Telah Selesai
3.2k Disukai
11.1k Dibaca

Surel Thawiyyah

Penulis : Daud Farma
Favorit
Gratis
QR Code
Bagikan
Blurb
Tha dan Wiy adalah kisah cinta yang memilikun! Wiy seorang perempuan tulus dan setia yang telah sangat lama sekali menunggu kekasihnya untuk bertamu ke rumahnya dan menikahnya. Mereka menjalani cinta dengan jarak jauh. Tha berasal dari kampung Segenap yang berseberangan sungai dengan kampung Sepakat yaitu kampungnya Wiy. Pada usi Tha yang ke 16 dan Wiy 18 sudah jadian, pacaran. Namun baru enam bulan jadian, Tha merantau ke Jogja, bekerja di salah satu penerbit sebagai editor dan ia jugalah penulis. Setelah itu tidak ada lagi bertemu antara Tha dan Wiy. Hingga sekian tahun pun berlalu, Tha menikah dengan sahabat Wiy dan tinggal di Jogja sampai tua. Sementara Wiy tidak mau menikah, ia memutuskan jadi lajang seumur hidupnya. Hingga di usia Wiy yang ke 64 tahun, anak tunggal Tha yang bernama Dewi datang mencari perempuan yang bernama Wiy di Aceh Tenggara kecamatan Tanoh Alas. Setelah membuka pintu pada anak tunggal Tha, Wiy pun berkata: "44 tahun, 4 bulan 2 minggu 4 hari 12 jam sudah lamanya aku menunggu kedatanganmu Nak. Sudah kutahu kamulah tamuku yang akan datang mengetuk pintuku, sebab ayah dan ibumu telah meninggal bahkan tidak sempat datang bertamu." Dan tidak lupa pula Wiy menasihati anak Tha yang sudah jadi anaknya juga:
"Nak Dewi, jangan biasakan menunggu, nanti kamu ketagihan. Tidak baik. Jangan ikuti ibu, Nak. Menikahlah dengan yang datang tepat waktu, dia jugalah baik untukmu. Pandang akhlak dan taqwanya, niscaya hidupmu bahagia."
***



Kali ini aku mencoba bercerita dengan gaya yang berbeda dengan penulis lainnya. Thawiyyah adalah kumpulan surel (suret elektronik) antara Tha (laki-laki) dan Wiy (perempuan) yang menjalin cinta jarak jauh. Ini adalah naskah novel saya yang ketiga setelah: Menjemput Cinta, yang diterbitkan oleh penerbit indie: Rumah Kayu Publishng House Padang. Dan kedua: Pengantin, yang masih dalam pengajuan untuk diterbitkan. Kali ini aku ingin mengarang cerita yang bisa dibilang mirip Qois dan Laila karya Nijami, novel terjemahan yang berjudul Laila Majnun walau pun memang masih jauh. Tetapi di dalam nashkah Thawiyyah juga ada ruh, sehingga saat membacanya pembaca akan merasa baper, mengenai hati dan jiwa. Ini adalah kisah cinta antara dua suku: Alas dan Gayo di Aceh Tenggara. Semoga dengan diterbitkannya cerita Thawiyyah ini, bisa merubah ideologi buruk yang selama ini diamalkan turun-temurun oleh orang Alas. Ideologi tersebut ialah: Semacik-semacik ne ate Khang Alas, edime semende-mende ate Khang Gayo." Yang artinya: Seburuk-buruk hatinya orang Alas, itulah sebaik-baik hatinya orang Gayo. Anak dan cucu orang Alas tidak jarang mendengar ungkapan itu dari tetuanya, bahkan samapi melarang menikah dengan orang Gayo. Yang padahal satu sama lain sama saja, dua suku ada baik dan buruknya. Sudah saatnya menilai secara netral. Dan naskah ini sudah pernah aku post di fanpage pribadiku: Cinta Kamu Seorang Penulis, dan banyak yang baca, suka serta membagikannya, banyak juga yang mengirimi saya pesan lewat halaman agar saya mengirimkannya ke penerbit untuk diterbitkan, agar banyak yang baca dan saat membacanya di buku lebih nyaman dibanding di layar handphone. Thawiyyah memang kisah cinta remaja sampai tua, tetapi tidak terlepas dari pesan dan nasihat untuk generasi muda. Selesai membaca cerita ini, banyak juga yang mengaku menangis, baper apalagi, sedih gembira dan tawa, juga menginspirasi sebab Wiy adalah perempuan yang sungguh-singguh belajar memasak dan tangguh dalam penantian selama 44 tahun lamanya! Terakhir, naskah Thawiyyah ini banyak sekali diminati oleh pembaca saya di fan page saya: Cinta Kamu Seorang penulis! Banyak yang likes, shares and comment. Dan mereka menginginkan naskah ini terbit.
Sekilas info:
Sekadar info saja, naskah "Thawiyyah" ini adalah naskah saya yang ketiga. Asdapun naskah saya yang pertama "Menjemput Cinta" juga novel yang bergendre religi yang diterbitkan oleh penerbit indie: Rumahkayu Publishing House, kota Padang. Karya cerpen-cerpen saya sudah belasan kali dibacakan di Voice Of Indonesia (voirri) Bilik Sastra khusus siaran Luar Negeri yang bertempat di Jakarta. Salah seorang narasumbernya adalah Bunda Pipiet Senja. Juga sudah pernah dibukkan dua naskah cerpen saya yang terpilih dengan judul buku: Ayah, edisi terbitan VOI jilid 6.
Cerpenku yang berjudul "Happy Birth Day Our Queen" dimuat di buletin Informatika Kairo, buletinnya Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir). Begitu pun dengan cerita mini (cermin) karyaku yang berjudul: Rahasia Kecil Sebatang Pohon Kurma, terpilih dalam 50 kategori naskah terbaik dalam lomba cermin se-afrika dan timur tengah yang diadakan PPI Hadhramaut, Yaman.

Sekian dan Terima Kasih.
Tertanda:
Muhammad Daud Farma, selaku penulis naskah.
Tokoh Utama
Tha
Wiy
Rekomendasi