Pleidoi Sang Buaya

Aku Buaya. Manusia yang buat namaku tercela. Menganggapku bahaya. Buatku tak dipercaya.

Bermula dari manusia-manusia kecil yang didoktrin dengan kisah picisan “Kancil dan Buaya”, tanpa aku diberi hak jawab cerita. Padahal itu hanya jasa kami para Buaya untuk menolong makhluk kecil seperti Kancil. Merelakan tubuh kami sebagai pijakan agar Kancil bisa menyeberangi sungai yang berbahaya. Jadi, jika itu diartikan sebagai cendekia Kancil, aku cuma bisa senyum kecil.

Ini diperparah lagi dengan tenarnya lagu “Lelaki Buaya Darat” ciptaan Maia Estianty, melengkapi penderitaanku atas salah sangka arti nama. William Shakespeare boleh saja bilang, “Apalah arti sebuah nama?”. Aku berani bertaruh, pujangga itu tak akan punya cukup nyali untuk berganti nama jadi Buaya Shakespeare.

Sebagai pembelaan atas nama Buaya. Tidakkah manusia-manusia itu pernah tahu? Ada penelitian yang menyimpulkan, aku adalah binatang monogami. Akh, budaya membaca memang masih jadi masalah. Kalian lebih suka bertukar kabar aib orang lain daripada mengisi kepala dengan ilmu yang berguna.

Lagipula tahukah Kalian? Suku Betawi membawa hantaran Roti Buaya untuk upacara pernikahan.   Leluhur Betawi belum cukup gila, membawa Buaya sebagai perlambang keluarga Bahagia, jika hewan itu dikenal  tukang selingkuh bukan? Apakah itu tidak bisa jadi pertanda?

Akhir kata. Aku buaya. Tak suka memperdaya. Binatang monogami, yang bersetia dengan satu istri. Tapi entah kibul dari mana? Jenis manusia yang suka main perempuan, diserupakan dengan aku punya nama?!!

Aku Buaya. Jadi jangan salahkan, jika ejekan terburuk di antara kaumku adalah: “DASAR MANUSIA!..”

 

44 disukai 17 komentar 6K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Hehehe senang bisa bikin ketawa mas Tejo..
Saya tertawa membacanya, Bang
@faridapane Hahaha nggaklah, udah resiko itu.. :p
otokritik yang manis...
hahaha... nama akun abang kan, buaya. marah enggak kalau dikatai, " dasar manusia!"?
Hmmmm...
Keterampilan copy writingnya muncul di sini. Hati-hati kaum Hawa...
wkwkwkw
dasaaarrr..
Fuyyooooo
Saran Flash Fiction