Aku mengantarmu sore kemarin ke bandara. Gerimis tak berhenti sejak malam.
Kamu mengajakku jalan-jalan menyusuri kafe di riverbank bantaran Krueng Aceh yang hangat, singgah menyesap Vanilla Latte sambil menikmati gerimis dan gemericik alun sungai di bawahnya.
Besok kamu berangkat ke Jepang, membawa hatiku. Aku kira kamu akan menjadi teman baikku saja, tapi ternyata hatiku, dan kamu memintanya lebih.
"Aku akan di sana, mungkin tidak sebentar. Tapi hatiku akan tetap tinggal di sini bersamamu."
"Kamu yakin?" Aku bertanya ragu.
Kamu mengangguk dengan mata berbinar. "Aku akan sibuk, hanya memikirkan pekerjaan, kuliah, dan kamu, selainnya tidak."
Aku mengiyakan saja, mengangguk meskipun hatiku berisik. Aku tahu kamu sedih, selalu saja bisa menyembunyikan hatimu di depanku. Aku tahu kamu menangis di gateway pintu keberangkatan, menjelang pintu kaca itu tertutup. Tapi aku tidak bisa menahanmu melanjutkan Ph.d.-mu di Kyoto University seperti cita-citamu sejak dulu.
"Aku di sini juga akan menyibukkan diri, bekerja. Mengajar tentu saja akan melarutkan banyak waktuku, begitu juga dengan novel-novel yang harus aku selesaikan seperti janjiku kepadamu."
"Aku tunggu setiap bulan, novel barumu," begitu pintamu saat aku menggenggam tanganmu terakhir kali di bandara.
Genggaman hangat itu lebih terasa seperti perpisahan.
***
Aku sekarang duduk di riverbank bantaran Krueng Aceh lagi, yang alirannya menuju muara, lalu ke laut tempat Selat Malaka yang jauh menyimpanmu. Pesawatmu tak pernah sampai ke Narita, hanya singgah di Malaka sebelum membawa pergi semuanya tentang kita.
Aku akan selalu menunggumu di sini, sambil menyesap Vanilla Latte kesukaanmu, memandangi senyummu di tepi kali yang muaranya bukan di Selat Malaka, tapi di hatiku yang akan selalu mengingatmu.