Amelia is Dead
2. Chapter tanpa judul #2

INT – Malam hari, ruang tamu rumah Pak Hari

Suasana sekitar rumah sudah sepi, hanya beberapa warga yang membantu beres-beres. Rudi dan Jeremy duduk lantai ruang tamu rumah Amel yang sederhana, menonton TV sambil menunggu Darrel yang membantu Pak Hari membagikan sisa makanan ke perwakilan masjid setempat di depan rumah, Rudi dan Jeremy bersandar di sofa warna cokelat yang terlihat lapuk dan lawas serta kulitnya mengelupas. Jeremy mengelus Poki. Rumah Amel yang kecil tampak luas karena meja ruang tamu ditaruh pinggir untuk memberikan ruang untuk lantai digelar tikar.

Darrel kemudian masuk rumah sementara Pak Hari ke dalam. Darrel ikut duduk di lantai ruang tamu bersama teman-temannya, kedua sikunya ditaruh di sofa.

Jeremy: So, Papanya Amel sekarang sendirian?

Tak ada yang menjawab, ketiganya seolah tak mau mengucapkan kenyataan yang pahit.

Rudi: How you holding up?

Darrel: (tertawa kecil) For the 100th time, im okay.

    Rudi: Kalo tiba-tiba lo ngga kuat, bilang aja, biar kita cariin lo tempat buat lo nangis.

    Darrel: Haha, apaan.

    Jeremy: Tante Cynthia sama Eyang udah sampe rumah?

Darrel: Masih di jalan bentar lagi nyampe kata Mama. Thanks loh Jer, udah ngirimin supir lo buat jemput lagi, padahal supir gue juga lagi ga ada kerjaan.

Jeremy: Udahlah, biar lo juga ga ribet ngurusin ini itu sambil mikir Mama lo.

Suara TV menghiasi keheningan. Terdengar suara narasi dari pembawa berita.

Pembawa berita: Kematian mendadak aktris pendatang baru Amelia Citra masih mengejutkan publik. Amelia ditemukan meninggal dunia ketika syuting film terbarunya pada hari ini. Penyebab meninggalnya Amelia belum diketahui. Pihak keluarga Amelia melarang media memasuki kediaman serta prosesi pemakaman. Bahkan, media sudah dicegat oleh warga setempat dalam jarak sekitar 10 meter dari rumah almarhumah.

Rudi: Lo bayar preman setempat berapa, nyampe mereka ga punya footage sama sekali?

Darrel: Kecil doang padahal.

Pembawa berita: Namun kami berhasil mewawancarai seorang tetangga setempat dan juga pak RT.

Tampak seorang warga diwawancarai di TV. Tertera nama ‘Susilo, tetangga almarhum Amelia’.

Susilo: Saya nggak tau meninggalnye kenape. Bapaknya belom cerita sama saye padahal saye deket tuh sama Bapaknye.

Pembawa acara: Sosok Amelia sendiri seperti apa ya?

Susilo: Wah, bukan suuzon sih, itu anak emang sering pulang malem, katanya sih kerja. Kadang dianter sama pacarnya, anak orang kaya, saya lupa namanya…

Kepala Darrel, Jeremy, dan Rudi semakin maju ke layar.

Susilo (cont.): Orang-orang sini pada ngomongin, kok bisa si Amel yang katakanlah cantik sih, tapi biasa aja kalo dibandingin cewe-cewe Jakarta, bisa dapetin cowoknya yang ganteng putih kaya begitu. Mohon maaf nih, apalagi dia dari luar kaya urakan gitu, rambut dicat warna warni, baju aneh-aneh. Orang sini pada kasihan sama Bapaknya, pada nasihatin, ati-ati bagitu. Tapi Bapaknya malah seneng kayaknya sama pacarnya Amel.

Rudi dan Jeremy menengok pelan ke arah Darrel yang masih memandang layar televisi.

Pembawa acara: Apakah ada indikasi kalau sosok pacarnya ini terlibat?

Rudi: What? Ahahahhahahaha.

Jeremy: Bro, dia pasti sebel aja sama lo soalnya elo tadi ga bayar dia sekalian.

Darrel: Ssst!

Susilo: Saya sih gamau suuzon, cuma dulu emang Bapaknya sering dinasehatin, ati-ati takutnya itu orang kaya mau apa-apa sama si Amel yang masih kecil.

Footage berganti menjadi sosok Pak RT yang diwawancara.

Pembawa acara: Gimana tanggapan anda sebagai Pak RT melihat ada warganya, wanita lagi, sering pulang malam?

Pak RT: Setau saya Amelia sibuk syuting gitu, kadang sampai malam, dia mah orangnya baik saya tau dari dia kecil, terus pacarnya juga saya kenal, orangnya juga baik dan sopan.

Berita ditutup dan diganti dengan pembawa acara di studio.

Rudi: Hah? Pemberitaan lo yang bagus cuma segitu doang?

Jeremy: Padahal tadi gue liat loh Pak RT diwawancarainya lumayan lama.

Rudi: Belum tau aja Jer, elu siapa, coba mereka tau, ga berani nih media kaya gini.

Jeremy: Gue ga ikut-ikut (Jeremy menaikkan tangannya)

Tiba-tiba ada orang datang rumah. Membawa koper. Erwin (26), Chinese Indonesia, memakai jaket dan jeans. Darrel, Jeremy, dan Rudi memandang Erwin. Erwin tersenyum ke arah mereka.

Rudi: Finally, Erwin!

Jeremy: (mematikan TV dengan remote di tangannya) komplit! Komplit!

Darrel lebih dulu berdiri dan menghampiri Erwin.

Erwin melihat Darrel tak berkata apa-apa. Dirinya menaikkan bahu sambil geleng-geleng dan tersenyum kecil. Darrel pun memeluknya. Setelah memeluk Darrel, Erwin gentian memeluk dua sahabatnya yang lain.

Pak Hari ke ruang tamu setelah mendengar ramai-ramai. Dirinya ikut tersenyum melihat Erwin.

Pak Hari: Erwin! Astaga sudah berapa lama ndak ketemu, lebih sering sama tiga orang ini. Mari duduk! Mau minum apa?

Erwin: Waduh, gausah Pak, udah malam juga, Bapak pasti sudah capek.

Pak Hari: Ndak papa, Erwin sudah jauh-jauh datang kesini dari Amerika masak saya nggak kasih minum.

Darrel: Saya aja Pak yang bikinin. Lo mau apa? Teh anget mau? (Darrel bersiap berjalan ke dapur).

Erwin: Boleh.

Pak Hari akan menghentikan langkah Darrel, tapi Darrel bersikukuh ke dapur.

Darrel: Gapapa Pak, toh cuma bikin teh aja.

Pak Hari: Makasih ya, Nak (Darrel berjalan ke dapur). Daritadi (Darrel) yang paling capek padahal.

Jeremy: Biarin aja Pak, kalau perlu ..

Pak Hari: Ayo duduk dulu Erwin, wah sudah lebih dari setahun ya nggak ketemu.

Jeremy: Pak, ini tikernya kita gulung ya, biar bisa duduk duduk enak di sofa sambil ngobrol.

Pak Hari: Iya iya, makasih ya saya ngerepotin terus.

Rudi: Gapapa Pak, kaya sama siapa aja.

Jeremy Rudi dan Erwin menggulung tikar di ruang tamu. Darrel datang membawa teh manis. Pembicaraan mereka semakin samar seiring kamera menjauh dan menyoroti rumah tamu tersebut dari atas. Dari kejauhan, kebersamaan mereka terlihat hangat meski dalam suasana berduka.

 

INT – Malam hari di rumah Darrel

Darrel dan ketiga temannya masuk ke kamar Darrel yang besar. Mereka menaruh tas dan koper di dalam lemari. Mereka yang kelelahan langsung mencari posisi tidur dan terlelap. Erwin dan Jeremy tertidur di kasur Darrel yang besar dalam berbagai posisi. Rudi tidur di bawah dengan kasur lipat empuk.

Darrel daritadi tak bisa tidur. Badannya tampak bergerak-gerak tak nyaman. Jam menunjukkan pukul 00.11 hingga berubah ke 02.07. Akhirnya Darrel berdiri dan berjalan ke meja. Dirinya mengeluarkan dupa dari laci dan menyalakannya di tempat dupa diatas meja.

Erwin: (masih dengan mata berat) Apaan itu?

Darrel: (menoleh) Dupa aromatherapy. Dari Eyang katanya kalo gabisa tidur nyalain ini aja.

Erwin: You can’t sleep? Wanna talk?

Darrel tersenyum. Sementara itu Jeremy mengorok keras dan membuat Rudi mengigau.

Rudi: Ampun bang!

Darrel dan Erwin kaget. Erwin kemudian bangun dan berdiri mengajak Darrel keluar kamar.

Erwin: Let’s go out!

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar