PEMUTAR MUSIK

Seorang wanita bermata cokelat itu terlihat sangat resah. Dia sedang menunggu seorang pemuda yang sudah berjanji akan menemuinya di kafe ini. Segelas ice blended chcholate tersaji di atas mejanya. Berkali-kali wanita itu melirik arlojinya, sudah lebih dari sepuluh menit lelaki yang ditunggunya belum juga datang.

“Halo, Niko, kamu di mana sih?” seru wanita itu dengan suara kesal. “Aku sudah nunggu kamu di sini, kapan sampainya?”

“Dua puluh menit lagi aku sampai,” jawab lelaki bernama Niko di ujung telepon. “Biasa, kejebak macet.”

“Alasan!” dengus wanita itu ketus. “Kalau lima menit lagi belum sampai, aku mau pulang. Percuma nunggu tukang ngibul kayak kamu.”

“Aku nggak bohong, Nita,” jawab Niko. “Aku benar-benar kejebak macet, mobilku nggak bisa jalan sama sekali.”

“Banyak alasan!” wanita bernama Nita itu tampak sebal. “Kalau tahu begini mending aku nggak usah datang. Lagian kamu yang ngajak ketemuan, harusnya kamu datang lebih awal. Bukan malah membuatku menunggu seperti ini.”

“Aku kan sudah minta maaf, Nita,” jawab Niko sabar. “Habis ngantar ibu dulu ke puskesmas.”

“Alasan basi. Pokoknya kalau lima menit lagi belum sampai, aku mau pulang.”

“Oke, lima menit lagi aku sampai.” Niko yang saat itu sedang berada di tengah kemacetan segera menepikan mobilnya di depan sebuah toko, dia memutuskan untuk berlari menuju kafe itu. Niko tidak ingin wanita yang dicintainya menunggu terlalu lama. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Didekapnya dengan erat sesuatu yang ia sembunyikan di balik kemejanya.

Dengan keringat bercucuran dan napas memburu, akhirnya Niko sampai di kafe itu. “Maafin aku, Nita.”

“Lama banget sih,” kata Nita ketus. “Kamu mau ngomong apa?”

Niko mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, dan ternyata itu adalah pemutar musik dengan boneka kecil yang sedang menari. “Aku sudah lama mencintaimu, Nita, maukah kamu menikah denganku?”

“Apaan sih?” Nita tampak jijik melihat pemutar musik itu. “Jadi aku nunggu lama cuma mau dikasih beginian?”

“Yang penting maknanya,” kata Niko lagi. “Ini hanya simbol, rasa cintaku lebih dari apa pun.”

“Sampah.” Nita mengambil pemutar musik itu dan melemparnya ke jalan. Niko yang melihat kejadian itu bergegas mengambil pemutar musik itu, dan tanpa pernah diduga-duga, sebuah mobil melaju cepat ke arahnya.

“NIKO!” Jerit Nita berlari ke arah Niko yang berlumuran darah. “Niko, bertahanlah… aku minta maaf.”

“Aku mencintaimu, Nita,” Niko menyerahkan pemutar musik yang telah berlumuran darah. Ditekannya sebuah tombol di sisi pemutar musik itu dan keluarlah sebuah cincin berlian. “Maukah kamu menikah denganku?”

Rasa sesal terlihat sangat jelas di mata Nita, wanita itu berkali-kali menyeka air matanya. “Niko… aku—”

Sebelum Nita menjawab pernyataan Niko, tiba-tiba saja semuanya berubah gelap. “Sial!” kataku sebal. “Mati lampu lagi, padahal sinetron ini lagi seru-serunya.”

9 disukai 7 komentar 1.4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Sial! Aku pengen tahu endingnya 😂😂
Sinetron dalam cerita 😅
Wkwkwkwkw
Akhirnya aku bisa lega berkomentar: Sinetron bangeeettt... 😅
😂😂ternyata lagi nonton sinetron
Ikatan Batin, Kak
Lagi nonton sinetron apaan wkwk
Saran Flash Fiction