Waktu aku kabur dari rumah, meja makan sudah siap untuk dua orang.
Ada nasi goreng, telur ceplok yang pinggirnya gosong sedikit, dan kopi Arga di mug hadiah suvenir nikahan teman. Aku bahkan sempat memisahkan bawang goreng dari piringnya. Suamiku nggak suka bawang goreng yang sudah melempem.
Dua belas menit kemudian, aku berdiri di depan minimarket pakai daster dan sandal yang beda warna, berusaha mengingat nomor telepon sahabatku sendiri.
Padahal ponselnya ada di tanganku. Aku tinggal membuka kontak.
Tapi saat itu, hal sesederhana itu pun nggak terpikir.
Namaku Niken. Umurku dua puluh tujuh tahun. Pagi itu, pernikahanku baru berjalan dua minggu. Sampai beberapa menit sebelum aku meninggalkan rumah, aku masih berusaha percaya bahwa suamiku orang paling aman di dunia.
Aku perlu cerita dari awal.
Aku kenal Arga tiga tahun lalu, waktu masih menyelesaikan skripsi di Bandung.
Malam itu temanku, Siska, mengajakku ke acara ulang tahun Dimas. Aku nggak kenal Dimas. Siska juga sebenarnya cuma kenal pacarnya. Begitulah pertemanan umur dua puluhan. Datang karena diajak satu orang, pulang dengan nomor telepon enam orang yang besoknya belum tentu ingat nama kita.
Acara itu di rumah kontrakan dekat kampus. Rumah tua dengan garasi sempit, pagar hijau, dan kamar mandi yang gagang pintunya harus diangkat dulu baru bisa dikunci. Ada yang bakar sosis di teras. Di ruang tengah, speaker berdengung tiap basnya terlalu kencang.
Arga tinggal di sana bersama Dimas.
Yang kuingat, dia menegurku karena aku memakai gelas bekas orang lain.
“Itu punya anak yang tadi muntah di depan.”
Aku langsung menjauhkan gelas dari mulut.
Dia ketawa, mengambilkanku gelas baru, lalu memperkenalkan diri.
Siska pulang sebelum tengah malam karena dijemput kakaknya. Aku bilang mau ikut teman lain. Ke...