"Ini calon kakak iparku, ya? Cantik banget!"
Gadis muda di hadapanku yang belakangan kuketahui bernama Safiya, adik kandung Kemal menyapa tanpa sungkan. Wajahnya yang ceria sedikit mengurangi rasa gugup yang sejak tadi meremas jemariku di balik gamis peach bersahaja ini. Ibuku dan sahabat lamanya, Tante Sabrina, langsung saling lempar senyum penuh arti. Kedok silaturahmi ini berjalan terlalu mulus. Masa freshgraduate-ku sudah lewat lima tahun lalu, jadi kurasa memang tidak ada salahnya jika Ibu mulai sibuk mencarikanku pasangan hidup. Hanya saja, semua ini terasa begitu terburu-buru.
Di sudut ruang tamu, ada beberapa pemuda yang sedang duduk. Aku sempat bingung menebak yang mana orangnya. Namun, begitu nama "Kemal Pasha Arubiya" dipanggil oleh Tante Sabrina, salah satu dari mereka berdiri. Dia mengenakan kemeja koko kasual berwarna hitam. Ibuku benar, nilainya sebagai lelaki memang delapan dari sepuluh. Wajahnya teduh, khas seorang hafizh yang harinya akrab dengan lingkaran Al-Qur'an.
Setelah sesi basa-basi keluarga yang terasa seperti ujian kelayakan, kami berdua diberikan ruang di beranda samping untuk saling mengenal. Angin sore berembus pelan, memainkan ujung kerudung peach kesukaanku.
"Naziya Shafa Alifa," Kemal membuka percakapan, suaranya berat dan tenang. "Lima tahun lalu lulus kuliah, ya? Sekarang kesibukannya apa?"
"Aku merintis studio desain grafis kecil-kecilan di rumah, Mas," jawabku, mencoba terdengar seprofesional mungkin meski jantungku berdegup kencang. "Mas Kemal sendiri sibuk mengajar di pesantren?"
"Mengajar, dan sedang memegang beberapa bisnis daring milik yayasan," jawabnya halus.
Percakapan mengalir. Harus kuakui, Kemal adalah pria yang cerdas. Dia tidak merendahkan profesiku, bahkan memberikan pandangan-pandangan modern tentang bagaimana nilai-nilai syariah bisa masuk ke dalam industri kreatif. Ada ketertarikan intelektual yang kuat di antara kami. Kami saling menaruh perhatian pada isi kepala masing-masing.
Namun, di tengah tawa kecil kami, bayangan lain mendadak melintas di benakku. Wajah Ziyyan. Sahabat masa kuliahku yang setahun lalu memilih pergi ke luar kota untuk menata masa depan, berjanji akan kembali setelah dia siap. Ziyyan yang santai, Ziyyan yang selalu tahu warna kesukaanku. Kenapa di depan pria sesempurna Kemal, aku justru merindukan Ziyyan?
Aku menghela napas, menunduk menatap cangkir teh yang mulai dingin. Gerak-gerikku rupanya terbaca oleh sepasang mata teduh itu.
"Naziya," panggil Kemal. "Boleh saya jujur satu hal? Dan saya harap kamu juga bisa jujur setelah ini."
Aku mendongak, menatap matanya. "Iya, Mas. Silakan."
"Perjodohan ini adalah bakti saya pada Ibu. Tapi adilkah jika saya membawa seseorang yang baru ke dalam hidup saya, sementara di dalam hati saya masih ada nama lain yang sedang saya perjuangkan dalam doa?" Kemal tersenyum tipis, senyum yang getir namun penuh hormat. "Ada seorang guru mengaji di madrasah hilir yang belum berani saya khitbah karena keterbatasan saya saat ini. Ibu belum tahu."
Aku tertegun. Seorang hafizh seperti Kemal pun memiliki ruang rahasia di hatinya. Kejujurannya yang tiba-tiba justru membuatku merasa aman. Rasa gamangku luruh, digantikan rasa hormat yang besar.
"Terima kasih atas jujurnya, Mas Kemal," ujarku, menarik napas lega. "Kalau begitu, aku juga harus jujur. Namanya Ziyyan. Dia sedang berjuang di luar kota. Dan demi menghargai kedatangan keluarga Mas, aku memakai baju terbaikku hari ini, tapi hatiku ternyata tertinggal di tempat lain."
Kemal terkekeh, kali ini tawa lepas tanpa beban. "Berarti kita sama-sama 'terjebak' dalam skenario orang tua. Kita sama-sama punya ruang rahasia."
"Ops!, lalu sekarang bagaimana? Di dalam sana, ibu kita pasti sudah menyusun tanggal pernikahan," kataku agak cemas.
Kemal mengetukkan jarinya ke meja, berpikir cepat. "Kita tidak bisa langsung menolak mentah-mentah hari ini. Itu akan melukai hati Ibu-ibu kita. Bagaimana kalau kita katakan saja pada mereka bahwa kita setuju untuk melanjutkan proses kenalan?"
"Maksudnya, kita berpura-pura?"
"Bukan berpura-pura yang manipulatif," Kemal meluruskan. "Kita sepakat menerima pinangan ini di depan mereka agar suasana hari ini tetap hangat. Namun, kita minta waktu tiga bulan ke depan untuk saling mengenal tanpa intervensi orang tua. Dalam tiga bulan itu, saya akan bicara pelan-pelan pada Ibu saya tentang gadis di madrasah itu, dan kamu punya waktu untuk menagih kepastian dari Ziyyan."
Aku menatap Kemal, takjub dengan kedewasaannya. Dia tidak egois, tidak juga kekanak-kanakan dengan memicu drama keluarga di hari pertama.
"Dan jika dalam tiga bulan itu Ziyyan tidak kembali, atau gadis madrasah itu ternyata memilih orang lain?" tanyaku memancing.
Kemal tersenyum bijak. "Berarti takdir sedang menuntun kita kembali ke beranda ini, bukan sebagai pelarian, tapi sebagai tujuan akhir yang sudah dibersihkan dari masa lalu. Adil, kan?"
Aku mengangguk mantap. "Adil. Saya setuju."
Sore itu, ketika kami kembali ke ruang tamu dan ibu-ibu kami mendesak keputusan, Kemal menjawab dengan tegas dan santun bahwa kami sepakat untuk melangkah ke tahap berikutnya dengan tenggat waktu tiga bulan. Ibuku menangis haru, Tante Sabrina memeluk Safiya dengan gembira. Mereka mengira perjodohan ini berhasil karena cinta pada pandangan pertama. Padahal, yang terjadi adalah sebuah kesepakatan dari dua orang dewasa yang saling menghargai hati masing-masing.
***
Tiga bulan adalah waktu yang singkat untuk sebuah penantian, tetapi terasa sangat panjang ketika diisi oleh diskusi-diskusi intens. Sesuai kesepakatan, aku dan Kemal berkomunikasi secara berkala. Tidak ada pesan teks rayuan khas orang pacaran. Isi pesan kami lebih mirip ruang diskusi publik, membahas artikel esai terbaru, bertukar rekomendasi buku, hingga berdebat tentang konsep keadilan sosial.
Secara tidak sadar, aku mulai mencari notifikasi dari Kemal setiap pagi. Caranya menanggapi opiniku yang menggebu-gebu selalu tenang, penuh logika, dan tidak pernah sekali pun merendahkan egoku. Aku mulai mengagumi isi kepalanya. Dan dari tatapan matanya setiap kali kami sesekali bertemu untuk mematangkan rencana pembatalan kami, aku tahu Kemal juga menaruh rasa hormat yang sama besarnya padaku. Dua ruang rahasia di hati kami perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh kehadiran satu sama lain yang nyata.
Hingga malam itu, tepat dua minggu sebelum tenggat waktu tiga bulan berakhir. Kami bertemu di sebuah kedai kopi sudut kota.
"Ziyyan memberi kabar," ujarku membuka percakapan, meletakkan ponselku di meja. Aku menatap Kemal, mencari tahu apakah ada riak cemburu di matanya. "Dia bilang dia sudah kembali ke kota ini. Tapi ada satu hal yang aneh."
Kemal menaikkan sebelah alisnya, menyesap kopi hitamnya. "Aneh bagaimana?"
"Dia memintaku datang ke sebuah acara tasyakuran kelulusan adiknya di pinggir kota besok lusa. Dia bilang, ada seseorang yang ingin dia perkenalkan secara resmi kepadaku sebelum dia menemuiku untuk urusan kita." Aku menghela napas. "Jujur, Mas. Hatiku tidak lagi berdegup sekencang dulu saat mendengar namanya. Tiga bulan ini telah mengubah banyak hal."
Kemal terdiam cukup lama. Sepasang matanya yang teduh menatapku lekat-lekat. "Kamu tahu, Naziya? Khadijah, gadis madrasah yang sering saya ceritakan juga baru saja mengirim pesan kemarin. Dia pamit. Dia bilang, pemuda yang selama ini dia tunggu di perantauan telah kembali dan langsung menemuinya."
Kami berdua saling pandang. Ruangan kedai kopi yang bising mendadak terasa sunyi. Ada sebuah kesadaran yang perlahan merayap di antara kami, sebuah kemungkinan yang terdengar terlalu gila untuk menjadi nyata.
"Mas," bisikku, merinding. "Kota tempat Ziyyan merantau kemarin..."
"...adalah kota tempat Khadijah menyelesaikan studi keguruannya," potong Kemal, suaranya tercekat namun ada senyum tipis yang mulai terbit di bibirnya. "Dan Ziyyan sering bercerita padamu kalau dia menyukai perempuan yang mengajar anak-anak, bukan?"
Sebuah tawa kecil lolos dari mulutku, disusul oleh tawa Kemal yang lebih lepas. Plot twist kehidupan sedang menertawakan rencana rapi yang kami susun tiga bulan lalu.
"Jadi," Kemal memajukan posisi duduknya, melipat kedua tangannya di atas meja. Tatapannya kini berubah menjadi lebih hangat, intens, dan penuh keyakinan yang matang. "Rencana tiga bulan kita untuk membatalkan perjodohan ini tampaknya resmi gagal total, Naziya."
"Dan ibu-ibu kita?" tanyaku, menahan senyum. "Mereka tidak akan menjadi orang paling kecewa. Mereka justru akan menjadi orang yang paling merasa menang karena mengira intuisi mereka benar sejak awal."
"Biarlah mereka menang," ujar Kemal lembut. "Tapi kita tahu kebenarannya. Kita tidak memilih bersama karena kepasrahan atau karena ditolak oleh masa lalu. Kita memilih bersama karena dalam tiga bulan ini, saya menemukan bahwa perempuan bersahaja dengan gamis peach yang duduk di beranda saya waktu itu, ternyata adalah jawaban dari doa-doa yang bahkan belum sempat saya rapalkan."
Wajahku terasa panas. Tidak ada drama air mata, tidak ada penolakan yang menyakitkan. Hanya ada dua orang dewasa yang saling tersenyum, siap melangkah ke babak yang sebenarnya.
***
Hari yang mendebarkan itu pun tiba. Sebuah tenda sederhana bernuansa putih berdiri di halaman sebuah madrasah di pinggir kota. Suara lantunan selawat mengalun lembut dari pengeras suara.
Aku berjalan di samping Kemal. Hari ini aku tidak mengenakan warna peach, melainkan gamis hijau mint yang senada dengan kemeja katun yang dikenakan Kemal. Kami masuk ke area acara, membawa kado kecil sebagai tanda hormat atas undangan Ziyyan.
Dari kejauhan, di dekat pelaminan kecil tempat pemotongan tumpeng, aku melihat sesosok pria dengan kemeja batik yang sangat kukenal. Ziyyan. Dia tampak lebih matang daripada setahun lalu saat dia pamit merantau. Di sampingnya, berdiri seorang perempuan berwajah teduh dengan jilbab lebar, memegang buket bunga kecil.
Ketika langkah kami semakin dekat, Ziyyan menoleh. Matanya membelalak tak percaya melihatku datang. Namun, kejutan yang lebih besar justru terjadi pada perempuan di sebelahnya.
"Mas Kemal?" Khadijah, perempuan itu terkesiap, menatap Kemal dengan pandangan tidak percaya.
Ziyyan bergantian menatap Kemal dan Khadijah, lalu menatapku. "Lho, Dija, kamu kenal dengan Mas ini?"
Kemal tersenyum, senyum paling tulus yang pernah kulihat. Dia melangkah maju, mengulurkan tangan untuk menjabat Ziyyan ala laki-laki, lalu menatar Khadijah dengan pandangan seorang kakak kepada adiknya.
"Khadijah ini guru mengaji terbaik di yayasan binaan kami, Mas Ziyyan," ujar Kemal tenang, memecah kecanggungan yang sempat menggantung di udara. "Dan tampaknya, takdir membawa kita berempat ke titik yang sama hari ini."
Ziyyan menatapku, ada kilat bersalah sekaligus tanda tanya di matanya. Aku hanya tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Kemal dan menggenggam ujung lengan kemejanya secara halus, sebuah sinyal kecil yang langsung dipahami oleh Ziyyan.
"Aku ikut bahagia untukmu, Yan," kataku tulus. "Kenalkan, ini Mas Kemal. Tunanganku."
Mendengar kata "tunanganku", ketegangan di wajah Ziyyan dan Khadijah luruh seketika. Ruang kosong yang selama tiga bulan ini kami pertanyakan, kini terisi penuh oleh jawaban yang nyata. Tidak ada amarah, tidak ada rasa terkhianati. Yang ada hanya rasa lega yang luar biasa. Kami berempat akhirnya mengobrol, menertawakan bagaimana dunia ini ternyata begitu sempit, dan bagaimana doa-doa kami dijawab dengan cara yang paling tidak terduga.
Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil yang melaju membelah senja kota, Kemal melirikku yang sedang menatap jalanan lewat jendela.
"Bagaimana hatimu, Naziya? Sudah tidak ada yang tertinggal di sana?" tanyanya lembut.
Aku menoleh, menatap profil samping wajahnya yang tenang. "Sama sekali tidak, Mas. Hatiku sudah utuh kembali. Malah, rasanya sekarang kapasitasnya bertambah."
"Bertambah untuk apa?"
"Untuk mulai belajar mencintai seorang hafizh yang ternyata suka membaca esai sosial," jawabku jenaka.
Kemal terkekeh, tangan kirinya bergerak meletakkan sebuah kotak beludru kecil di dekat tuas transmisi mobil. "Kalau begitu, besok malam kita tidak perlu menunggu tiga bulan lagi. Kita temui Ibuku dan Ibumu."