Yang Tidak Ikut Mengalir
Sungai mengalir ke laut
semua orang tahu itu.
Tapi ada yang memilih berdiri di tepinya,
memandang arus,
dan berkata: tidak.
Bukan karena tidak tahu cara berenang.
Tapi karena tahu persis ke mana air itu pergi.
Ridwan Saleh tidak dilahirkan sebagai orang yang sulit.Teman-teman lamanya akan tertawa kalau mendengar ia sekarang dianggap keras kepala. Dulu ia dikenal sebagai orang yang paling mudah diajak kompromi tidak banyak protes, tidak suka konflik, lebih suka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan senyum yang tidak dibuat-buat. Istrinya, Lastri, bahkan pernah mengeluh dengan nada geli, "Mas Ridwan ini terlalu baik, nanti diinjak orang."
Mungkin itu sebabnya ketika ia akhirnya berkata tidak dengan tegas, tanpa senyum, tanpa kompromiorang-orang di sekitarnya tidak langsung percaya. Mereka pikir ia bercanda. Ia tidak bercanda.
Ridwan menjabat Kepala SPPG Kecamatan Sindangjaya sejak delapan bulan lalu. Bukan jabatan yang ia impikan sejak kecil tidak ada anak kecil yang bercita-cita menjadi kepala satuan pelayanan gizi. Tapi ketika namanya disebut dalam SK pengangkatan itu, ia menerimanya dengan cara yang sama seperti ia menerima semua hal dalam hidupnya: dengan niat untuk mengerjakannya sungguh-sungguh.
Wilayahnya mencakup dua puluh satu titik distribusi. Sebelas sekolah dasar, tujuh sekolah menengah pertama, tiga pos PAUD. Totalnya lebih dari empat ribu anak yang setiap hari sekolah bergantung pada sistem yang ia kelola—sistem yang di atas kertas terlihat sederhana, tapi di lapangan menyimpan begitu banyak celah yang menganga seperti mulut yang lapar. Ridwan tahu celah-celah itu. Ia pelajari satu per satu sejak hari pertama menjabat. Bukan untuk dimanfaatkan tapi untuk ditutup.
Nama Pak Bimo pertama kali muncul tiga bulan setelah Ridwan menjabat. Pak Bimo bukan orang asing di ekosistem ini—ia distributor katering rekanan yang sudah bermitra dengan program ini jauh sebelum Ridwan datang. Orangnya ramah, murah senyum, selalu datang membawa oleh-oleh kecil yang tidak bisa disebut suap tapi juga tidak bisa disebut bukan. Sekotak kurma saat Ramadan. Kue kering menjelang Lebaran. Sekantong kopi saat musim hujan. Ridwan menerimanya dengan sopan. Menyimpannya di meja pantry untuk diminum bersama. Tidak merasa berhutang apa pun.
Pak Bimo tertawa kecil melihat itu. "Kepala baru memang masih segar," katanya kepada staf lain, cukup keras untuk sampai ke telinga Ridwan. Ridwan pura-pura tidak mendengar. Sambil terus memeriksa laporan. Pertemuan yang sesungguhnya terjadi pada suatu Kamis sore, di ruangan Ridwan, ketika semua staf sudah pulang.
Pak Bimo masuk dengan membawa satu map dan satu amplop cokelat. Map ia letakkan di meja. Amplop ia pegang sendiri—jarinya mengetuk-ngetuk permukaannya dengan ritme yang tenang, seolah sedang mendengarkan musik yang hanya ia dengar.
"Pak Ridwan, saya mau bicara sebagai mitra," kata Pak Bimo. Nada bicaranya seperti orang yang akan menawarkan sesuatu yang sangat masuk akal. "Program ini besar. Anggarannya besar. Wajar kalau semua pihak yang terlibat... mendapat apresiasi yang sepadan."
Ridwan tidak menjawab. Menunggu.
"Saya sudah hitung." Pak Bimo membuka map itu. Di dalamnya ada tabel—rapi, terformat, seolah sudah dipersiapkan lama. "Kalau kita sedikit menyesuaikan angka di laporan penerimaan, selisihnya bisa kita bagi rata. Bapak dapat porsi yang layak. Saya tenang. Program tetap jalan. Tidak ada yang dirugikan."
Hening sebentar.
Ridwan menatap tabel itu. Matanya menelusuri angka-angka yang tersusun rapi, selisih yang kecil, persentase yang tidak mencolok, pembagian yang adil. Semua dikemas dengan bahasa yang terdengar seperti solusi, bukan kejahatan.
Tapi Ridwan sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa kejahatan yang paling berbahaya adalah yang datang dengan wajah solusi.
"Tidak," kata Ridwan.
Pak Bimo tersenyum. Masih belum percaya. "Pak Ridwan belum dengar angkanya"
"Tidak perlu."
Senyum itu bertahan tapi matanya berubah—sedikit, hampir tidak terlihat, seperti awan tipis yang lewat di depan matahari. "Bapak masih baru di sini. Mungkin belum paham cara sistemnya bekerja"
"Saya paham." Ridwan menutup map itu. Mendorongnya kembali ke sisi Pak Bimo. Suaranya tidak keras, tidak gemetar. Datar seperti permukaan meja di antara mereka. "Sistem ini bekerja untuk memastikan empat ribu anak di wilayah saya makan dengan layak setiap hari sekolah. Itu yang saya pahami."
Pak Bimo mengambil mapnya. Mengambil amplop cokelatnya. Berdiri.
"Kepala sebelumnya tidak pernah mempersulit seperti ini," katanya.
"Saya tahu," jawab Ridwan.
Pak Bimo pergi. Ridwan duduk sendiri di ruangan yang mulai gelap, ia lupa menyalakan lampu, dan sore sudah menjadi petang tanpa ia sadari. Di luar jendela, suara kendaraan pulang kantor mengalir seperti sungai yang tidak pernah berhenti.
Ia duduk di sana cukup lama. Tidak menyalakan lampu.
Yang terjadi setelahnya tidak dramatis. Tidak ada ancaman terbuka, tidak ada konfrontasi di depan publik. Hanya tekanan yang bekerja dengan cara-cara halus, laporan yang tiba-tiba membutuhkan verifikasi berlapis, pengiriman yang mulai sering datang terlambat tanpa alasan yang jelas, satu dua telepon dari nomor yang tidak dikenal berisi suara yang hanya diam lalu menutup sambungan.
Ridwan mencatat semua itu. Tanggal, waktu, detail. Dengan pulpen biru di buku catatan yang ia beli khusus dan simpan di laci yang selalu ia kunci.
Ia juga melakukan sesuatu lain: ia mulai turun langsung ke lapangan.
Bukan kunjungan seremonial, tidak ada pemberitahuan sebelumnya, tidak ada rombongan, tidak ada kamera. Ia datang sendiri, kadang naik motor, kadang nebeng staf lapangan, ke titik-titik distribusi di jam makan siang. Melihat sendiri bagaimana makanan itu tiba. Menghitung sendiri. Berbicara dengan guru-guru piket yang kelelahan tapi tidak pernah mengeluh.
Di SD Mekarwangi, ia bertemu Bu Lastari, guru kelas empat yang sudah mengajar dua puluh tahun dan menyimpan catatan kecil tentang anak-anak mana yang terlihat datang sekolah tanpa sarapan. Catatan itu tidak resmi, tidak diminta siapa pun. Bu Lastari membuatnya karena tidak bisa tidak membuatnya.
Ridwan membaca catatan itu dan diam cukup lama.
"Dua tahun lagi saya pensiun," kata Bu Lastari kemudian. "Saya cuma mau pastikan program ini beneran sampai ke anak-anak. Bukan cuma di atas kertas."
Ridwan mengangguk. Mengembalikan catatan itu dengan kedua tangan.
"Saya jamin," katanya.
Dua kata. Tapi ia mengucapkannya dengan berat yang penuh, bukan berat yang membebankan, melainkan berat yang menopang. Seperti fondasi yang tidak terlihat tapi membuat semuanya bisa berdiri.
Malam-malam di rumah, Lastri kadang melihat suaminya duduk di meja sambil menelusuri laporan dengan tatapan yang terlalu serius untuk seseorang yang katanya hanya "mengurus makanan anak sekolah."
"Mas kenapa tidak cerita kalau ada tekanan?" tanya Lastri suatu malam.
"Supaya kamu tidak khawatir."
"Sudah terlambat." Lastri duduk di sebelahnya. "Saya khawatir dari dua bulan lalu."
Ridwan menatap istrinya. Perempuan yang sudah ia kenal dua puluh tahun, yang tahu cara membaca wajahnya lebih akurat dari siapa pun.
"Aku baik-baik saja," katanya.
"Saya tahu." Lastri menyentuh tangannya sebentar. "Saya cuma mau kamu tahu bahwa apa pun yang kamu putuskan, saya di sini."
Ridwan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggenggam tangan istrinya sebentar, satu genggaman yang singkat tapi menyimpan percakapan panjang yang tidak perlu diucapkan.
Bulan kedelapan jabatannya, audit internal menemukan ketidaksesuaian besar dalam laporan periode sebelum ia menjabat. Angka-angka yang selama bertahun-tahun mengalir ke tempat yang salah akhirnya terlihat, bukan karena sistem tiba-tiba menjadi pintar, tapi karena ada seseorang yang berhenti membiarkannya mengalir.
Ridwan memberikan semua dokumentasi yang ia kumpulkan. Tanpa dramatisasi. Tanpa pidato. Hanya map-map biru yang tersusun rapi, kronologi yang tertulis jelas, data lapangan yang ia kumpulkan dengan kaki sendiri.
Proses selanjutnya bukan urusannya, itu urusan yang lebih besar, melibatkan orang-orang dengan kewenangan yang jauh di atas jabatannya. Ridwan menyerahkan apa yang perlu diserahkan, lalu kembali ke mejanya, membuka laporan hari ini, dan melanjutkan pekerjaannya.
Ada dua puluh satu titik distribusi yang masih perlu ia pantau. Empat ribu anak yang besok pagi akan berangkat sekolah.
Itu cukup. Itu lebih dari cukup.
Suatu siang, setelah semua keributan itu mereda, seorang staf muda bernama Sari yang selama ini bekerja diam-diam dan teliti, menghampirinya di depan ruangan.
"Pak," katanya, "terima kasih."
Ridwan menggeleng pelan. "Kamu yang menemukan duluan. Saya cuma melanjutkan."
Sari tersenyum, senyum yang kecil tapi jujur. "Pak Ridwan yang membuat saya berani melanjutkan."
Ridwan tidak tahu harus menjawab apa. Maka ia tidak menjawab apa-apa. Hanya mengangguk anggukan yang menyimpan banyak hal yang tidak perlu diucapkan.
Sore itu ia pulang tepat waktu untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. Naik motor, melewati jalan yang sama seperti setiap hari, melewati sawah yang mulai menguning di tepi jalan. Angin sore menerpa wajahnya.
Ia tidak merasa seperti pahlawan.
Ia hanya merasa seperti seseorang yang sudah mengerjakan pekerjaannya dengan benar.
Dan untuk malam pertama dalam waktu yang lama, Ridwan Saleh tidur tanpa mimpi, tenang, dalam, seperti orang yang tidak menanggung hutang apa pun kepada siapa pun.
Kejujuran tidak selalu menang dengan gemilang. Kadang ia menang dengan cara yang sunyi, seorang lelaki yang pulang tepat waktu, makan malam bersama istrinya, dan meletakkan kepalanya di bantal
tanpa satu pun nama yang harus ia sembunyikan. Itu kemenangan. Mungkin yang paling nyata dari semua.