2. KECEWA

5  EXT. PINGGIRAN UTARA YOGYAKARTA, TERAS DEPAN – SORE        5

 

TERAS DEPAN TERASA LENGANG. Hanya terisi dua buah kursi kayu berwarna coklat dan beberapa pot yang ditanami monstera obliqua serta dan heuchera/coral bell, kaktus kecil-kecil, lili paris, serta begonia.

 

DARI DALAM RUMAH, Sandra terlihat berjalan keluar dan kemudian duduk di salah satu kursi kayu yang ada di teras. Bergabung dengan seorang wanita, ibu Sandra, di situ.

 

Sandra mengenakan kaos putih tanpa tulisan dan celana pendek setengah paha berwarna toska.

 

                    IBU SANDRA

            (setengah ragu bertanya)

         Teman-teman SMAmu tahu kalau sudah di Yogya?

 

                  SANDRA

          (membetulkan letak duduk)

         Sudah, Bu. Awalnya, Sandra menghubungi Yana. Bersapa kabar. Ga tahunya, langsung tersebar. Tahu sendiri, kan, media sosial sangat sakti.

  (kemudian)

Ehm, Ella sepertinya akan datang nanti malam. Sehabis Isya. Mau pamer pacar baru katanya.

 

INTERCUT SUARA PESAN MASUK

 

                    SANDRA

                (tersenyum,

 tertawa lirih)

Ha, ha, ha. Seru. Anton mau datang. Barusan berkabar.

 

         IBU SANDRA

    (wajah khawatir)

Anton? Pacar Ella kan? Lah, lah, …

 

         SANDRA

    (memotong cepat)

Dulu, Bu. Dulu pacar Ella. Sudah bubar.

 

         IBU SANDRA

Kalau Anton dan pacar baru Ella berantem?

 

                  SANDRA

                (menggoda)

         Pasti seru. Biar saja. Kalau perlu nanti Sandra siapkan ring MMA.

 

SUDUT TERAS

 

Seekor kucing berjalan pelan kemudian duduk di bawah kursi di antara dua kaki Sandra.

 

                    SANDRA

          (melirik ke arah kucing)

         Kamu mau jadi wasitnya kan pus?

 

Beat.

 

                    IBU SANDRA

         Gendeng, kowe.

 

                    SANDRA

         Tidak akan berantem, Bu. Anton dan pacar baru Ella temenan kok. Sudah saling kenal lama. Lagi pula mereka sudah sama-sama dewasa.

                (kemudian)

         Bapak belum kondur?

 

                    IBU SANDRA

         Sekarang mendekati Maghrib baru bisa sampai rumah. Lalu lintas di Yogya sudah berubah, San. Kata Bapak, sering macet. Seperti Jakarta.

 

                  SANDRA

         Masa Yogya macet, Bu?

 

                    IBU SANDRA

         Benar, San. Apalagi kalau hari libur, hari raya, dan tahun baru. Jangan tanya macetnya. Semua penduduk Indonesia mengalir ke Yogya.

    (kemudian)

Mending berdiam di rumah.

 

                    SANDRA

         Banyak berubah ternyata kota kita. Tetapi wajar juga sih. Kita-kita saja yang sering tidak siap dengan berbagai perubahan.

 

Sandra beranjak dari kursi setelah sedikit menggeser kucing di bawahnya. Membungkuk sebentar. Menggelitiki badan kucing, mengelus-elus kepala kucing itu, lalu melangkahkan kaki meninggalkannya.

 

 

6   EXT. PINTU PAGAR RUMAH, LANJUTAN                           6

 

DARI PINGGIR JALAN DI LUAR PAGAR, sebuah mobil terlihat berhenti dengan suara mesin yang masih berbunyi. Menunggu pintu pagar terbuka.

 

Sandra menggeser pagar rumah. Mendorong ke samping kiri.

Membuka lebar-lebar. Ia berdiri di ujung pagar yang baru saja dibukanya. Memperhatikan mobil itu masuk melintasi pintu pagar. Lalu menutupnya kembali.

 

Itu pekerjaan dan tugas Sandra sekembalinya dari Manchester. Membukakan pintu pagar setiap kali mobil bapaknya mau pergi atau ketika pulang.

 

Selesai menutup pintu pagar, Sandra menyambut bapaknya yang sudah keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu pagar. Diterimanya tas kerja dan kemudian dijinjingnya.

 

                    BAPAK SANDRA

         Tidak kemana-mana hari ini?

 

                  SANDRA

              (menggeleng sekali)

         Masih malas. Lagian, siapa yang membukakan pintu pagar buat Bapak kalau Sandra pergi?

 

                    BAPAK SANDRA

                 (tersenyum)

         Baguslah. Tetapi Bapak tak akan kuat menggaji tukang buka pintu lulusan Universitas  Manchester.

 

                 SANDRA

         Gratis, Pak. Cukup bilang “TERIMA KASIH SANDRA CANTIK”.

 

                    BAPAK SANDRA

         Oh. Terima kasih Sandra cantik

 

Beat.

 

                    SANDRA

         Nah. Jangan lupakan itu.

                (kemudian)

         Besok Sandra mau ke mall. Beli alat make up.

 

                  BAPAK SANDRA

         Terus?

 

                  SANDRA

         Dana keistimewaan anak cantik diturunkan dong. Jangan lupa.

 

                    BAPAK SANDRA

         Nah kan. Tidak jadi gratis. Jatuhnya lebih mahal.

 

 

7  EXT. BAGIAN BELAKANG RUMAH, TERAS – MALAM                  7

 

Sandra duduk bercanda dengan teman-temannya yang datang. Di depan mereka, di atas meja kayu putih berkaca, dua piring berisi kacang dan pisang rebus terhidang. Juga empat gelas cangkir berwarna coklat muda berisi teh manis.

 

Sandra mengenakan kemeja berwarna coklat muda dengan banyak kantong. Celana corduroy tiga perempat berwarna coklat tua membungkus kakinya yang jenjang. Rambutnya digulung ke atas dan dijepit sekenanya.

 

Ella duduk lengket di samping Wahyu, laki-laki yang sekarang menjadi pacarnya. Kaos hitam bergambar kerangka ikan hiu berwarna hijau serta celana jeans putih menyertai penampilannya.

 

Wahyu bertubuh agak gemuk dan berdandan sederhana. Berkebalikan dengan Ella, Wahyu mengenakan kaos putih dan celana hitam.

 

                    ELLA

              (menatap manja)

         Mau dikupasin pisang, sayang?

 

                    WAHYU

         Boleh.

 

Beat.

 

                    ELLA

         Lapan enam. Tapi joget-joget dan garuk-garuk dulu.

 

Sandra tertawa tertahan. Ia tak kuat membayangkan jika tubuh gemuk Wahyu harus menirukan seekor monyet yang menari dan menggaruk-garukkan tangannya.

 

                  ELLA

         Ga sayang. Bercanda. Nih.

 

Ella mengambil satu pisang rebus, mengupas kulitnya, dan kemudian menyerahkannya pada Wahyu. Ia sendiri mengambil empat kacang rebus.

 

                    SANDRA

         Tetap kamu tuh, El. Ga berubah. Tapi aku suka. Kamu lucu. Selalu membuat perutku kaku.

 

                    ELLA

         Bakat turunan, San. Ngerti sendiri kan kakek buyutkuku pelawak kawakan.

 (kemudian)

Ga sempat masuk tivi. Keburu mati.

 (kemudian)

Kakekku, pemain ketoprak. Bagian lawak, yang kalahan. Dandan dua jam, tampil dua menit. Jatahnya emang segitu.

 

Sandra, Wahyu, dan Anton tertawa bersama. Ella selalu begitu. Kata-katanya lepas dan selalu lucu.

 

                    ANTON

         Bapakmu, El?

 

                    ELLA

           (menudingkan telunjuk,

          menggoyangnya perlahan)

         Jangan sebut nama calon mertua gagalmu dengan tidak hormat, Ton.

                (kemudian)

         Jelek-jelek begitu, dia bapakku. Tetapi, emang jelek sih. Ngakunya stand-up comedian.

 

                    SANDRA

         Padahal?

 

                  ELLA

Pensiun dini. Dilemparin orang sekampung. Gara-gara ngelawak di acara pelayatan.

 

Ella ikut tertawa saat mengatakan itu. Tubuhnya bergayut kembali ke badan tambun Wahyu. Matanya berkedip-kedip.

 

Sandra menarik tubuh Ella menjauh dari badan Wahyu.

 

                    SANDRA

         Jangan show of force, El. Kamu boleh mesra dengan Wahyu. Tetapi jangan di depan Anton. Jaga perasaan sedikitlah.

 

                    ANTON

            (menyahut cepat)

         Ga ngaruh di aku, San. Sudah pernah. Ha ha ha.

 

Beat.

                    ELLA

         Yakin?

         

                  ANTON

         Yakinlah. Paling juga kayak gitu.

 

                    ELLA

         (melipat bibirnya ke dalam,

     pura-pura berkata tertahan mengancam)

         Awas ya.

 (kemudian)

Paling nanti malam kamu mimpiin aku lagi.

 

                    SANDRA

         Stop. Aku tidak perduli urusanmu dengan Anton, El. Tetapi jangan gelayutan ekstrim gitu ke Wahyu. Rumahku bukan tempat mesum.

 

Ella langsung ngakak. Diikuti gelak tawa Wahyu dan Anton.

 

                    ELLA

    (tangannya menggamit tangan Wahyu)

         Pergi yook, sayang. Kita salah tempat. Cari hotel yang murah juga boleh.

 

Sandra menepuk punggung Ella dengan keras. Suara tawanya tetap terdengar. Apa pun kata-katanya selalu dapat dibalas Ella dengan kelucuan.

 

 

8  EXT. KANTOR EXPORT-IMPORT, HALAMAN PARKIR – PAGI            8

 

DARI JALAN RAYA, sebuah mobil berbelok ke gerbang perkantoran, kemudian mengarah dan berhenti di halaman parkir.

 

Terasa sepi. Tak banyak kendaraan yang terparkir di situ. Hanya ada satu sedan berwarna hitam, dua buah motor, dan satu mobil box pengangkut berwarna putih.

 

Di dalam mobil yang berhenti, Sandra terlihat membereskan tas jinjing setelah membenahi dandanan wajah dan rambutnya. Matanya melihat ke arloji di tangannya.

 

FOCUS ON jarum jam. Sembilan lebih tujuh menit.

 

Seorang security mendatangi mobil Sandra. Membantu membukakan pintu dan menunggu di sampingnya.

 

                  SECURITY

              (sedikit terkejut)

         Eh, Mbak Sandra.

 

                    SANDRA

         Iya Pak. Selamat pagi. Apa kabar?

 

                    SECURITY

         Alhamdulillah. Sehat.

                 (kemudian)

         Maaf. Tidak tahu kalau teman non Yana. Sudah lama tidak bertemu. Saya juga sudah lupa dengan mobil Mbak Sandra.

 

                  SANDRA

              (tersenyum lepas)

         Iya, Pak. Tidak apa-apa. Empat tahunan kita tidak bertemu.

                (kemudian)

         Bapaknya Yana ada?

 

                    SECURITY

           (sedikit merasa aneh)

         Ada, Mbak. Di ruangnya. Tidak ada tamu. Ah, …, sekarang memang jarang ada tamu yang datang.

 

Sandra menutup pintu mobil. Kemudian berjalan ke arah pintu masuk kantor.

 

Security mengikuti langkah kaki kepergian Sandra.

            

 

9   INT. KANTOR EXPORT IMPORT, RUANG DIREKTUR – PAGI           9

 

Cahaya masuk melalui jendela kaca di samping meja direktur. Menyinari permukaan meja kayu besar dengan tatakan kaca hitam. Di atas meja, setumpuk dokumen tertutup berada di pojok depan. Satu dokumen terbuka berada di tengah dihiasi satu sign pen di atasnya.

 

Sejumlah buku tebal tertata rapi di rak buku dinding di belakang meja dan kursi direktur.

 

DARI SALAH SATU SUDUT MEJA, direktur perusahaan berjalan mengarah ke kursinya sambil menyilakan Sandra untuk duduk. Wajahnya datar dan sukar ditebak. Tetapi ia masih berusaha bersikap ramah.

 

                    BAPAK YANA

         Duduklah. Kita perlu berbincang dulu. By the way, selamat datang kembali ke Yogya. Tentu Bapak senang melihatmu datang.

                  (kemudian)

         Yana cerita, dirimu sudah lulus. Selamat ya.

 

                    SANDRA

         Terima kasih, Pak. Ehm, …,

 

 

                    BAPAK YANA

             (memotong lambat)

         Tidak usah kamu katakan. Bapak sudah tahu. Yana cerita kalau dirimu ingin bekerja di sini. Begitu kan?

 

                    SANDRA

         Memang, Pak.

 

BAPAK YANA

           (menghela nafas dalam,

          menghembuskannya perlahan)

         Ya, San. Semalam Bapak dan Yana sudah mendiskusikannya.

 

                    SANDRA

               (sedikit lega,

              menanti penuh harap)

         Oh.

 

Beat.

 

                    BAPAK YANA

         Dulu memang Bapak sampaikan itu ke Yana. Bapak juga yang berharap kamu bisa bekerja di sini sepulangmu dari kuliah di Manchester. Dan itu dikatakan Yana kepadamu kan?

               (terdiam sejenak,

                 kemudian)

         Tetapi maaf, San. Kondisi perusahaan sekarang sedang tak bagus. Mendekati ambruk. Covid.

                 (kemudian)

         Bapak tak enak kepadamu. Tidak enak juga kepada Bapakmu. Yana pun merasa tak enak kepadamu.

 

Sandra menundukkan kepalanya. Ia tahu kalimat-kalimat lain yang akan meluncur keluar. Ia dapat membayangkan. Covid yang semakin merajalela. Keputusan pemerintah yang membatasi pergerakan rakyat yang didengarnya dari stasiun televisi. Runtuhnya sejumlah perusahaan dan bisnis mereka. Pengurangan karyawan.

 

Sandra menatap Bapak Yana. Mengembangkan senyum. Berusaha mengerti keadaan.

 

Diskusi dengan Bapak dan ibunya di meja makan tadi malam kembali terngiang.

 

                    BAPAK

         Boleh kamu coba. Tetapi Bapak tidak yakin. Semua bisnis sedang tiarap.

 

                    IBU

         Ehm, …, ada baiknya kamu ke sana, menurut Ibu. Siapa tahu kan?

               (kemudian)

         Yana bagaimana?

 

                    SANDRA

         Belum berkabar lagi sih. Tetapi dulu Yana cerita kalau Sandra ditawari pekerjaan di perusahaan Bapaknya kalau sudah lulus.

 

Sandra tahu. Yana pasti tak akan menceritakan kondisi perusahaan bapaknya. Bukan karena tidak mau jujur tentang kondisi yang sebenarnya. Lebih karena sungkan untuk mengatakan pada dirinya.

 

Meskipun, semuanya memang serba tidak terduga. Sama tidak terduganya kesempatan di depan mata yang mendadak hilang.

 

Melemparkan Sandra untuk kembali berada di rumah.

 

 

                                             QUICK CUTS:

 

SANDRA MEMBUKA ALMARI OBAT DI RUMAH. BERBAGAI BOTOL OBAT DAN BEBERAPA STRIPS OBAT TERLIHAT….

 

DERETAN NAMA PARACETAMOL TERLIHAT PALING ATAS. BIOGESIC… PANADOL… SANMOL….

 

DIAMBIL SATU STRIP SANMOL. DISOBEK PADA SATU BUNGKUS SANMOL. DIJEPIT DI ANTARA TELUNJUK DAN IBU JARI.

 

MELIHAT KE BAWAH DAN TERSENYUM GETIR. RAGU ANTARA MEMINUMNYA ATAU TIDAK.

 

MENGHELA NAFAS DAN MENGGEMBUNGKAN PIPI. MENUTUP MATA DENGAN TELAPAK TANGAN KIRI.

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar