Balada Si Roy
2. Balada Si Roy Part 2
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

BABAK IV


 Cinta Tidak Harus Memiliki

 

"Melepaskan seseorang yang kita cintai bukan berarti berhenti mencintainya.

Kadang... itu justru cara paling tulus untuk tetap mencintainya."

- Catatan Roy #4 -



 (Roy dan Cristy masih duduk berdampingan di bangku kayu tua. Tak ada lagi candaan.

Tak ada lagi senyum jahil Roy. Yang terdengar hanya desir angin dan

suara anak-anak yang bermain di kejauhan. Dunia seolah tetap berjalan seperti biasa, sementara dunia mereka berdua sedang berhenti berputar.)



 ADEGAN 1


 Senja yang Datang Terlalu Cepat

 

(Roy masih menggenggam tangan Cristy. Jemari mereka saling mengunci, seolah takut jika dilepas, waktu akan benar-benar memisahkan mereka.)


 CRISTY: Roy...Say something... Please...


(Roy menatap lurus ke depan. Tatapannya kosong. Bukan karena tidak punya jawaban.

Tetapi karena terlalu banyak jawaban yang ingin ia sembunyikan)


 ROY: Aku lagi mikir...

 

(Cristy mengusap air matanya)


 CRISTY: Mikir apa?

 ROY: Mikir,kenapa Tuhan lucu banget.

 

(Cristy mengernyit)


 ROY: Kenapa Dia mempertemukan dua orang yang saling mencintai,

kalau akhirnya harus dipisahkan?

Apa ini cara-Nya mengajari manusia menjadi dewasa?

Atau... cuma cara-Nya membuktikan bahwa hati manusia

memang diciptakan untuk belajar kehilangan?


(Cristy kembali menangis. Roy mengusap pipinya dengan ibu jari)


 ROY: Hey...No more tears.

 You're prettier when you smile.

 

(Cristy mencoba tersenyum, tapi bibirnya terus bergetar)



 ADEGAN 2


 Luka yang Tidak Terlihat

 

(Roy menarik napas panjang...sesak dan berat rasanya...

Pandangannya jatuh pada gelang kulit hitam yang melingkar di tangan Cristy)


 ROY: Masih kamu pakai...


(Cristy mengangguk)


CRISTY: Aku nggak pernah lepas.

Katamu...

Kalau gelang ini putus... Berarti kamu lagi kangen.


(Roy tertawa kecil)


ROY: Aku juga pernah ngomong gitu ya?

CRISTY: Kamu banyak ngomong aneh. Makanya aku betah.


(Mereka tertawa bersama)

 

Tawa yang hanya bertahan beberapa detik.

Sesudah itu...

Sunyi kembali mengambil alih.



 

ADEGAN 3


Pertanyaan yang Sulit Dijawab


CRISTY: Roy...Kalau nanti...

 Aku benar-benar menikah...

 Apa kamu bakal benci sama aku?


(Roy langsung menoleh, matanya membesar)


Seolah pertanyaan itu adalah hal paling bodoh yang pernah ia dengar.


ROY: Benci? (Roy menggeleng pelan)

 Aku bahkan nggak pernah bisa marah sama kamu. Gimana mungkin aku benci?


(Roy tersenyum tipis.)

 

Roy: Crist...Cinta itu bukan penjara.

 Kalau orang yang kita cintai bahagia... Masa kita malah marah?

Itu namanya egois. Bukan cinta.

 

(Cristy menggigit bibirnya kuat-kuat agar tangisnya tidak pecah lagi.)



 

  ADEGAN 4


 Lelaki yang Memilih Mengalah

 

(Roy berdiri perlahan. Ia berjalan beberapa langkah menjauh.

Menatap langit yang mulai berubah oranye. Lalu ia berbicara tanpa menoleh)


 ROY: Dulu aku selalu marah...

Marah sama bokap.

Marah sama nyokap.

 Marah sama tetangga.

 Marah sama dunia.

 Aku pikir...

Kalau aku marah terus...

Hidup bakal berubah. (Roy tertawa lirih.)

Nyatanya...

Dunia tetap muter. Dan aku tetap Roy. Anak berttato.

Anak yang katanya salah jalan.

 Anak yang katanya nggak punya masa depan.

 

(Ia menarik napas panjang.)

 

Sekarang aku ngerti.Yang bikin capek itu bukan hidup.

Tapi...

Melawan kenyataan.

 

(Roy menoleh ke arah Cristy)

 

Dan hari ini... Aku capek.

Aku nggak mau lagi melawan sesuatu yang memang bukan buatku.


 

  ADEGAN 5


 Pelukan Terakhir

 

(Cristy berdiri.

Perlahan menghampiri Roy. Tanpa berkata apa pun.

Ia memeluk Roy sekuat yang ia bisa)


Pelukan itu begitu lama...

 

Seolah mereka sedang berusaha menghentikan waktu. Roy memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya...

 

Air mata jatuh dari sudut matanya. Bukan deras.

Hanya satu tetes.

 

(Namun terasa lebih berat daripada ribuan kata)


 CRISTY: I'm sorry...I'm so sorry...

 

(Roy menggeleng pelan)


 ROY: No...Don't apologize.

 You didn't break my heart. Life did!


(Cristy semakin erat memeluknya)


 CRISTY: I don't want to lose you.


(Roy tersenyum kecil)


ROY: You won't.

Not really. As long as you remember me...

A part of me will always be with you.

 

(Cristy memandang wajah Roy. Lama.…Sangat lama….

Seolah ingin menghafal setiap garis di wajah lelaki itu

sebelum semuanya berubah menjadi kenangan.)


 

  ADEGAN 6


 Ciuman Senja

 

(Angin sore bertiup pelan)

 

Beberapa helai rambut Cristy menutupi wajahnya.

Roy merapikannya perlahan (Tangannya bergetar...)

 

Entah karena takut...

 

Entah karena sadar...

 

Ini mungkin terakhir kalinya ia bisa menyentuh perempuan yang paling ia cintai.

Roy mengusap pelan pipi Cristy.

Lalu menatap kedua matanya yang mulai memerah karena terlalu banyak menangis.


 ROY: You know...

 There are millions of people in this world... But somehow...

My heart chose you.

 And if I had to live my life all over again... I'd still choose you.

Every single time.

 

(Cristy menutup matanya perlahan. Roy mendekat...

 Sangat pelan.Seolah takut merusak momen yang tak akan pernah terulang.

Kening mereka bersentuhan)


Hening...

 

Tak ada suara selain napas mereka. Lalu...

Roy mengecup lembut bibir Cristy. Bukan ciuman penuh gairah.

Melainkan ciuman yang dipenuhi rasa syukur, kehilangan, dan perpisahan.

Ketika bibir mereka berpisah, tak ada kata-kata.

Mereka hanya saling menatap. Karena terkadang...

Tatapan mampu mengatakan jauh lebih banyak daripada ribuan kalimat.

 

(Senja mulai tenggelam. Cahaya jingga yang tadi hangat kini perlahan berubah menjadi semburat merah tua. Daun-daun berguguran tertiup angin sore.

Roy dan Cristy masih berdiri berhadapan...

Tak ada lagi air mata yang deras...

Yang tersisa hanyalah dua hati yang sama-sama sedang belajar

menerima sesuatu yang sebenarnya tak pernah mereka inginkan)



 

  ADEGAN 7


 Kalimat yang Tidak Pernah Ingin Diucapkan

 

(Roy mengusap pelan pipi Cristy. Bekas air mata masih terlihat jelas)


 ROY: Crist...Lihat aku.

 

(Cristy mengangkat wajahnya perlahan)


 ROY: Aku mau kamu ingat satu hal.

 Apa pun yang terjadi setelah hari ini...

Jangan pernah salahkan dirimu.


(Cristy menggeleng cepat)


 CRISTY: But I do...I failed us...

 I couldn't fight for us...

 

(Roy tersenyum kecil. Senyum yang terasa lebih menyakitkan daripada tangisan)


ROY: No...You didn't fail.

Sometimes...

Love loses to life.

And that's nobody's fault.

 

(Cristy menggenggam tangan Roy lebih erat)


 CRISTY: Aku takut...Suatu hari nanti...

 Kamu bakal lupa sama aku.

 

(Roy tertawa lirih)


 ROY: Lupa?

Crist...

Aku bahkan masih ingat pertama kali kita ketemu. Warung tenda itu.

Aku lagi ngamen.

Kamu malah sibuk ngelihatin aku, suaraku merdu kan?


(Cristy tertawa di sela tangisnya)


 CRISTY: Bohong...

 Suaramu memang jelek. Tapi...

Aku suka cara kamu senyum.


(Roy mengangguk pelan)


ROY: Nah...

 Akhirnya jujur juga.

 Kupikir selama lima tahun kamu pacaran sama aku,

karena aku ganteng.

 

(Cristy memukul pelan lengan Roy)


 CRISTY: Narsis

 

(Mereka tertawa bersama)

 

Tawa yang sebentar…..

 

Lalu kembali tenggelam dalam sunyi.



 

  ADEGAN 8


 Lelaki Itu Memilih Mengalah

 

(Roy menatap langit. Matahari hampir hilang di balik gedung-gedung kota)


 ROY: Crist...

 Aku pernah benci sama hidup.

Benci sama keluargaku.

Benci sama semua orang yang cuma bisa nilai aku dari tato.

Aku pikir...

Kalau suatu hari nanti aku punya seseorang yang benar-benar sayang sama aku...

Hidupku bakal selesai baik-baik saja.


(Roy tersenyum pahit.)

 

Ternyata...

 

Tuhan punya naskah lain.

 

(Ia menghela napas panjang.)

 

Mungkin...

 

Aku memang cuma ditakdirkan menjadi laki-laki pertama yang mengajarimu apa itu cinta.

 

Bukan laki-laki yang menemanimu sampai tua.

 

(Cristy langsung memeluk Roy lagi. Kali ini lebih erat.)



 

  ADEGAN 9


 Cinta yang Berani Melepaskan


CRISTY: Don't say that...

 Please...

 Please don't let me go...

 

(Roy memejamkan mata. Dadanya sesak. Tetapi suaranya tetap tenang)\


 ROY: Listen to me... Carefully.


(Cristy mengangguk sambil menangis)


 ROY: Kamu adalah cinta pertama yang pernah mengajarkanku arti dicintai.

Sebelum mengenalmu, aku selalu merasa tidak cukup baik untuk siapa pun.

Lalu kamu datang...

dan untuk sesaat, aku percaya bahwa aku juga pantas diperjuangkan.

Jika suatu hari nanti hidup membawa kita ke jalan yang berbeda...

pergilah tanpa perlu merasa bersalah.

Aku akan baik-baik saja.

Hanya saja...

akan selalu ada bagian kecil dari hatiku yang memilih tinggal bersamamu.

Bukan karena aku belum selesai mencintaimu.

Melainkan karena ada orang yang tidak pernah benar-benar hilang,

meski tak lagi ada di samping kita.

Dan bagiku...

orang itu adalah kamu.



(Cristy menangis tanpa suara)



 

  ADEGAN 10


 Pengorbanan

 

(Roy menggenggam kedua tangan Cristy. Lalu perlahan berlutut di hadapannya.

Bukan untuk melamar.Bukan pula untuk memohon agar ia tetap tinggal.

Tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan yang

telah mengubah cara pandangnya tentang cinta)


 ROY: Crist...

 Kalau suatu hari nanti... Suamimu bertanya...

Apakah kamu pernah jatuh cinta sebelumnya... Jangan bohong.

Bilang saja...


"Pernah."

 

Karena aku nggak mau kisah kita hilang seolah nggak pernah ada.


 

(Cristy menutup mulutnya. Tangisnya pecah)



 ROY: Dan kalau nanti...

 Kamu punya anak perempuan... Ajari dia...

Kalau cinta bukan tentang memiliki orang yang kita mau. Cinta...

Adalah keberanian mendoakan orang yang kita cintai...

meskipun doa itu membawanya pergi dari kita.



  ADEGAN 11


Perpisahan

 

(Roy berdiri…..)

 

Perlahan ia melepaskan genggaman tangan Cristy. Pelan sekali.

Seolah setiap jari yang terlepas membawa pergi sebagian hidupnya. Cristy mencoba menggenggam kembali.

Namun Roy hanya menggeleng sambil tersenyum)


 ROY: No...

 If we keep holding on...

 Neither of us will ever be able to walk.

 

(Cristy mengangguk lemah)


CRISTY: Will I ever see you again?


(Roy terdiam cukup lama)


Lalu ia menjawab...

Dengan suara yang hampir tak terdengar.


 ROY: Maybe. Maybe not.

But every time you hear someone playing a guitar on the side of the road...

Stop for a second.

Who knows...

 

It might be me.

 

(Cristy memeluk Roy untuk terakhir kalinya)


Kemudian perlahan berjalan meninggalkan taman. Beberapa langkah.

Ia berhenti. Menoleh.

Roy masih berdiri di tempat yang sama. Tersenyum.

Cristy membalas senyum itu. Lalu pergi.

Kali ini...

 

Tanpa menoleh lagi.

 

Roy tetap berdiri.

 

Sampai bayangan Cristy benar-benar hilang di balik pepohonan.


Baru setelah itu...

 

Ia duduk di bangku taman.

 

Mengeluarkan sebungkus rokok kretek yang tinggal satu batang.

Disulutnya perlahan.

Asap pertama keluar bersama embusan napas yang panjang.

Ia menatap langit yang mulai gelap.

Lalu berbisik pelan.



 ROY: "Thank you...

 ...for loving a broken man."

 


 

EPILOG

 

(Beberapa tahun kemudian...)

 

(Sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan.

Seorang lelaki bertubuh lebih matang duduk di bangku kayu

dengan gitar di pangkuannya. Jaket kulitnya masih sama.

Motor GL 100 "Betmen" masih setia terparkir di depan warung.

Catnya semakin pudar, tetapi mesinnya masih hidup)

 

Roy memetik gitar perlahan.

Bukan untuk mencari perhatian.

Bukan pula untuk mencari belas kasihan.

Ia hanya sedang mengunjungi kenangan.

 

(Di kejauhan terdengar seseorang meminta sebuah lagu. Roy tersenyum tipis.

Lagu itu membawa kembali ingatannya kepada seseorang

yang pernah duduk di hadapannya bertahun-tahun lalu,

menggenggam gitar, meniup permen karet, lalu mengubah hidupnya selamanya.

Roy mulai memainkan intro lagu itu. Ia tidak menyanyikannya keras-keras.

Ia hanya membiarkan melodi mengalir bersama angin malam.)


 

ROY (monolog)

 

Orang bilang...Cinta pertama itu sulit dilupakan.

Menurutku...

Bukan...

Yang sulit dilupakan...

 Adalah orang yang pertama kali membuat kita merasa diterima apa adanya.


(Crist...

Kalau suatu hari nanti kamu tanpa sengaja membaca kisah ini...

Aku harap kamu tersenyum.

Karena di suatu sudut kota...

Masih ada seorang lelaki berttato...

Yang sesekali mengingatmu...

Bukan dengan penyesalan. Melainkan dengan rasa syukur.

Terima kasih...Karena pernah singgah di hatiku)

 

 

 

- TAMAT -

 

“Untuk seseorang yang pernah mengajariku bahwa cinta sejati

tidak selalu berakhir dengan kebersamaan”

Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)