Skenario
"Seliburan Semester
Mengejar Gita Lagi”
(the sequel)
INT. RUKO ELANG -SIANG
Seperti biasa, di lantai dua ruko Elang, Nanda kembali menuliskan cerita liburannya di laptop. Setelah beberapa kali menekan tombol keyboard, Nanda menoleh ke kiri untuk bernarasi di depan kamera.
NANDA
Feeling gue mengatakan, Gita adalah jodoh gue. Kenapa? Karena selama LDR-an sama Gita, cobaannya sangat berat. Eh, godaannya sangat berat, lebih tepatnya.
Yang paling bisa masuk catatan ada dua. Di kios bakso dan di rumah dosen pembimbing gue. Dosen pembimbing gue ini terkenal killer di kampus.
Gue cerita yang di kios bakso dekat rumah dulu, ya?
CUT TO FLASHBACK :
INT. KIOS BAKSO – SIANG
Nanda memasuki kios bakso dan langsung memesan bakso pada Tisa yang duduk di meja kasir.
Di dalam Kios terlihat satu pelanggan cowok sedang menikmati basonya di pojok dalam.
NANDA
Satu, Tisa, makan sini.
TISA
Iya, bang Nanda.
Nanda duduk di salah satu meja kios dekat pintu masuk.
Tidak lama Tisa mengantar semangkok bakso ke depan Nanda.
TISA
Minumnya apa, bang Nanda?
NANDA
Eh, es teh manis.
TISA
Tunggu, ya?
NANDA
Iya.
Tisa ke dapur untuk membuat es teh, untuk kemudian diantar ke Nanda yang mulai menikmati bakso.
Tisa duduk di depan Nanda. Tisa menggunakan serbetnya mengelap-elap pelan meja di depannya yang sebenarnya masih bersih.
TISA
Ckk. Liburan kuliah disuruh jaga warung. Seminggu lagi, jatahnya.
Tisa mengeluh di depan Nanda.
NANDA
Bagus dong, bantu-bantu orang tua.
TISA
Tapi ya jangan jaga warung. Jenuh. Cuma duduk seharian.
NANDA
Bantu apa, masak?
TISA
Apalagi masak. Capek. Gerah di dapur terus.
Nanda kaget dan berhenti mengunyah bakso untuk sesaat mendengar keluh Tisa kali ini.
TISA
Besok bang Nanda kesini lagi, ya? Lumayan, kalo ada bang Nanda gini bisa ngobrol.
NANDA
Bosen dong, masa setiap hari makan bakso.
TISA
Ih bang Nanda kok gitu sih ngomongnya, bosen- bosen.
NANDA
Ya kan pingin makan yang lain juga.
TISA
Ih bang Nanda kok gitu sih ngomongnya, pingin yang lain, yang lain. Besok Tisa traktir, bang Nanda nggak usah bayar.
NANDA
Eh, lihat besok, ya?
TISA
Janji, ya?
NANDA
Lihat besok.
TISA
Janji?
Nanda hanya tersenyum untuk kemudian meraih gelas es teh dan meminumnya. Nanda mengerutkan dahi.
NANDA
Tisa. Ini kok es tehnya, tawar, tadi udah dikasih gula?
TISA
Dilihat lagi dong bang Nanda. Diamati baik-baik.
Tisa melempar serbet ke arah Nanda sambil tersenyum manja.
TISA
Masa nggak manis?
CUT TO BACK :
Nanda masih bernarasi di depan kamera.
NANDA
Karena nggak enak ke Tisa. Akhirnya gue ke kios bakso lagi. Tapi dibungkus.
Untungnya naluri cowok gue kalah sama rasa gue ke Gita. Kalo nggak? Udah jalan-jalan, tuh. Nggak tahu kemana?
Waktu bimbingan skripsi juga gitu.
CUT FLASHBACK :
EXT. RUMAH PAK YUDI-SIANG
Setelah mengetuk pintu rumah, tidak lama pintu di buka Dea, anak pak Yudi. Nanda lumayan kaget, wajah Dea cantik.
DEA
Nyari papa?
NANDA
Iya. Ada?
DEA
Papa masih mandi. Masnya, duduk dulu aja.
NANDA
Iya.
Nanda masuk rumah untuk duduk di salah satu kursi ruang tamu.
INT. RUMAH PAK YUDI-SIANG
Dea berdiri di depan Nanda dan menawari minum.
DEA
Mau minum apa?
NANDA
Saya bukan bertamu, tapi mau bimbingan skripsi sama pak Yudi. Nggak usah repot-repot.
DEA
Nggak usah repot? Berarti sirup aja, ya? Tuang air, tuang sirup, diaduk, sudah jadi. Nggak repot.
NANDA
Ehm. Ya sudah, sirup aja, nggak repot.
INT. RUMAH PAK YUDI – SIANG
Pak Yudi keluar dari arah dalam rumah kemudian duduk di kursi di depan Nanda. Nanda langsung menyapa dosen killer pembimbingnya.
NANDA
Pak…
Nanda menyerahkan draft skripsinya kepada pak Yudi.
NANDA
Ini bab satu dua, pak.
Pak Yudi mulai membuka halaman perhalaman draft skripsi Nanda.
NANDA
Ngomong-ngomong, anak bapak yang bukain pintu saya tadi anak ke berapa, pak?
Pak Yudi tidak menjawab pertanyaan Nanda, masih membaca draft skripsi Nanda.
NANDA
Masih sekolah apa kuliah, pak?
Pak Yudi kembali tidak menjawab pertanyaan Nanda. Beralih dari melihat skripsi ke memandang Nanda.
Nanda menjadi gugup dan salah tingkah.
NANDA
Bapak suka film apa, pak? Avengers? Maaf pak. Saya orangnya kaku, kurang bisa basa basi.
INT. RUMAH PAK YUDI -SIANG
Seminggu kemudian, Nanda kembali menemui Pak Yudi untuk bimbingan skripsi. Bimbingan skripsi selesai dengan lancar.
NANDA
Bab satu sampai empat selesai. Berarti, lanjut ke bab lima ya, pak? Kesimpulan? Saya usahakan minggu depan selesai, pak. Sama revisi yang ini tadi.
Pak Yudi hanya mengangguk pelan.
NANDA
Ya udah saya pamit, pak. Terima kasih banyak, pak Yudi.
Pak Yudi kembali mengangguk pelan. Bersamaan dengan itu, sambil membawa tas kecil ditangannya, Dea keluar dari ruang tengah menemui pak Yudi.
DEA
Pa, ojek onlinenya nggak datang-datang udah limabelas menit. Dea bareng mas Nanda aja ya, Pa? Sudah ditungguin Dewi.
Pak Yudi hanya mengangguk.
DEA
(ke Nanda)
Mas Nanda, Dea ikut ke arah SMA 28, ya? Ada gang, masuk sedikit. Ke rumah temen Dea.
NANDA
Iya.
DEA
Mas Nanda ke arah mana? Nggak ngerepotin, kan?
NANDA
Nggak pa-pa, nggak repot kok, cuma muter sedikit.
DEA
Yaudah, ayo mas Nanda. Sudah ditungguin, nih.
DEA
Pa. Dea berangkat.
Dea berpamitan pada pak Yudi sambil mencium tangan pak Yudi.
NANDA
(ke Pak Yudi)
Mari, pak.
Pak Yudi kembali mengangguk.
EXT. JALANAN KOTA -SIANG
Dea yang duduk boncengan motor Nanda, setelah sebuah pertigaan Dea berbicara ke Nanda.
DEA
Kita mampir bakso dulu, ya? Itu yang di depan. Dea belum makan siang?
Dea menunjuk ke suatu arah.
Nanda menghentikan motor tidak jauh dari warung bakso.
NANDA
Katanya sudah ditungguin?
DEA
Nggak pa-pa, biar nunggu sebentar lagi, makan bakso kan nggak seharian. Nggak usah repot.
CUT TO :
Nanda dan Dea keluar darii warung bakso menuju sepeda motor di tempat parkir.
DEA
Enak kan, basonya?
NANDA
Enak. Lumayan, saya suka.
DEA
Ya udah, kalo gitu sekarang kita ke es teller yang di deket halte busway, ya?
NANDA
Dea. Ini perutnya sudah penuh.
DEA
Ya nggak pa-pa, kita duduk-duduk aja sambil ngobrol. Esnya nggak usah dimakan. Nggak usah repot.
CUT TO BACK :
INT. RUKO ELANG - SIANG
Nanda masih bernarasi di depan kamera.
NANDA
Nggak repot, kok.
Huh. Dosen killer, anaknya juga killer, tapi versi cantiknya.
Rasanya jantung mau copot.
Untung skripsi lancar.
Atau jangan-jangan pak Yudi nggak mau gue sering bimbingan ke rumahnya?
Ya, anggap aja, sementara gitu dulu, biar aman.