BALADA SI ROY
(Inspired by My True Story)
Genre
Drama Romantis
Durasi
± 60 menit
Jumlah Tokoh
· Roy
· Cristy
· Ayah
· Ibu
· HRD
· Resepsionis
· Narator (opsional)
Sinopsis
Sekitar 200–300 kata.
BABAK I
Anak yang Dianggap Salah Jalan
"Orang sering menyebutku anak yang salah jalan. Lucunya, tak seorang pun pernah berhenti untuk menunjukkan peta yang benar."
- Catatan Roy #1 -
(Langit masih gelap. Hanya terdengar suara gitar akustik memainkan beberapa petikan nada blues. Samar-samar terdengar deru motor tua, lalu suara bus kota yang melintas dari kejauhan. Aroma kopi hitam dan asap rokok seolah memenuhi ruang imajinasi. Seorang pemuda bertubuh kurus dengan jaket kulit lusuh, celana jeans belel, sepatu usang, serta tato yang memenuhi kedua lengannya. Di sampingnya terparkir motor GL 100 tua yang cat hitamnya mulai pudar dimakan usia.)
PROLOG
ROY (menatap tembok usang sambil tersenyum tipis)
Ada orang yang lahir di rumah megah, tetapi tak pernah benar-benar punya tempat untuk pulang.
Ada juga yang hidup di kamar kos sempit, ditemani kipas angin tua, secangkir kopi hitam,
dan sebungkus rokok kretek murahan... tetapi justru merasa dunia adalah rumahnya.
Aku?
Aku termasuk yang kedua.
Mereka mengenalku dengan satu nama.
"ROY"
Bukan nama yang tertulis di ijazah.
Bukan nama yang diberikan kedua orang tuaku.
Tapi nama yang kupilih sendiri.
Karena terkadang...
...nama yang kita pilih jauh lebih jujur daripada nama yang diberikan sejak lahir.
Jadi...
Kalau suatu hari nanti kita bertemu di persimpangan jalan...
atau mungkin di sebuah warung kopi pinggir jalan...
atau ketika aku sedang bernyanyi di bawah lampu merah...
cukup ulurkan tanganmu dan bilang,
"Hey, Roy!"
Aku pasti menoleh.
Karena bagiku...Roy bukan sekadar nama.
Roy adalah cara aku bertahan hidup.
(Roy menyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul pelan.
Ia mengusap tangki motor tua di sampingnya.
Terdengar sendu lagu rock indonesia 80-an..
dari sebuah tape kuno di pojokan kamar)
Oh iya...
Kenalin juga sahabat paling setiaku.
Namanya Betmen.
Jangan ketawa dulu.
Dia memang bukan Batman yang bisa terbang.
Dia cuma GL 100 kuno yang kalau dinyalakan
lebih sering batuk daripada meraung.
Kadang pagi-pagi dia susah hidup.
Kadang malam-malam dia mogok tanpa alasan.
Tapi dia nggak pernah ninggalin aku. Dan buatku...
kesetiaan jauh lebih mahal daripada kemewahan.
(Roy menepuk pelan tangki motor itu.
"Ayo, Betmen..."
"Hari ini kita masih harus melawan dunia."
ADEGAN 1
Rumah yang Tidak Pernah Menjadi “Rumah”
(Lampu bersinar temaram. Terdengar suara orang bertengkar dari balik kamar. Suara gelas pecah. Suara pintu dibanting. Roy berdiri mematung, tetapi tatapannya kosong. Seolah semua keributan itu sudah menjadi musik pengantar tidur sejak kecil.)
AYAH:
Kamu pikir aku nggak capek kerja?
IBU: Kerja? Atau keluyuran
sama perempuan murahan itu?
AYAH:
Jangan ikut campur urusanku
IBU: Memangnya kamu pernah ikut campur urusan keluarga?
(Suara benda dilempar. Roy menundukkan kepala. Ia tersenyum getir.)
ROY (monolog)
Lucu ya...
Orang bilang rumah adalah tempat paling nyaman. Kalau menurutku...
Rumah hanyalah tempat di mana dua orang dewasa saling menyakiti tanpa pernah benar-benar ingin saling memahami.
Aku anak kedua dari empat bersaudara. Kakakku pintar.
Adikku penurut.
Si bungsu selalu jadi kesayangan. Sedangkan aku?
Aku cuma anak yang katanya...
"salah jalan."
Mereka sering bilang begitu.
"Roy itu anak gagal."
"Roy bikin malu keluarga." "Roy masa depannya suram."
Dan anehnya...
Mereka begitu sibuk menghakimi jalanku. Tapi tak satu pun pernah berhenti sebentar...
...untuk menunjukkan jalan yang mereka anggap benar. Kalau memang aku salah jalan...
kenapa tak ada yang memberiku peta?
Bokapku seorang pegawai negeri.
Rapi.
Terhormat.
Disiplin.
Setidaknya begitu yang dilihat orang. Tapi dunia selalu punya dua wajah.
Yang satu dipakai saat memakai seragam.
Yang satunya lagi muncul ketika malam mulai larut.
Aku terlalu sering melihatnya pulang dengan
aroma parfum perempuan yang bahkan bukan milik ibuku.
Sedangkan Nyokap...
Sibuk dengan bisnisnya. Atau mungkin...
sibuk mencari pelarian dari luka yang sama?
Aku tidak pernah benar-benar tahu, apa rahasia yang mereka simpan.
Yang kutahu...
mereka terlalu sibuk menjadi suami dan istri yang saling membenci...
hingga lupa bagaimana menjadi ayah dan ibu.
ADEGAN 2
Anak Pembangkang
(Ruang makan. Ayah duduk membaca koran. Ibu bermain ponsel. Roy masuk dengan rambut sedikit acak-acakan dan jaket kulit di pundaknya.)
AYAH: Lihat penampilanmu! Kamu mau jadi apa? Preman?
ROY: Belum tahu.Yang jelas bukan orang munafik!
AYAH(Ayah membanting koran):
Kurang ajar!
ROY: Kalau berkata jujur namanya kurang ajar...
berarti selama ini aku rugi bersekolah.
IBU: Sudah! Kamu itu selalu bikin masalah. Lihat kakakmu.
Lihat adik-adikmu. Kenapa cuma kamu yang begini?
ROY: Karena cuma aku yang berani ngomong.
Mereka diam bukan berarti mereka bahagia.
Mereka cuma takut kehilangan uang jajan.
(Sunyi….)
Tatapan mereka tajam.
Tatapanku lebih tajam lagi. Hari itu aku sadar...
Aku aku akan terusir dari rumah.
Tapi aku tidak boleh terusir dari kewarasanku!
(Roy mengambil tas ranselnya.)
IBU: Mau ke mana?
ROY: Cari hidup. Di sini...aku cuma numpang lahir.
(Roy keluar sambil membanting pintu. Di kejauhan terdengar suara mesin motor tua yang akhirnya menyala setelah beberapa kali dicoba.)
ROY (voice over, disertai suara motor menjauh)
"Life's tough, man..."
"But as long as this old engine still breathes..." "So do I."
BABAK II
Jangan Menilai Sampul Buku
"Tato di kulitku memang terlihat jelas. Tapi luka yang ada di dalam hati...
tak pernah berhasil dibaca oleh siapa pun."
- Catatan Roy #2 -
(Cahaya pagi menembus jendela kamar kos berukuran tiga kali empat meter. Sebuah kipas angin tua berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi berdecit yang sudah seperti alarm setiap pagi. Di sudut ruangan tampak sebuah gitar akustik, beberapa buku yang tersusun seadanya, helm hitam, dan jaket kulit yang menggantung di balik pintu.
(Roy masih duduk di pinggir ranjang. Secangkir kopi hitam mengepul di atas meja kecil. Ia memandangi secarik kertas yang sejak semalam tak berhenti ia baca.)
ROY (monolog)
Hari ini... Mungkin hari baik. Atau mungkin...
Hari sial?
Entahlah!
Yang jelas...Hari ini ada seseorang yang akhirnya
mau melihat isi kepalaku. Bukan cuma isi kulitku.
(Roy tersenyum kecil.)
"Interview kerja"
Dua kata yang terdengar sederhana. Tapi buat orang sepertiku...
Rasanya seperti sedang ikut ujian hidup.
(Ia mengambil map cokelat berisi ijazah, sertifikat,
dan beberapa lembar curriculum vitae yang mulai kusut di bagian ujung.)
Lucu ya...
Orang-orang selalu bilang...
"Masa depan itu ditentukan oleh pendidikan."
Kalau memang begitu... Kenapa aku masih harus takut?
Bukankah semua nilai kuliahku ada di dalam map ini?
(Roy menatap kedua lengannya yang penuh tato. Ia menarik napas panjang.)
Ah...Semoga mereka juga mau membacanya.
ADEGAN 1
Betmen yang Selalu Mengerti
(Halaman depan rumah kos. Matahari mulai meninggi.
Roy mengenakan kemeja putih lengan panjang
yang sengaja tidak digulung sehingga menutupi
sebagian besar tatonya. Rambutnya disisir rapi.
Sepatu hitam yang sudah mulai kusam ia semir semalam sampai mengilap.
Tak lupa semprotam parfum harga 10 ribuan)
(Ia lalu berdiri di depan motor GL 100 kesayangannya.)
ROY: Morning, buddy.
Don't let me down today, okay? (Roy mengusap tangki motor.)
Kalau hari ini kita berhasil...
Aku traktir bensin full tank. Deal?
(Ia tertawa sendiri.)
Kadang aku mikir...
Cuma sama motor beginian aku bisa ngobrol tanpa dihakimi.
(Sekali starter)
Motor batuk.
"Cek... cek... breett..." Roy menggeleng.
ROY: Seriously? Not today, man...
Please...
(Starter kedua) Motor akhirnya nyala,
dan Roy tersenyum lebar.
Nah...
That's my boy. Let's roll.
(Suara mesin GL 100 meraung pelan meninggalkan halaman kos.)
ADEGAN 2
Interview
Sebuah ruang tunggu kantor yang bersih. Dinding putih.
Aroma kopi dari pantry.
Suara pendingin ruangan membuat suasana terasa dingin. Beberapa pelamar lain duduk rapi mengenakan jas dan dasi. Roy masuk sambil membawa map cokelatnya.
Beberapa pasang mata langsung menoleh. Ada yang memperhatikan rambut Roy.
Ada yang melirik sepatu tuanya.
Ada pula yang memandangi motor tua yang baru saja diparkir di depan kantor melalui jendela kaca.
(Roy hanya tersenyum kecil.)
ROY(monolog)
Santai...
Mereka bukan juri Indonesian Idol. Mereka cuma calon teman kerja.
Kalau memang jodoh... Ya diterima.
Kalau nggak...
Ya paling banter pulang sambil nyanyi.
(Seorang resepsionis menghampiri.)
RESEPSIONIS: Selamat pagi.
Mas Roy?
ROY: Yes, Ma'am.
RESEPSIONIS: Silakan masuk. Bapak HRD sudah menunggu.
ROY: Thank you.
(Roy menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.)
Tok...
Tok...
HRD: Please, come in.
(Ruangan cukup luas)
Di balik meja duduk seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.
Wajahnya tenang. Kacamatanya sedikit turun.
(Ia mempersilakan Roy duduk.)
HRD: Selamat pagi. Silakan duduk.
ROY: Morning, Sir. Thank you.
(HRD membuka CV Roy.)
Suasana hening.
Hanya suara kertas dibalik.
Sesekali terdengar bunyi pena diketuk perlahan di atas meja.
HRD: IPK kamu bagus.
Pengalaman organisasi juga lumayan. Suka musik?
ROY: Very much, Sir. Music keeps me sane.
(HRD tersenyum kecil.)
HRD: Kalimat yang menarik. Kenapa ingin bekerja di perusahaan kami?
ROY: Because I need a chance. Not sympathy.
Just a fair chance to prove what I can do.
(HRD mengangguk pelan.)
Jawabanmu bagus!
ADEGAN 3
Sampul Buku
(Roy mulai merasa lebih tenang. Ia menjelaskan pengalaman kerja.
Kemampuan komputer. Kemampuan komunikasi.
Suasana interview mengalir hangat. Lalu...Tanpa sengaja...
Lengan kemeja Roy tersingkap ketika ia mengambil map.
Tato naga yang memenuhi lengannya terlihat jelas.
Ruangan mendadak sunyi. HRD berhenti menulis.
Tatapannya berubah.
Bukan marah.
Bukan benci.
Tetapi... ragu.
Roy menyadarinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan... Ia tahu.
Interview itu baru benar-benar dimulai.
HRD: Mas Roy...Boleh saya bertanya sesuatu?
ROY: Sure.
HRD: Tattonya... Sudah lama?
(Roy tersenyum tipis.)
ROY: Sejak kuliah.
HRD: Kenapa membuat tato sebanyak itu?
(Roy diam beberapa detik.)
ROY: Kalau saya bilang...Setiap tato ini punya cerita...
Apa Bapak akan percaya?
(HRD tidak menjawab.)
ROY: Nggak apa-apa. Kebanyakan orang memang
cuma melihat tintanya. Jarang ada yang penasaran sama lukanya.
(HRD menutup map perlahan)
HRD: Terus terang...Perusahaan kami punya standar penampilan.
Saya pribadi sebenarnya tidak mempermasalahkan tatto. Tetapi...
Ada aturan yang harus saya ikuti.
(Roy mengangguk pelan)
Tidak marah.
Tidak kecewa.
(Seolah jawaban itu sudah ia hafal bahkan sebelum datang)
ROY: I understand, Sir.
Rules are rules.
(HRD tampak bersalah.)
HRD: Saya yakin kamu anak yang baik.
ROY: Thank you.That means a lot.
(Roy berdiri Merapikan mapnya lalu tersenyum)
ROY: One last thing, Sir...
Don't judge a book by its cover. Sometimes...
The best stories come from the roughest covers
(Roy mengulurkan tangan. HRD menyambutnya)
Jabat tangan itu hangat.
(Namun sama sekali tidak mengubah keputusan.)
ADEGAN 4
Jalan Pulang
(Langit mulai mendung....)
Roy mengendarai Betmen tanpa tujuan. Lampu merah.
Ia berhenti.
Seorang anak kecil menjual koran. Anak itu tersenyum.
Roy membeli satu.
Padahal ia tahu...
Yang sedang ia beli bukan korannya. Melainkan semangat anak itu.
(Lampu hijau menyala motor kembali berjalan.)
ROY (voice over)
Kadang hidup memang lucu.
Kita disuruh sekolah tinggi-tinggi. Disuruh jadi orang baik.
Disuruh jujur.
Disuruh kerja keras.
Tapi ketika semua itu sudah kita lakukan...
Masih ada satu hal yang lebih dulu dinilai:"Penampilan"
(Roy tertawa kecil di balik helmnya.)
It's okay. Maybe...
That office wasn't meant for me.
Some roads just lead us somewhere else.
(Suara mesin Betmen semakin menjauh. Menerobos kroditnya jalan di siang itu)
BABAK III
Pertemuan di Taman Kota
"Ada orang yang datang untuk menetap. Ada pula yang datang hanya untuk meninggalkan kenangan.
Waktu itu aku masih terlalu bodoh untuk membedakan keduanya."
- Catatan Roy #3 -
(Matahari pagi menggantung malu-malu di langit biru.
Angin berembus pelan, memainkan dedaunan di sebuah taman kota yang mulai ramai oleh orang-orang yang berolahraga)
Suara burung bercampur deru kendaraan dari jalan raya yang tak begitu jauh.
Di salah satu bangku taman duduk seorang gadis berkepang dua.
Sesekali ia meniup poni yang jatuh menutupi matanya.
Permen karet terus dikunyahnya tanpa semangat.
(Di sampingnya tergeletak sebuah gitar bolong yang sudah kusam)
ADEGAN 1
Roy yang Selalu Terlambat
(Di kejauhan terdengar suara motor GL 100 meraung dengan napas tersengal- sengal.)
ROY (voice over sambil mengendarai Betmen)
No...
No...
No...
Aku telat lagi.
Cristy pasti udah ngamuk. Sial...
Kenapa sih tiap kali mau ketemu pacar, Betmen selalu minta perhatian?
(Roy menepuk pelan tangki motornya.)
Come on, buddy...
Don't embarrass me today. Please.
(Motor batuk sekali, lalu kembali meraung.)
Good boy...
I owe you one.
(Motor memasuki taman dan berhenti mendadak.)
Roy melihat jam tangannya. Pukul...
Sebelas lewat lima menit. Roy memejamkan mata.
ROY: Well... I'm dead.
ADEGAN 2
Gadis Berkepang Dua
(Cristy masih duduk membelakangi Roy)
Ia mengenakan kemeja putih tipis berlengan pendek.
Rok jeans selutut bergaya old school.
Sepasang sepatu converse putih yang mulai kotor.
Di pergelangan tangannya melingkar gelang kulit hitam pemberian Roy lima tahun lalu.
Ia tampak cantik.
Tetapi hari itu...
Cantiknya seperti sedang kehilangan cahaya. Roy berjalan perlahan menghampirinya.
Berusaha tersenyum seperti biasa.
ROY: Morning... Beautiful. How are you today?
(Cristy tidak menjawab)
Ia hanya melirik sekilas. Tatapannya dingin. (Sangat dingin)
CRISTY: Really?
You call this morning? Look at your watch, Roy.
(Roy menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal)
ROY: Okay... I know. I'm late.
Again. But...
Betmen tadi ngambek. Dia mogok.
Kayaknya minta dibeliin busi baru.
(Cristy memalingkan wajahnya)
CRISTY: Roy...You're impossible.
(Roy tertawa kecil.)
ROY: Impossible? No...I'm just... fashionably late.
(Cristy mencoba menahan senyum)
Namun gagal.
Sudut bibirnya sedikit terangkat. Roy langsung sadar.
Berarti...
Badai marah sudah mulai reda?
ADEGAN 3
Lagu yang Selalu Berhasil
(Roy perlahan mengambil gitar dari pangkuan Cristy)
CRISTY: Eh...Mau apa?
ROY: Negosiasi,dengan cara yang paling aku bisa.
(Roy duduk di samping Cristy)
Ia menyetem gitar beberapa kali. Lalu mulai memetik nada pelan.
Intro lagu favorit mereka mengalun lembut.
Roy mulai bernyanyi dengan suara seraknya. Bukan suara penyanyi profesional.
Tetapi suara seseorang yang benar-benar menyanyikan isi hatinya.
Cristy menundukkan kepala.
Tangannya mulai gemetar. Roy berhenti memetik gitar. Ia memandang Cristy.
Ada sesuatu yang berbeda. Hari itu...
Cristy tidak sedang marah.
Cristy sedang menyembunyikan sesuatu.
ADEGAN 4
Air Mata yang Datang Tanpa Izin
ROY: Hey...Look at me. What's wrong?
(Cristy masih diam)
Bibirnya bergetar. Beberapa detik kemudian... Air mata jatuh begitu saja.
Roy panik. Benar-benar panik.
Ia lebih siap menghadapi preman terminal daripada melihat Cristy menangis.
ROY: Hey...Don't do this.
Please...You're scaring me.
Did I mess up that badly?
(Cristy langsung memeluk Roy. Tangisnya pecah)
Roy hanya bisa membelai pelan rambut panjang gadis yang paling ia cintai itu.
ADEGAN 5
Kabar yang Mengubah Segalanya
(Beberapa menit berlalu. Tak ada satu kata pun. Hanya suara tangis.
Dan desir angin. Cristy menghapus air matanya. Menatap Roy.
Lama.......Seolah sedang menghafal wajah lelaki itu)
CRISTY: Roy...
Daddy arranged my marriage.
(Roy tidak langsung mengerti)
ROY: What?
(Cristy menarik napas panjang.)
CRISTY: Aku dijodohkan...Dengan saudara jauh keluargaku.
(Sunyi...)
Roy masih diam. Otaknya mencoba memproses kalimat terebut.
CRISTY: Daddy never liked us.
Sejak awal. Beliau tahu tentang keluargamu. Tentang ayahmu.
Tentang ibumu.
Dan...
Tentang hidupmu.
(Roy tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan)
ROY: So...That's it?
(Cristy mengangguk pelan. Air matanya kembali jatuh)
CRISTY: I'm sorry... I'm so sorry.
ADEGAN 6
Roy yang Memilih Diam
(Roy tidak marah. Tidak berteriak.
Tidak memukul bangku taman. Ia hanya menatap langit.
Hari itu...Untuk pertama kalinya...
Roy merasa langit begitu jauh)
ROY (monolog)
Lucu ya, Tuhan...
Aku nggak pernah minta dilahirkan dari keluarga yang berantakan.
Aku juga nggak pernah minta punya Ayah seperti Ayahku.
Dan juga nggak pernah minta punya Ibu seperti Ibuku.
Kenapa...Aku yang harus membayar semua dosa mereka?
(Roy menoleh ke arah Cristy)
Lalu tersenyum.
Senyum yang justru membuat Cristy semakin menangis.
ROY: Hey...Look at me.
None of this is your fault. Do you hear me?
None of it.
(Cristy menggenggam tangan Roy erat-erat)
CRISTY: Roy...I love you So much.
You'll always be my first love. I swear...I'll never forget you.
(Roy memejamkan mata)
Kalimat itu terasa seperti peluru yang menembus dadanya. Namun ia tetap tersenyum.
ROY: And you'll always be the best thing that ever happened to me.
(Angin sepoi berhembus...Roy dan Cristy tetap duduk berdampingan di bangku taman,
tangan mereka masih saling menggenggam. Di kejauhan terdengar petikan
gitar yang sederhana dari seorang pengamen, seolah mengiringi dua hati yang sedang berusaha menerima takdir yang tidak pernah mereka pilih. Cahaya matahari perlahan menghilang, menyisakan siluet keduanya di bawah pohon tua)
bersambung...