Temui Aku di Tepi Sungai Thu Bon

“Setelah senja, temui aku di tepi sungai Thu Bon.”

Taksi yang kutumpangi memasuki kota kuno Hoi’An. Sebuah kota kecil di Vietnam Tengah. Hal-hal kuno selalu menjadi tujuanku saat backpacking. Satria sangat tahu itu. Tetapi aku tidak tahu mengapa ia mengajakku bertemu setelah mencampakkanku.

““Aku tahu kamu akan datang,” suara berat Satria menyambutku di tepi sungai Thu Bon saat aku berdiri memandangi kerlip lampion yang menghiasi kota kuno.

Aku menoleh mencari datangnya suara. Satria berdiri memandangku sambil tersenyum tenang. Wajahnya agak pucat diterpa cahaya lampion, rambutnya semakin gondrong, tetapi tidak mengurangi ketampanannya.

“Ikut aku,” katanya mengulurkan tangan.

Seperti terhipnotis, aku menerima uluran tangannya. Telapak tangan Satria terasa dingin meskipun udara di sekeliling kami panas. Sebuah perahu kosong berhias lampion menunggu di tepi sungai. Kami naik ke atas perahu.

 “Kenapa kamu ingin bertemu aku?”

“Ini tempat yang aku rencanakan untuk bulan madu denganmu.”

“Kamu lupa kita sudah putus?” tanyaku sambil memandang kejauhan. Tampak seorang wanita tua penjual lilin dikerumuni pembeli. Beberapa orang melarung lilin-lilin itu ke sungai sambil komat-kamit. Sungai menyala dengan lilin yang mengalir bersama air.

“Aku beberapa kali melarung lilin-lilin itu untukmu,” kata Satria.

Aku diam.

“Orang-orang melarung lilin itu sambil berdoa. Aku berdoa agar dipertemukan denganmu di sini.”

“Kamu campakkan aku, lalu sekarang kamu bikin kisah dramatis.”

“Kamu mau tidak melarung lilin untukku?” pintanya.

Aku menggeleng. “Tolong kita kembali sekarang. Di sini dingin.”

Satria tidak menjawab, tetapi ia mendayung perahu ke tepian. Saat tiba ditepian, ia memintaku menunggu di Hoi’An kafe, meja nomor tujuh.

Hello…can I help you?” sapa seorang lelaki berwajah lokal saat aku mendekati meja nomor tujuh. Dari sikap pelayan kafe padanya, aku menyimpulkan dia pemilik kafe ini.

“I have reservation.”

“Name?”

“Satria Permana.”

“Kamu Andin? Siapa yang mengirimimu kabar?” tanyanya membuatku kaget. Bagaimana dia bisa tahu namaku? Aku bukan backpacker terkenal.

“Aku Ryan, sahabatnya Satria.”

“Bahasa Indonesiamu bagus,” sahut Andini.

“Ya, Satria mengajari aku. Oh ya, Satria selalu ingin kamu ke sini.”

“Kami baru saja naik perahu di sungai.”

Ryan bingung. “Kamu ketemu Satria?”

Aku mengangguk. Wajah Ryan tampak memucat. Lalu ia pamit ke dalam untuk mengambil sesuatu. Saat kembali ia menyodorkan kotak kecil bersampul beludru merah hati.

“Andin, ini dititipkan Satria padaku. Ia… meninggal saat pendakian Himalaya.”

Aku terkejut. Tidak sanggup mencerna kata-kata Ryan.

“Satria divonis kanker. Ia hanya memiliki waktu tiga bulan. Sebelum usianya habis, ia ingin mendaki Himalaya.”

Air mataku meleleh. Aku membuka kotak beludru merah hati itu. Tampak sebuah cincin yang cantik berada di dalamnya. Dadaku begitu sakit saat bangkit dan berjalan ke tepi sungai. Ryan memegangi lenganku. Di tepi sungai aku membeli lilin dari wanita tua lalu menyalakannya. Aku melarung lilin itu ke sungai sambil berdoa. Air mataku mengalir deras dan bahuku terguncang hebat.

Satria, aku akan selalu membawamu dalam setiap doaku. Sampai kapanpun. 

***

 

7 disukai 1 komentar 702 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
romansa sekali judulnya kak,
Saran Flash Fiction