Sapaan Rindu
2. BAB 2 - Sebelum Cahaya Itu Pergi
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

FADE IN:


12. INT. KAMAR ZENA – PAGI

Cahaya matahari menembus tirai tipis.

ZENA, masih tertidur pulas di balik selimut.

Ponsel di sampingnya masih menyala—layar YouTube pause.

PINTU diketuk keras.

PUSPA CAHAYA DININGRAT (45) (O.S.)

Zena! Bangun! Sudah jam berapa ini!

Zena mengerang. Menarik selimut menutupi kepala.

ZENA

(menguap) Iya, Mah... sebentar...

PUSPA (O.S.)

Bangun! Atau Mamah dobrak ini pintu!

Zena langsung membuka mata.

CUT TO:


13. INT. DEPAN KAMAR – PAGI

Pintu terbuka. PUSPA, berdiri tegas sambil menyodorkan handuk.

PUSPA

Nih. Mandi. Sekarang.

Zena menerima handuk dengan wajah pasrah.

CUT TO:


14. INT. KAMAR ZENA – PAGI

Pintu tertutup. Zena kembali menjatuhkan diri ke kasur.

Beat.

PUSPA (O.S.)

ZENAAAA!

Zena langsung bangkit.

ZENA

Iyaaa!

CUT TO:


15. INT. KAMAR MANDI – PAGI

Zena mandi dengan ekspresi setengah sadar.

ZENA (V.O.)

Dulu... aku hanyalah gadis biasa.

CUT TO:


16. INT. RUANG MAKAN – PAGI

Meja makan sederhana. HARTAWAN (50) duduk santai sambil minum teh. Puspa berdiri di dekat dapur, masih mengomel.

PUSPA

Anak perempuan kok malas bangun. Kalau nanti sudah menikah gimana?

Hartawan menahan tawa.

HARTAWAN

Namanya juga remaja, Mah.

Zena masuk, rambut masih setengah basah.

ZENA

(senyum kecil) Pagi...

ZENA (V.O.)

Nama lengkapku Zena Azura...

Puspa langsung menyodorkan piring ke meja.

PUSPA

Cepat makan. Bisa telat nanti.

Zena duduk.

ZENA (V.O.)

Papah bilang... aku lahir untuk jadi cahaya.

Zena mengambil sendok.

HARTAWAN

Hari ini kelas pagi, kan? Papah antar.

ZENA

Iya, Pah.

Zena makan pelan. Tatapannya kosong sesaat.

Beat.

ZENA (V.O.)

Aku mencintai sastra.

Zena mengambil tasnya.

ZENA (V.O.)

Dan punya mimpi sederhana...

CUT TO:


17. EXT. JALAN YOGYAKARTA – PAGI

Mobil melaju di jalanan kota.

ZENA (V.O.)

...menaklukkan dunia lewat tulisan.

Zena menyandar di jendela, menikmati suasana pagi.

ZENA (V.O.)

Aku tidak pernah tahu... hidupku akan berubah setelah itu.

Zena memandang keluar jendela mobil.

Deretan orang berlalu.

Lampu merah.

Pedagang kaki lima.

Langit pagi Yogyakarta.

Semua tampak biasa.

Seolah tidak ada sesuatu pun yang akan mengubah hidupnya.

Beat.

HARTAWAN

Pulangnya dijemput?

ZENA

Nggak usah, Pah.

Hartawan mengangguk, meski masih terlihat khawatir.

CUT TO:


18. EXT. KAMPUS – PAGI

Suasana kampus ramai. Tiga sahabat Zena—MAYA, VINA, ANYA—melambaikan tangan heboh.

MAYA

Zena! Lama banget!

ZENA

Maaf, kesiangan.

Mereka tertawa.

ZENA (V.O.)

Di sinilah semuanya bermula.

CUT TO:


19. INT. KELAS – PAGI

Mahasiswa duduk rapi. Suasana berubah hening saat PAK RENDRA (50), dosen killer, masuk.

PAK RENDRA

Selamat pagi.

MAHASISWA

Pagi, Pak...

PAK RENDRA

Tugas kelompok. Satu minggu.

Keluhan kecil terdengar.

PAK RENDRA (CONT’D)

Tidak sulit... kalau kalian mau berpikir.

Zena dan teman-temannya saling pandang.

CUT TO:


20. INT. KANTIN KAMPUS – SIANG

Kantin ramai. Maya, Vina, dan Anya sibuk memilih makanan. Zena duduk, fokus pada ponselnya.

MAYA

Zen, pesan apa?

ZENA

Apa aja. Mie goreng, es teh.

Vina dan Anya langsung mengintip layar ponsel.

ZENA

Ih, jangan kepo!

VINA

Chat sama siapa? Bintang?

Zena mendengus.

ZENA

Yang sok ganteng itu? Enggak lah.

ANYA

Hati-hati loh... yang dibenci seringnya jadi cinta.

Zena tertawa kecil.

ZENA

Nggak ada ceritanya.

MAYA

Terus siapa?

Zena ragu sebentar.

ZENA

Dava.

Mereka langsung mendekat.

VINA

Teman online?

ANYA

Sejak kapan? Dari mana?

          MAYA

Kok nggak pernah cerita?

Zena mengangkat bahu.

          ZENA

Awalnya biasa. Lama-lama... nyambung aja.

Ketiganya saling pandang—lalu serempak:

MAYA / VINA / ANYA

Zena jatuh cinta online!

Zena langsung menepuk bahu Maya.

ZENA

Ssst! Jangan keras-keras!

Mereka tertawa.

Zena kembali melihat ponselnya.

Layar kosong.

Tidak ada notifikasi.

Beat.

ZENA (V.O.)

Sejak saat itu... aku mulai menunggu satu nama.

Beat.

ZENA (V.O.)

Dava.

CLOSE UP – WAJAH ZENA

Ada harap kecil di matanya.

CUT TO:


FLASH CUT – SOSOK PRIA (TIDAK JELAS WAJAHNYA)

Senyum samar.

CUT BACK:


21. INT. KANTIN – SIANG (LANJUT)

Zena masih menatap layar. Hening di tengah keramaian.


FADE OUT.


Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)