jauh dari kemegahan
#80
Hari pernikahan sang lelaki
#81
Refleksi hidup: Memahami mengapa pepatah
#82
Menyadari bahwa tidak semua bintang
#83
Kesuksesan karier yang semakin cemerlang
#84
Kelahiran anak pertama
#85
Kunjungan keluarga besar ke rumah baru
#86
Berdamai sepenuhnya dengan masa lalu
#87
Mengirimkan doa dalam diam
#88
Menuliskan kisah hidupnya ke dalam sebuah buku
#89
Perjalanan liburan keluarga kecilnya
#90
Kematangan mental: Memandang masa lalu
#91
Usia yang mulai senja
#92
Berita duka dari kampung halaman
#93
Keputusan untuk pulang kampung
#94
Menunjukkan tempat-tempat masa kecil
#95
Berdiri di tepi Danau Toba
#96
Bayang-bayang masa lalu kembali melintas
#97
Ziarah ke makam orang tua
#98
Pertemuan singkat tanpa sengaja
#99
Saling melempar senyuman
#100
Perpisahan terakhir dengan tanah kelahiran
#101
Penutup: Kenangan masa berpacaran di Danau Toba
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#69
Ketakutan dan debaran jantung
Bagikan Chapter
Chapter ini masih diperiksa oleh kurator
Chapter Terkunci
Cuplikan Chapter ini
Mentari pagi di tanah Sumatra merayap lambat di balik jajaran bukit barisan menyapukan bias jingga kemerahan ke atas permukaan Danau Ranau yang tenang Udara dingin pegunungan menyergap pori-pori kulit Aris seketika ia melangkah turun dari bus antar-provinsi yang membawanya setelah perjalanan malam yang melelahkan Bau tanah basah embun pagi dan aroma khas pepohonan pinus langsung membangkitkan memori masa kecil yang sudah bertahun-tahun terkubur rapat di dalam sanubarinya Di sekelilingny
Beli Chapter
Baca chapter ini, detik ini juga
Rp1.000
atau 1 kunci
Beli Novel
Semua chapter akan terbuka
Rp35.000
atau 35 kunci
Chapter Sebelumnya
Chapter 68
Kunjungan bisnis pertama sang lelaki
Chapter Selanjutnya
Chapter 70
Chapter tanpa judul #70
Sedang Dibicarakan
Cerpen
Bronze
Manusia Serigala
Sahid Ahmad
Novel
Gold
KKPK Little Ballerina
Mizan Publishing
Novel
Gold
Erlan
Bentang Pustaka
Novel
The Five
Kaylasyifa Azzahrie
Flash
Bronze
Cicilan jalan-jalan
penulis kacangan
Cerpen
Bronze
Dua Hati Dua Dunia
Julian
Novel
Bronze
Al Kahfi Land 1 - Menyusuri Waktu
indra wibawa
Novel
Hidden Moon
madiani_shawol
Novel
Bronze
Romantic Love Story #2
Imajinasiku
Cerpen
What a Birthday really Means
Cahaya HusMa
Novel
Bukan Badboy Penyelamat Sekolah
Muhammad Azhar
Novel
Gold
Happy Birthd-die
Bentang Pustaka
Cerpen
Bronze
Tidak Ada Tutug Oncom di Neraka
Imas Hanifah N.
Novel
GELORA CINTA DI TENGAH GEJOLAK JAKARTA
Juju jubaedin
Cerpen
Bronze
JAZZBUK
glowedy
Cerpen
Bronze
Pekerja Kontrak
Karlia Za
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Kaktus Berdarah Seri 01
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
DI MANA PUN ITU, AKU INGIN BERSUJUD
Fakhrurrazi M. Qasim
Novel
Bronze
Legenda Negeri Bharata
Putu Felisia
Cerpen
Bronze
Suara Tanah Niskala
andri hasanuddin