Yang Muda Yang Meninggal
2. Bagian 2

14. INT. RUANG BK - SIANG

Marsha duduk di sebrang Guru BK. Di antara mereka ada banyak berkas-berkas yang tergeletak di atas meja.

GURU BK

Jadi kamu mau nyari kampus swasta aja, Marsha? Tapi mau yang di dalam kota dan terjangkau, ya?

MARSHA

Iya Bu, Ibu saya maunya begitu. Sekarang kan udah nggak ada Bapak, jadi kami harus ngirit-ngirit.

GURU BK

Kalau kampus ini gimana?

Guru BK menyodorkan brosur yang langsung diterima Marsha.

MARSHA

UNIK? Universitas Ikhlasetya? Kok aku baru denger ya namanya? Jurusannya nggak banyak ya Bu?

GURU BK

Memang nggak terlalu dikenal, tapi bagus kok. Jurusan yang paling bagus di situ, Manajemen Informatika, Sha.

Marsha membolak-balik brosur.

MARSHA

Biayanya lumayan terjangkau, lokasinya juga nggak jauh dari rumah.

GURU BK:

Kebetulan Ibu kenal sama ketua yayasannya. Kalau kamu kuliah di sini, nggak perlu khawatir berhenti di tengah jalan karena biaya. Kampus ini nggak galak soal biaya, Sha. Nggak pernah ada cerita mahasiswanya berhenti karena faktor biaya.

MARSHA

Gitu ya? Saya tertarik kayaknya. Brosurnya boleh saya bawa ya Bu? Sekalian saya minta formulirnya kalau masih ada.

Guru BK menyiapkan yang diminta Marsha. Ponsel Marsha berdering, Marsha langsung mengangkat telepon.

MARSHA

Halo Bi? Gue masih di sekolah.

CUT TO:

15. EXT. KORIDOR KAMPUS BIANCA - SIANG

Bianca berjalan di koridor menuju mobilnya sambil menelepon Marsha.

BIANCA

Lo masih lama nggak di sana? Gue mau pamerin apartemen baru gue, Sha!

MARSHA

Udah beres ya apartemen lo? Gue bentar lagi juga selesai sih. Lo di mana itu?

BIANCA

Gue di mobil, abis ngasih berkas ke kampus. Lo mau gue jemput nggak?

MARSHA

Nggak usah Bi, gue naik ojek aja deh. Kita ketemu di apartemen lo aja, kasih gue alamat lengkapnya, Bi!

BIANCA

Okedeh, babay sayangku!

Bianca menutup telepon dan memasukkan HP ke dalam tas. Dia berdiri terpaku melihat sedan putih miliknya.

BIANCA

Anjing!

Bianca melangkah mendekati mobilnya. Ada coretan merah besar di kap mobilnya yang bertuliskan, 'MOBIL HASIL DUIT HARAM!'

CUT TO:

16. EXT. GERBANG SEKOLAH - SIANG

Marsha berdiri di pinggir jalan. Mobil Asti menepi.

CUT TO:

17. INT. MOBIL ASTI - SIANG

Marsha duduk di depan dan langsung memasang sabuk pengaman.

MARSHA

Tumben lo nyetir sendiri.

ASTI

Bunda lagi nggak pas aku berangkat, ada Ayah doang. Kata Ayah, nanti biar Ayah yang dimarahin Bunda. Hehe...

MARSHA

Seneng banget lo ya? Dikasih ijin nyetir doang padahal.

ASTI

Hehehe. Kita bawa beli jajan dulu ya buat nanti di sana?

MARSHA

Siap, gas!

Asti menjalankan mobil.

CUT TO:

18. INT. VOYER APARTEMEN BIANCA - SIANG

Asti dan Marsha keluar dari private lift. Masing-masing menenteng keresek berisi makanan dan minuman. Bianca menyambut Asti dan Marsha di apartemen barunya.

BIANCA

Ya, selamat datang di apartemen baru gue

CUT TO:

19. INT. APARTEMEN BIANCA RUANG TENGAH

Begitu masuk mereka langsung masuk ke ruang tengah. Marsha duduk di sofa panjang yang menghadap TV seukuran papan tulis. Sementara Asti langsung menuju pantry.

MARSHA

Ini keren banget, Bi. Marsha menghampiri Asti.

Marsha melirik Asti yang berdiri melongo di pantry.

MARSHA

Dapurnya niat banget, lo kan nggak bisa masak.

BIANCA

Gue bikin dapur seniat itu buat Asti, kok.

Asti yang lagi mengamati peralatan memasak di dapur langsung menoleh ke arah Bianca.

ASTI

Kamu bikin ini... buat aku?

BIANCA

Iya, biar lo sering-sering main ke sini. Lo sepik apaan kek ke nyokap lo, kerja kelompok atau apa gitu.

Asti menghampiri Bianca dan langsung memeluk Bianca.

BIANCA

Udah nggak usah nangis segala.

ASTI

Aku pengen banget main-main di dapur lagi.

BIANCA

Gue tahu itu, makanya gue bikin beginian. Nggak mungkin juga nyokap lo bikin beginian buat lo. Jahat dia tuh.

Asti tertawa kecil dan memukul manja pundak Bianca.

ASTI

Gitu-gitu juga Bunda aku tahu, aku sayang sama dia.

Mereka langsung heboh menyiapkan makanan yang dibawa Bianca dan Marsha.

 

CUT TO:

20. EXT PARKIRAN APARTEMEN BIANCA

Memperlihatkan mobil Bianca yang masih ada coretan. Orang-orang lewat, melirik dan tertawa kecil.

COWOK 1

Mobil siapa sih ini?

CEWEK 1

Katanya abang parkir sih punya Bianca

COWOK 2

Bianca siapa?

CEWEK 1

Ituloh, artis sinetron yang suka main jadi antagonis. Dia baru pindahan ke sini.

COWOK 1

Oh, yang IG sama youtubenya sering diserang itu itu?

COWOK 2

Oh yang itu, emang kenapa? Buat gue seru-seru aja kok kontennya.

CEWEK 1

Gue sih sebel yah, anaknya sok keras gitu, udah gitu mukanya juga kelihatan tua padahal baru lulus SMA.

 

CUT TO:

21. INT. KAMAR ORANG TUA ASTI - SORE

Bunda baru sampai rumah, Ayah baru selesai mandi.

BUNDA

Ayah apa-apaan sih? Masa Asti dibiarin nyetir sendiri?

AYAH

Asti udah cukup umur. Dia udah lulus kelas mengemudi dan punya SIM. Masalahnya di mana?

BUNDA

Kalau dia kenapa-kenapa gimana? Dia itu anak perempuan, pake sopir ajalah nggak usah nyetir sendiri!

AYAH

Pakai sopir juga belum tentu sampai dengan selamat, kan? Risikonya sama aja.

BUNDA?

Ayah kok gitu?

AYAH

Bun, udahlah. Jangan semua hal tentang Asti kita yang ngurus! Dia tuh punya pikiran dan perasaan sendiri! Kasihlah dia kesempatan buat ngambil keputusan!!

Bunda mendengus kesal lalu melipir ke kamar mandi.

 

CUT TO:

22. INT. RUANG MAKAN RUMAH MARSHA - MALAM

Marsha menyuapi adik-adiknya sementara Ibu mengamati brosur.

IBU

Ini terjangkau Kak, kamu mau ambil jurusan apa?

MARSHA

Manajemen Informatika, kata guru BK itu yang paling bagus di sana.

IBU

Ya udah, besok langsung daftar aja ya?

MARSHA

Iya, Bu. Kosong de? Sini Aaa.

ADIK 1

Kakak kalau kuliah itu nggak pakai seragam ya belajarnya?

ADIK 2

Serius? Boleh pakai baju bebas? Wah enak dong!

MARSHA

Nggak juga De, baju kakak sedikit soalnya. Pusing juga harus ganti-ganti baju setiap hari.

CUT TO:

23. INT. RUANG TENGAH APARTEMEN BIANCA - MALAM

Bianca dikunjungi oleh kedua orang tua dan abangnya. Mereka duduk di sofa.

ABANG

Mantap Dek, ada private liftnya!

MAMA

Mama suka banget sama dapurnya. Alat-alatnya lengkap gitu, kayak di rumah kita. Emang kamu bisa masak?

BIANCA

Dedek sengaja bikin begitu, biar Asti betah.

PAPA

Papa abis kontrol kemarin ke Ayahnya Asti.

BIANCA

Kalau ke Ayahnya nggak apa-apa. Tapi kalau Papa sakit gigi, jangan periksa ke Bundanya Asti.

ABANG

Kamu itu dari dulu benci banget sama Bundanya Asti.

BIANCA

Ya abis dianya juga benci sama Dedek.

MAMA

Mama juga nggak terlalu suka sama Bundanya Asti. Setiap rapat sekolah banyak omong, jadi lama kan rapatnya.

 

 

CUT TO:

24. INT. KAMAR MARSHA - MALAM

Marsha sudah bersiap tidur. Dia menyalakan speaker yang langsung memutar suara Bapak.

SUARA BAPAK

Marsha, anak sulungku. Kamu tahu nggak kenapa hidup terasa berat? Karena emang gitu. Dan kalau kamu merasa harimu buruk, kamu harus ingat Marsha... mungkin besok akan lebih buruk. HAHAHAHAHAHAHAHA.

Marsha yang matanya sudah lima watt, mendadak melek. Dia melirik foto Bapak lalu mendengus kesal. Masa memejamkan matanya lagi.

CUT TO:

25. INT. SINGGASANA - MALAM

Bapak duduk di sofa panjang, di sampingnya Bidadari 1 menyuapi Bapak. Bidadari 2 datang menghampiri.

BIDADARI 2

Ada tamu, Beb.

BAPAK

Ya ampun, aku udah meninggal masih harus terima tamu?

BIDADARI 2

Ini yang bertamu anak sulungmu, Beb.

BAPAK

Ya sudah, suruh ke sini!

Bidadari 2 berlalu dan kembali membawa Marsha. Marsha duduk di hadapan Bapak. Bapak memakai kacamata hitam, diapit dua bidadari, lalu menumpangkan kaki sambil merangkul kedua bidadari itu.

BAPAK

Bapak udah meninggoy, Marsha... Meninggoy!

Kenapa kamu masih nyari-nyari Bapak?

MARSHA

Aku mau Bapak, Ibu nggak bisa ngertiin aku kayak Bapak.

BAPAK

Bikin ulah apalagi itu wanita itu?

CUT TO:

26. INT. RUANG MAKAN - MALAM

Marsha duduk berhadapan dengan Ibu di meja makan.

MARSHA

Ibu kenapa sih ngotot banget minta aku buat kuliah? Aku pengin nyoba bidang lain Bu. Di bidang akademis aku nggak bisa jadi apa-apa.

IBU

Marsha, keluarga kita sekarang butuh jaminan. Dengan kamu kuliah dan lulus tepat waktu, kamu punya peluang yang besar buat punya pekerjaan tetap. Kalau kamu nggak kuliah? Pekerjaan tetap macam apa yang bisa kamu dapat?

MARSHA

Kan aku bilang aku mau kursus make up, setelahnya aku bisa jadi MUA.

IBU

Siapa yang bisa jamin kita bisa hidup dari sana? Butuh waktu yang panjang dan proses yang nggak mudah kalau kamu mau survive di bidang itu. Bagaimana kalau tabungan Bapak habis dan kamu belum jadi apa-apa? Ade-ade ikut kena imbasnya.

Marsha cuma menunduk.

IBU

Kalau kamu bisa lulus tepat waktu dan punya pekerjaan tetap. Terserah deh mau di mana. Mau jadi ASN, BUMN, atau perusahaan swasta. Minimal kamu bakal punya penghasilan yang pasti masuk kantong setiap bulan. Kalau jadi MUA? Siapa yang bisa jamin keuangan kita akan aman setiap bulan?

CUT TO:

27. EXT. SINGGASANA - MALAM

Marsha tertunduk di hadapan Bapak. Bapak masih santai merangkul kedua bidadari sambil tumpang kaki.

BAPAK

Kok bebannya jadi di kamu? Harusnya Ibu dong yang cari kerja.

MARSHA

Ibu udah belasan tahun jadi Ibu rumah tangga, nggak punya pengalaman kerja. Mau cari kerjaan apa? Adik-adik kan masih kelas 4 dan kelas 2 SD, nggak mungkin ditinggal kerja seharian. Siapa yang jagain mereka?

BAPAK

Iya juga sih kita kan nggak punya pembantu. Eh tapi itu kan bukan urusan Bapak lagi? Bapak udah meninggoy Marsha, meninggoy!

MARSHA

Aku cuma pengin cerita aja kok, Pak. Aku tahu urusan Bapak dengan dunia udah selesai. Aku cuma pengin ngeluarin unek-unek aja. Ibu belum bisa aku ajak buat berbagi beban.

BAPAK

Yaudah, lanjutin.

MARSHA

Ibu juga nggak diam kok, Pak. Ibu berusaha cari penghasilan juga. Aku ngajarin Ibu buat pakai HP bekas Bapak, sekarang Ibu udah bisa pakai facebook sama WA, Pak. Katanya, Ibu mau ngontak teman-teman lama Ibu, siapa tahu ada yang bisa ngasih pekerjaan yang cocok buat Ibu.

CUT TO:

28. INT. RUANG MAKAN RUMAH MARSHA - MALAM

Ibu dan Marsha duduk berdampingan di meja makan. Marsha memegang HP bekas Bapak dan Ibu memperhatikan lekat-lekat.

MARSHA

Sini Bu, aku ajarin pakai Facebook. Gini caranya kalau Ibu mau nyari temen-temen SMA Ibu.

IBU

Ibu kan cuma tamatan SMP, Kak. Kamu kok berani ngatain Ibu, sih?

MARSHA

Aku lupa Bu, nggak sengaja, maaf.

CUT TO:

29. SINGGASANA - MALAM

Marsha menunduk mengurut kening.

MARSHA

Setelah itu, Ibu jadi main HP terus. Ibu berhasil nemuin temen-temen lamanya. Dan sekarang, Ibu tambah nyebelin.

30. INT. DAPUR RUMAH MARSHA - PAGI

Marsha lagi cuci piring. Ibu duduk di meja makan sambil main HP.

IBU

Kak lihat nih, anaknya temen Ibu ada yang dapat beasiswa ke Jepang.

MARSHA

Wow.

Marsha cuci piring sambil bersungut-sungut.

IBU

Duh seneng kali ya kalau punya anak pintar begini. Ibunya pasti bangga banget. Coba ya anak Ibu ada yang dapat beasiswa ke luar negeri.

CUT TO:

31. INT. SINGGASANA -MALAM

Marsha menutupi mukanya di hadapan Bapak yang tersenyum lebar.

BAPAK

Kamu sih cari penyakit, ngapain coba pake ngajarin Ibu main begituan.

MARSHA

Aku mana tahu jadinya bakal kayak begitu, Pak. Mana Ibu susah banget kalau dibilangin.

CUT TO:

32. INT. RUANG KELUARGA RUMAH MARSHA - SIANG

Ibu lagi rebahan di sofa. Marsha baru pulang dan langsung dipanggil Ibu. Ibu bangkit dari rebahannya meminta Marsha duduk di sebelahnya.

IBU

Kak, sini deh!

Dengan raut wajah malas, Marsha menghampiri Ibu.

MARSHA

Ada apa Bu?

IBU

Ini lihat deh. Masa ada pejabat bagi-bagi beras, tapi isinya beras plastik. Parah banget ya?

MARSHA

Itu bohong Ibu...

IBU

Bohong gimana? Orang ini ada videonya kok, nih kamu lihat sendiri.

CUT TO:

33. INT. SINGGASANA - MALAM

Marsha mengurut-urut kepalanya sementara Bapak cuma tertawa.

MARSHA

Gimana sih caranya ngebilangin Ibu? Aku nggak mau jadi anak durhaka, tapi tiap ngobrol sama Ibu bawaannya pengen meluap-luap terus.

BAPAK

Ha... Ha... Ha... Wanita itu emang keras kepala.

MARSHA

Aku pusing Pak, mana Ibu gampang banget percaya sama temennya.

CUT TO:

34. INT. KAMAR MARSHA - MALAM

Marsha lagi rebahan waktu kepala Ibu nongol di pintu kamar Marsha yang nggak ditutup.

IBU

Ibu boleh masuk, kak?

MARSHA

Boleh Bu, sini aja.

Marsha bangun dari rebahan dan duduk di pinggir kasur. Ibu duduk di sebelahnya.

IBU

Kamu lihat deh Kak, temen Ibu ada yang investasi terus untungnya lumayan banget. Ibu pengin ikut deh.

Ibu memperlihatkan layar HP ke Marsha.

MARSHA

Hati-hati Bu kalau mau ikutan yang kayak gini. Jaman sekarang banyak penipuan.

IBU

Ibu kenal kok sama orangnya, dia temen sekolah Ibu! Nggak mungkin dia nipu! Hasilnya lumayan Kak, buat nambah-nambahin keuangan keluarga kita.

MARSHA

Ibu sama dia kan udah belasan tahun nggak ketemu? Ibu nggak tahu selama itu dia ngapain aja.

IBU

Ibu tahu banget, dia orang baik, Kak. Lagian ini bisnisnya jelas kok, jualan beras murah tapi kualitas tinggi! Jualan beras mah nggak ada kata sepi, Kak! Kamu itu bukannya dukung malah buruk sangka.

MARSHA

Bukan buruk sangka, tapi waspada Bu.

IBU

Udah ah, kamu susah banget dibilangin!

Ibu berdiri lalu keluar dari kamar Marsha. Marsha menjitak keningnya sendiri.

CUT TO:

35. INT. SINGGASANA MALAM

Marsha menyandarikan tubuhnya ke sofa.

MARSHA

Aku harus gimana coba Pak, ngadepin Ibu?

BAPAK

Kamu lupa ya kalau Ibu kamu itu... ibu-ibu. Kamu tahu kan betapa mengerikannya kombinasi antara ibu-ibu dengan teknologi? Sekarang kamu lihat itu, Marsha.

Bapak menunjuk layar.

BAPAK

Kamu bisa lihat itu, kan?

Di layar itu, muncul seseorang yang sedang duduk di kursi. Di hadapannya, ada seseorang lain yang bersimpuh.

MARSHA

Itu siapa Pak? Lagi meni pedi ya? Tapi kok nangis?

BAPAK

Itu Bu Arum, teman Bapak yang semasa hidupnya suka nyebar hoaks di grup WA. Selain itu, dia juga suka komentar jahat di IG artis-artis. Sekarang, jempolnya dipotong pakai pisau roti.

MARSHA

Kok nggak pakai pisau daging?

BAPAK

Sengaja biar sakitnya lama.

Marsha bergidik.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Bapak udah meninggoy Marsha... njay... bapaknya gaul 🤣
2 tahun 10 bulan lalu