Indozone ID Menulis artikel
@indozone

7 Sutradara Film Terbaik Indonesia, Toreh Prestasi Gemilang!

7 Sutradara Film Terbaik Indonesia Toreh Prestasi Gemilang

INDOZONE.ID - Di balik kesuksesan film, tentu tidak terlepas dari peran seorang sutradara sebagai pengarah agar cerita film menjadi lebih menarik.

Bicara tentang sutradara, di Tanah Air ada sejumlah nama sineas yang mendapat predikat sebagai sutradara film terbaik Indonesia.

Karya-karya film hasil garapan mereka tidak kalah hebat dengan film asing yang sering bertengger di bioskop.

Inilah Sutradara Film Terbaik Indonesia

Bahkan, para sutradara Indonesia ini telah membuktikan kualitas karyanya dengan mampu bersaing dan menoreh prestasi hingga kancah internasional.

Siapa saja mereka?

Dirangkum Indozone, berikut ini sejumlah nama sutradara film terbaik Indonesia yang sukses mendunia:

1. Riri Riza

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Riri Riza (@rizariri) on Mar 12, 2020 at 6:05am PDT

Bisa dibilang, Riri Riza menjadi salah satu pelopor bangkitnya perfilman Indonesia tahun 2000-an, di tengah dominasi film Hollywood ketika itu.

Sutradara dengan nama lengkap Mohammad Rivai Riza memulai debutnya sebagai sutradara dalam film Kuldesak tahun 1998.

Lulusan SMA Labschool Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sering berkolaborasi dengan sahabatnya, Mira Lesmana dalam pembuatan film-filmnya.

Riri Riza telah 4 kali dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik yakni pada 2004, 2005, 2014, dan 2016, dan memenangkannya pada tahun 2016 melalui karyanya berjudul 'Athirah'.

Selain itu, Riri juga selalu masuk nominasi Penulis Skenario/Skenario Adaptasi Terbaik di setiap film di mana dia dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik itu.

Beberapa karya film garapan Riri Riza, seperti Petualangan Sherina (2000), Gie (2005), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009), Sokola Rimba (2013), Kulari ke Pantai (2018), Bebas (2019).

2. Mira Lesmana

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Mira Lesmana (@mirles) on May 26, 2019 at 2:53am PDT

Mira Lesmanawati adalah seorang produser dan sutradara film Indonesia. Ia termasuk tokoh sineas yang 'menghidupkan kembali' perfilman Indonesia pada tahun 2000-an.

Mira merupakan putri dari tokoh jazz Indonesia, Jack Lesmana dan penyanyi senior Indonesia tahun 1960-an berdarah Jawa, Nien Lesmana.

Sudah banyak film garapan perempuan kelahiran 8 Agustus 1964 ini yang sukses dan sangat menginspirasi banyak orang. 

Di antaranya, Kuldesak (1998), Ada Apa dengan Cinta (2002), Gie (2005), Garasi (2006), dan Pendekar Tongkat Emas (2014).

3. Nia Dinata

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Nia Dinata (@ibunia) on Oct 27, 2019 at 8:37pm PDT

Perempuan berdarah Sunda dan Minang ini adalah cucu dari pahlawan nasional Otto Iskandardinata dan putri dari Dicky Iskandardinata.

Selain berparas rupawan, perempuan kelahiran 4 Maret 1969 ini dikenal sebagai produser dan sutradara terbaik Indonesia untuk genre film komedi romantis.

Beberapa karya-karyanya seperti Cau Bau Kan (2002), Arisan (2003), Janji Joni (2005),  Berbagi Suami (2006), dan Ini Kisah Tiga Dara (2016).

Dengan karyanya, Nia telah meraih sejumlah penghargaan yakni Citra Award for Best Film 2014, Best Director MTV Indonesia Movie Awards 2014, dan Best Feature Hawaii International Film Festival 2006.

4. Mouly Surya

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Mouly Surya (@moulysurya) on Dec 2, 2019 at 1:24am PST

Tidak hanya sebagai sutradara, Nursita Mouly Surya juga dikenal sebagai salah satu penulis skenario film terbaik Indonesia.

Mouly pernah memenangkan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dan Penulis kenario Terbaik pada tahun 2008 untuk film 'Fiksi'.

Perempuan kelahiran 10 September 1980 ini juga meraih penghargaan bergengsi di Tokyo Filmex International Film Festival 2017 untuk karyanya berjudul 'Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak'.

5. Upi Novianto

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Upi (@upirocks) on May 31, 2018 at 11:38am PDT

Salah satu sutradara wanita Indonesia berbakat dengan prestasi gemilang adalah Upi Novianto. Selain sebagai sutradara, Upi juga menulis skenario film.

Dia pernah meraih penghargaan sebagai Penulis Skenario Terbaik dalam Festival Film Bandung tahun 2016, Piala Citra 2013, dan Piala Maya sebagai Skenario Asli Terpilih 2017.

Beberapa karya Upi di antaranya, Radit dan Jani (2008), Serigala Terakhir (2009), My Stupid Boss (2016), Surat Kecil Untuk Tuhan (2017), My Generation (2017), Teman Tapi Menikah (2018), Hit and Run (2019), My Stupid Boss 2 (2019).

6. Joko Anwar

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Joko Anwar (@jokoanwar) on Dec 16, 2019 at 9:46pm PST

Film 'Arisan!' (2003) dan 'Janji Joni' (2005) ternyata sukses melejitkan nama Joko Anwar sebagai sutradara dan penulis skenario film yang layak diperhitungkan.

Belakangan, nama Joko Anwar lebih dikenal dengan deretan film horor garapannya yang selalu menarik perhatian publik.

Tahun 2017 misalnya, Joko menggarap film horor 'Pengabdi Setan' yang merupakan remake dari film berjudul sama tahun 80-an.

Dalam waktu 24 hari saja, Pengabdi Setan mampu menembus angka 3 juta penonton. Tentunya, ini menjadi prestasi untuk film horor Indonesia sekaligus bagi Joko Anwar sendiri.

Di tahun yang sama, Pengabdi Setan berhasil membawa pulang 7 penghargaan Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia (FFI).

Sebelum itu, Joko Anwar juga menoreh prestasi sebagai Sutradara Terbaik tahun 2015 lewat filmnya berjudul 'A Copy of Mind'.

Selain Pengabdi Setan dan A Copy of Mind, karya-karya Joko Anwar lainnya seperti Modus Anomali (2012), Gundala (2019), dan Perempuan Tanah Jahanam (2019).

7. Hanung Bramantyo

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Hanung Bramantyo (@hanungbramantyo) on Jul 31, 2019 at 10:02pm PDT

Dalam dunia perfilman, nama Hanung Bramantyo tentunya sudah sangat dikenal. Pria lulusan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakara (IKJ) ini adalah salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Indonesia.

Pada Festival Film Indonesia (FFI) 2005, ia terpilih sebagai Sutradara Terbaik lewat film arahannya berjudul 'Brownies'.

Ia juga dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik untuk film cerita lepas 'Sayekti dan Hanafi', namun kalah oleh Guntur Soehardjanto.

Menyusul dua tahun kemudian, tepatnya di ajang FFI 2007, Hanung Bramantyo kembali menyabet penghargaan Sutradara Terbaik lewat filmnya 'Get Married'. 

Meski tak segemilang tahun-tahun sebelumnya, nama Hanung Bramantyo masih sering terdengar dalam beberapa film layar lebar Indonesia hingga hari ini.

Adapun beberapa karya terbaiknya, antara lain Jomblo (2006), Ayat-Ayat Cinta (2008), Doa yang Mengancam (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009), Sang Pencerah (2009), Kartini (2017), dan Habibie & Ainun 3 (2019).

Artikel Menarik Lainnya:

Sumber: indozone.id
0
0 none
Komentar