Indozone ID Menulis artikel
@indozone

Ternyata Ini Alasan Vaksin Virus Corona Sulit Ditemukan

Ternyata Ini Alasan Vaksin Virus Corona Sulit Ditemukan

INDOZONE.ID - Virus corona masih menjadi mimpi buruk bagi masyarakat dunia. Aih-alih melemah, virus corona kini menginfeksi banyak orang, tercatat 6.607.919 kasus di dunia. Virus yang dianggap masih misterius ini juga menyebabkan 388.577 kematian.

Peneliti dari berbagai negara beramai-ramai melakukan riset demi menemukan vaksin virus corona. Sayangnya, hingga kini kabar baik tersebut belum terdengar.

Menurut perkiraan peneliti dari Italia, vaksin virus corona akan sulit ditemukan dalam waktu dekat. Indozone lansir dari The New York Post, Kamis (4/6/2020), dia menyebutkan salah satu alasannya yaitu Covid-19 selalu bermutasi.

Claudio Colosio Unimi Profesor, Departemen Ilmu Kesehatan Universitas Milan, Italia, menyebutkan, "tidak mungkin untuk mengembangkan vaksin untuk Covid-19 dalam waktu dekat. RNA virusnya berubah sangat cepat dan ini sulit untuk membuat vaksin yang tepat."

Ilustrasi sample virus corona digunakan untuk penelitian.(freepik)Ilustrasi sample virus corona digunakan untuk penelitian.(freepik)

Virus Corona Bermutasi

Hal serupa juga dilakukan peneliti di Inggris, penasaran melakukan sebuah studi baru. Mereka membandingkan Covid-19 saat ini dengan virus awal yang menyebar di Wuhan Tiongkok pada akhir 2019. Penelitian dilakukan terhadap sampel analisis genetik di lebih dari dari 7.500 orang yang terinfeksi virus corona.

Studi oleh para ilmuwan di University College London (UCL) menemukan virus corona yang saat ini menyebar ternyata telah bermutasi. Dari penelitian tersebut diketahui hampir 200 mutasi genetik dari SARS-CoV-2 (nama ilmiah virus corona).

Francois Balloux, profesor UCL yang dalam penelitian, mengatakan, "hasil menunjukkan bahwa proporsi besar dari keragaman genetik global SARS-CoV-2 ditemukan di semua negara yang paling sulit terkena", diwartakan USA Today, baru-baru ini.

"Semua virus secara alami bermutasi. Mutasi dalam diri mereka bukanlah hal yang buruk. Sejauh ini, kita belum bisa mengatakan apakah SARS-CoV-2 jadi lebih mematikan dan menular dibandingkan sebelumnya."

Artikel Menarik Lainnya:


Sumber: indozone.id
0
0 none
Re-Kwik
Bagikan
Komentar