Selepas Senja
14. Rasa, cinta, dan bahagia

Scene 76 perjalanan lima tahun berpacaran

Prolog

semenjak saat itu, mereka berpacaran, mereka melakukan segala sesuatunya berdua, menikmati waktu dibandung dengan pergi ke gunung, mall, nonton, cafe, nonton konser bersama, merayakan ulang tahun dan tahun baru bersama keluarganya.

2015

Scene 77 tahun ke lima

Prolog

Dan selama lima tahun, selepas senja hengkara melamar she disebuah rooftop untuk menikah, disaksikan juga dengan beberapa teman dekat mereka.

Hengkara: she, will you marry me?

She: (menangis bahagia) yes, i will, i do.

Karena aku bukan lagi terpesona, tapi aku benar-benar jatuh hati dengan kamu, yang sebelumnya tidak pernah aku lihat, aku suka kamu bukan dari pandangan pertama, tapi dari hati yang bisa merasakan ketulusan cinta seseorang dan yang paling penting, cinta tulus itu berada di tempat yang tepat. Kamu, adalah orang yang baik, sabar, dan penyayang. Karena ternyata, tentang cinta yang tulus saja tidak cukup, juga tentang paras saja tidak cukup. Cinta yang tulus, juga harus ada di tempat yang seharusnya, dan kamu juga mengerti cara memperlakukan wanita untuk merasa nyaman dan aman di dekat kamu.

Prolog

Terima kasih Dyanno, karena dengan kegagalan rasa dengan kamu, sudah mengajarkan aku banyak hal.

Akhirnya aku bisa happy ending, sesuai dengan keinginanku, asal aku tepat untuk memilih dan memutuskan.

Hengkara: thank you she. I love you (Sambil memeluk dan mengecup kening she)

She: i love you too, he.

Scene 78 satu bulan kemudian di gedung pernikahan mereka menikah.

Prolog

Ada apa dengan selepas senja? Selepas senja aku bertemu dengan Dya, selepas senja aku menyelesaikan rasa yang berjalan ditempat dengannya.

Selepas senja aku bertemu dengan Hengkara, dan selepas senja aku menjawab mau dan siap menjadi masa depannya.

Ini adalah jawaban dari setiap pertanyaan. Lalu dalam setiap langkah, jauh, lebih jauh, jauh lagi melihat dunia, melihat kehidupan, aku menemukan sendiri apa yang harus menjadi jawaban. Ketika kita dianugerahkan rasa dan cinta, dan tumbuh alami pada setiap insan manusia. Mereka, rasa dan cinta, adalah bagian dari salah satu cara untuk menjadi bahagia. Dan untuk menjadi bahagia, itu tergantung bagaimana cara kita untuk melihat rasa dan cinta di dunia, di bumi ini.

Bahagia adalah suatu kesukaan jiwa, raga, dan batin, yang akan kita rasakan, dan kita dapatkan, jika kita melihat dunia, bumi ini secara luas. Dengan bagaimana saja caranya kita untuk bisa bahagia, bisa dengan membahagiakan diri sendiri, membahagiakan orang lain, ataupun keduanya. Menjadi bahagia adalah pilihan, tergantung cara kita memilih, hendak dengan cara yang mudah atau sulit. Yang pasti, kita tidak akan bisa bahagia, jika kita tidak memiliki rasa dan cinta yang tulus dan ikhlas di tempat yang seharusnya. Selama rasa dan cinta yang tulus dan ikhlas itu selalu dipelihara pada tempatnya, maka disitu ada bahagia terhadap apapun, dan dia yang membuat bahagia tidak akan pergi. Namun untuk mengejar rasa, cinta, dan bahagia, dibutuhkan langkah yang tepat dan berani. Rasa dan cinta yang tulus dan ikhlas, tidak selalu mulus jalannya. Manusia serta isi yang diciptakanNya itu sempurna. Tapi dalam berkehidupan di dunia, di bumi, perjalanan kehidupan manusia pasti tidak sempurna. Pasti ada liku, ada gelombang, ada badai, ada juga jalan yang lurus. Jadi wajar, jika di tengah perjalanan, kita terkadang merasa lelah, haus, dan sakit. Namun kembali kepada rasa dan cinta, jika terus dijalani dengan tulus, ikhlas, dan tepat, pasti kita akan menemukan bahagianya. Bahagia tidak identik dengan kemampuan kita untuk mencapai sesuatu, tetapi kemampuan kita untuk bisa berhasil menyikapi sesuatu. Sekalipun yang kita dapatkan kegagalan, karena setiap kegagalan pasti punya alasannya. Bisa karena kita belum siap, bisa karena dari gagal membuat kita sadar dan belajar, tidak setiap benturan bisa kita terjang. Siapapun kita, darimana pun kita berasal, itu tidak membedakan untuk menjadi bahagia. Rasa, cinta, dan bahagia harus saling seiring sejalan dengan ketulusan, keikhlasan, dan ketepatan. Untuk menerima segala kekurangan dan kelebihannya, menerima segala kegagalan dan keberhasilannya. Itu yang membuat kita menjadi bahagia dalam setiap menjalani kehidupan satu kali yang tidak akan terulang. Dari cerita dan kisah ini kita bisa memetik pelajaran, kita bisa mengenal banyak orang, berapa pun, tidak ada yang salah dengan mengenal banyak orang, asal kita jangan sampai salah mengambil sikap, salah melangkah, yang dapat menyakiti diri sendiri dan orang lain, sehingga kita sulit untuk menjadi bahagia dan tidak bisa membahagiakan orang lain.

TAMAT

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar