Sapaan Rindu
3. BAB 3 - KEPOLOSAN YANG MEMBAWA PETAKA
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

FADE IN:

22. INT. KAMAR ZENA – MALAM

Lampu kamar redup. ZENA duduk di tempat tidur, menatap ponselnya.

Layar chat terbuka:

Nama: DAVA

Pesan masuk:

“Udah makan belum?”

Zena tersenyum kecil.

CUT TO:

MONTAGE – CHAT ZENA & DAVA

— Zena tersenyum membaca pesan

— Zena membalas sambil rebahan

— Notifikasi pagi: “Selamat pagi :)”

— Notifikasi malam: “Jangan begadang ya”

MONTAGE BERAKHIR.

KEMBALI KE: INT. KAMAR ZENA – MALAM

Zena menatap layar, ragu.

Pesan dari Dava:

“Besok ketemu yuk. Aku pengen kenal kamu lebih dekat.”

Zena menarik napas.

CUT TO BLACK.


23. EXT. KAFE – MALAM

Kafe kecil dengan lampu kuning hangat. Suasana tenang. Sedikit romantis.


24. INT. KAFE – MALAM

Zena masuk. Matanya mencari.

Di sudut ruangan—DAVA (23), rapi, tersenyum.

DAVA

Zena?

Zena mengangguk kecil.

ZENA

Iya... kamu Dava?

Dava berdiri, menarikkan kursi.

DAVA

Duduk sini.

Zena duduk.

Di meja sudah ada dua cangkir cokelat panas.

ZENA

Kamu... ingat?

DAVA

(tersenyum)
Kamu pernah cerita. Dan aku mengingat semuanya.

Zena tersenyum tipis. Sedikit tersanjung.

Beat.

DAVA

Aku udah ngebayangin wajah kamu dari lama.

Zena salah tingkah kecil.

ZENA

Jangan berlebihan.

Percakapan mengalir.

Namun—

CLOSE UP – MATA DAVA

Tatapannya terlalu fokus.

Terlalu lama.

Seolah tidak ingin melewatkan satu detail pun dari wajah Zena.

Zena mulai sedikit tidak nyaman.


25. ANGLE LAIN – KAFE

Sekelompok anak muda tertawa.

Di antara mereka—

SEORANG PEMUDA BERBAJU HITAM memakai MASKER.

Diam.

Matanya mengarah ke Zena dan Dava.

Tajam.

Mengamati.

KEMBALI KE MEJA ZENA DAN DAVA

Dava perlahan menyentuh tangan Zena.

Terlalu lama.

Zena langsung menegang kecil.

DAVA

Aku senang akhirnya kita bisa ketemu begini.

Beat.

DAVA (CONT’D)

Berdua aja.

Zena menarik tangannya pelan.

ZENA

Iya... makasih ya.

Namun wajahnya mulai canggung.


26. EXT. KAFE – MALAM

Zena dan Dava keluar.

DAVA

Aku antar kamu pulang ya?

ZENA

Nggak usah, Dav. Papahku mau jemput.

DAVA

Aku gak suka ninggalin orang yang aku sayang sendirian.

Zena sedikit terdiam.

Kalimat itu terdengar aneh.

ZENA

Nggak papa kok, Dav. Aku bisa tunggu di sini.

Tatapan Dava berubah sesaat.

Sedikit dingin.

Lalu kembali tersenyum.

DAVA

Aku cuma khawatir.

Ponsel Zena bergetar.

INSERT – LAYAR HP:

“Papah: Maaf, sepertinya papah nggak bisa jemput.”

Zena menelan ludah.

ZENA

...yaudah.

Dava tersenyum kecil.

Terlalu puas.


27. INT. MOBIL DAVA – MALAM

Suasana mulai hening.

Lampu jalan bergantian melewati wajah mereka.

Zena melihat keluar jendela.

DAVA

Aku senang akhirnya kamu percaya sama aku.

ZENA

Hehe... iya.

Beat.

DAVA

Aku udah nunggu momen ini lama, Zen.

Zena menoleh kecil.

Ada sesuatu dalam nada suara Dava yang membuatnya tidak nyaman.

Mobil terus melaju.

ZENA

Dav... ini bukan jalan ke rumahku.

DAVA

Aku tahu.

Senyum tipis.

DAVA (CONT’D)

Aku cuma mau kita punya waktu lebih lama.

Zena mulai panik.

ZENA

Aku mau pulang. Sekarang.

Tidak ada jawaban.


28. EXT. JALAN SEPI – MALAM

Mobil berhenti.

Sepi. Gelap. Hanya lampu jalan redup.

Suara jangkrik.


29. INT. MOBIL – MALAM

Mesin menyala. Mobil berhenti.

Sunyi.

Zena mulai merasa ada yang tidak beres.

ZENA

Kita ngapain berhenti di sini?

Dava tidak langsung jawab.

Ia menoleh.

Senyumnya... berbeda.

Dingin.

DAVA

Zena... kamu cantik.

Beat.

Tangan Dava perlahan menyentuh pergelangan Zena.

Awalnya ringan.

Lalu—

mencengkeram.

ZENA

(tegang)

Dav...?

DAVA

Aku cuma mau... lebih dekat.

Tubuhnya maju sedikit.

Zena mundur... terjebak kursi.

Tangannya mencoba lepas.

Gagal.

CLOSE UP – JARI DAVA

Makin kuat.

ZENA

Lepas! Aku mau pulang!

DAVA

(pelan, mengancam)

Jangan bikin aku berubah, Zen.

Beat.

DAVA (CONT’D)

Aku akan baik... kalau kamu nurut.

Napas Zena makin cepat.

Matanya mencari... pintu.

Terkunci.

Dava semakin mendekat.

ZENA

Dav... stop...

Detik itu—

PLAK!

Tamparan keras.

Sunyi.

CLOSE UP – WAJAH DAVA

Perlahan menoleh kembali.

Matanya berubah.

Lebih gelap.

DAVA

(sangat pelan)

Salah kamu.

Zena panik.

Langsung meraih handle pintu—

TERKUNCI.

Dava menarik lengannya lagi.

Zena berontak.

Dengan sisa tenaga—

Ia memaksa membuka pintu.

klik.


30. EXT. JALAN SEPI – MALAM

Pintu terbuka kasar. Zena keluar. Dava mengikuti.

Zena jatuh hampir tersungkur ke aspal.

Napasnya kacau.

Ia mundur cepat.

Gemetar.

Mobil masih menyala di belakangnya.

Lampu menyorot tubuhnya.

Zena berdiri.

ZENA

Jangan mendekat.

DAVA

Zen! Aku gak mau kasar sama kamu. Ayo kembali ke dalam mobil.

Zena menggeleng. Langkahnya perlahan mundur. Kakinya sedikit goyah. Hampir jatuh.

FLASH CUT.

SUARA LANGKAH. Dari arah gelap. Tegas. Cepat.

Seseorang muncul dari bayangan.

PEMUDA BERMASKER.

Diam.

Namun auranya... berbeda.

Berbahaya.

Untuk Dava.

CLOSE UP – MATA PEMUDA BERMASKER

Dingin. Penuh amarah tertahan.

Dava berhenti.

Menatapnya.

DAVA

Siapa lo?

Pemuda itu tidak menjawab.

Satu langkah maju.

Ia mendekat.

Zena menatapnya—takut, tapi juga... sedikit merasa aman.

Hening.

Tegang.

Angin malam berembus pelan.


FADE OUT.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)